Minggu 13 Oktober 2019, 12:00 WIB

Jumlah Kasus Trafficking di Cianjur Menurun

Benny Bastiandy | Nusantara
Jumlah Kasus Trafficking di Cianjur Menurun

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Sejumlah barang bukti dihadirkan saat rilis pengungkapan kasus perdagangan orang di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (9/10/2019)

 

JUMLAH kasus perdagangan manusia (human trafficking) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tahun ini trennya terpantau menurun dibanding tahun lalu. Hingga awal Oktober, jumlah perdagangan orang sekitar 5 kasus. Jumlahnya menurun drastis dibanding tahun lalu yang mencapai lebih dari 22 kasus.

"Kalau melihat perbandingan data, jumlah kasus human trafficking tahun ini di Kabupaten Cianjur cenderung turun dibanding tahun lalu. Hingga Agustus 2018, jumlahnya sekitar 22 kasus. Sekarang, tahun ini hingga Oktober baru terdata 5 kasus. Jumlahnya sangat jauh sekali," kata Kepala Bidang Advokasi dan Penanganan Perkara Pusat Pelayanan Terpadu dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar, Minggu (13/10).

Dari lima kasus human trafficking, lanjut Lidya, korbannya mayoritas anak-anak. Jumlahnya empat orang dan dewasa 1 orang.

"Meskipun tren jumlah kasusnya cenderung turun, bukan berarti upaya-upaya preventif tak dilakukan. Dari penanganan, kami tetap lakukan upaya-upaya preventif dan preemtif. Penanganannya disesuaikan dengan tupoksi. P2TP2A sebagai lembaga pemberi pelayanan, tentunya memberikan pelayanan-pelayanan maksimal kepada korban," jelasnya.

Baca juga: Polri Ungkap Kasus Human Trafficking Berkedok Kuliah

Para pelaku perdagangan orang melakukan berbagai modus untuk melancarkan aksi mereka. Termasuk menjual orang ke luar negeri dengan alasan sebagai buruh migran.

"Meskipun moratorium TKI ke sejumlah negara di Timur Tengah masih diberlakukan, pada praktiknya masih terjadi pemberangkatan. Trafficking ke luar negeri itu bermodus buruh migran," tandas Lidya.

Di sisi lain, D alias Wildan diamankan Polres Cianjur. Remaja berusia 18 tahun itu diduga melakukan tindakan asusila terhadap sejumlah anak di bawah umur.

Pelaku sempat jadi bulan-bulanan warga. Pelaku melakukan aksinya di sebuah rumah kontrakan di Gang Perjuangan, Kampung Lemah Duhur RT 03/19 Kelurahan Muka, Kecamatan/Kabupaten Cianjur.

Kabarnya, pelaku sempat menyekap dan menganiaya salah seorang korban. Kepada setiap korbannya, pelaku akan mengajari ilmu-ilmu spiritual dan kebatinan, bahkan bisa untuk memikat perempuan.

"Korbannya yang masih anak-anak dalam keadaan tertekan karena selalu diancam pelaku akan dikirim penyakit melalui ilmu spiritual," kata warga Kampung Lemah Duhur, Dede 34.

Sepengetahuan Dede, korban pelecehan seksual yang dilakukan pelaku berjumlah delapan orang. Orangtua korban dan warga mendesak pihak kepolisian untuk menghukum pelaku dengan seberat-beratnya. Apalagi beberapa orang korban mulai menunjukan gejala psikologis, seperti trauma.

"Hukum berat pelaku supaya ada efek jera dan tidak ada korban lagi," imbuh Dede.

Kasatreskrim Polres Cianjur, Ajun Komisaris Budi Nuryanto, mengatakan pelaku sudah diamankan di Mapolres Cianjur pada Kamis (10/10) malam. Saat ini, sedang didalami kasus tersebut dan memintai keterangan para korban.

"Untuk jumlah korban dan di mana saja lokasinya, masih kami dalami," tandas Budi.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More