Sabtu 12 Oktober 2019, 05:10 WIB

Pertolongan Pertama agar Jiwa tidak Ambyar

Fetry Wuryasti | Weekend
Pertolongan Pertama agar Jiwa tidak Ambyar

FREEPIK
ilustrasi

Anthony Bourdain, Chriss Cornell, Chester Bennington, Avicii, Jong-hyun, ialah sederet nama tenar yang bergelut dengan kesehatan mental.

Oktober merupakan bulan momentum Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (World Mental Health Day). Tepatnya, 10 Oktober.

Di Indonesia, isu kesehatan jiwa dan mental belum menjadi suatu topik yang lazim dibicarakan. Barangkali karena ada stigma yang melekat, bahwa mental yang sakit, identik dengan gila. Padahal, seperti tubuh, mental dan jiwa pun ada kalanya jatuh sakit. Seperti tubuh pula, ia bisa sembuh dengan perawatan.

Dengan stigma itu, tidak jarang orang-orang pada akhirnya tidak sadar, tidak paham, atau tidak mengakui, bahwa kondisi mental mereka tengah sakit. Ujung-ujungnya, depresi terlanjur menjerat.

Di era digital, pertolongan pertama untuk mencegah dan mendeteksi gejala, tingkat kecemasan, dan depresi diri sendiri maupun orang lain kini telah bisa diakses melalui berbagai aplikasi pintar. Aplikasi-aplikasi tersebut juga memberi kemudahan bagi orang-orang yang masih enggan memeriksakan diri dengan tatap muka langsung, atau yang justru kesulitan untuk mendapatkan akses terapi.

Media Indonesia mencoba beberapa aplikasi yang tersedia di PlayStore, antara lain Moodtools, SAMapp, Mindshift, Reach Out, dan satu aplikasi buatan anak-anak Surabaya yaitu Riliv.

Psikolog Klinis dan Forensik Kasandra Putranto mengatakan aplikasi-aplikasi tersebut umumnya berfungsi sebatas deteksi. Meski begitu, keberadaan sejumlah aplikasi itu bukannya sama sekali tak membantu.

"Moodtools (setelah dicek), cukup bagus ada karena ada daily record. Untuk Riliv, cukup baik ada meditasi dan ada layanan chat. Hanya mungkin teknis kurang mendukung ya. Pada dasarnya, cukup membantu. Namun, demikian tidak bisa menggantikan kelebihan one on one dan face to face counseling. Walaupun sering sulit mengatur jadwal dan perlu mengeluarkan tenaga untuk berangkat ke ruang konseling," paparnya.

Ia menilai, benefit aplikasi bagi penyandang gangguan kesehatan mental dapat dirasakan lebih konkret jika bisa memberikan layanan lebih dari deteksi dan dilakukan orang dengan kompetensi sesuai, dilengkapi sertifikasi yang tepat.

Sementara itu, dokter spesialis kesehatan jiwa, Andri, berpendapat ketika seseorang merasa tidak bersemangat, tidak bergairah, ada rasa putus asa dan sedih tiba-tiba, orang tersebut sah-sah saja skrining awal dengan aplikasi.

Namun, bila analisis aplikasi menunjukkan indikator potensi depresi, menurutnya, jangan pula langsung diyakini. Sebaiknya, segera menghubungi ahli, dalam hal ini psikolog atau dokter jiwa.

Lebih lanjut, ia mengatakan, diagnosis klinis harus tetap melalui sesi tatap muka, demikian pula dengan peresepan obat dan terapi. Hal itu karena ada keterbatasan pemeriksaan jika hanya via chat.

"Bahkan, saya sebagai Youtuber, belum tentu akan melayani pertanyaan spesifik terkait obat. Saya hanya akan menjawab berdasarkan teori karena dampak kita memberikan jawaban itu bisa berbeda diterima orang itu dengan membaca dan membicarakannya secara langsung. Kalau sebatas membantu curhat, online chat mungkin tidak apa," jelasnya.(M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More