Jumat 11 Oktober 2019, 18:15 WIB

Bisnis Co-Living, Prospek Menggiurkan Bagi Investor

Ghani Nurcahyadi | Ekonomi
Bisnis Co-Living, Prospek Menggiurkan Bagi Investor

AFP/Daniel-Leal-Olivas
Salah satu hunian Co-Living di London, Inggris

 

KONSEP hunian dengan fasilitas komprehensif, harga terjangkau, dan lokasi strategis, seperti co-living semakin banyak diminati masyarakat urban. Namun saat ini belum banyak pengembang atau pengelola yang membuat konsep properti seperti co-living.

Senior Associate Director Colliers International Ferry Salanto mengungkapkan konsep ini mirip seperti kos-kosan dimana fasilitas umum dapat dipakai bersama. Dan peluang ini dapat dimanfaatkan oleh para pengembang dan pengelola dalam mengembangkan bisnisnya.

“Kebutuhan orang untuk sewa hunian yang terjangkau dan lokasi strategis masih sangat besar, sementara pasokannya belum banyak. Saya lihat potensi ini cukup baik bagi pengembang dan pengelola yang ingin bermain dibisnis ini,” terang Ferry.

Hal itu dapat dilihat dari jumlah pekerja kelas menengah yang tinggal di tengah kota belum banyak. Sebab kebanyakan pemain apartemen/hunian sewa di tengah kota lebih diperuntukan bagi kelas memengah atas. Sehingga kelas menengah bawah lebih memilih hunian berupa kos-kosan.

Dan kos-kosan yang ada saat ini konsepnya pun belum sesuai harapan para pekerja. Dimana dari layanannya hanya begitu-gitu saja, dan tidak memiliki konsep yang jelas.

Baca juga : Kamar Keluarga Hunian Co-Living dengan Jaringan Terlengkap

“Dari sisi bangunan, ada pengelola yang mengklaim properti yang dikelolanya itu co-living, tapi konsepnya masih kayak apartemen biasa, belum ada sesuatu yang mencirikan kalau itu co-living,” bebernya.

Oleh karena itu, potensi dan peluang bisnis untuk menciptakan hunian co-living masih terbuka lebar. Pengembangan co-living opsinya bisa bermacam-macam, contohnya developer yang bangun, talu menjual ke investor untuk disewakan. Atau developer mendirikan satu bangunan untuk co-living lalu dikelolanya sendiri.

“Bisa juga bangunan co-living dibangun terus ditawarkan ke operator untuk pengelolaan. Potensi bisnisnya besar, dan bisnis co-living biasanya hidup dari penyewaan,” terang Ferry.

Tidak hanya itu, Ferry menjelaskan apabila ada konsep hunian seperti apartemen yang ukurannya bisa diperkecil dan dibentuk co-living dengan harga mendekati kos-kosan, akan banyak peminatnya. Hunian yang lebih rapih juga bonafit, bisa lebih laku dibandingkan kos-kosan biasa.

“Properti yang harus digerakkan itu yang bisa menjangkau end user dan bisa diterima soal harga, konsep dan lokasi seperti co-living ini. Investor bisa masuk ke segmen bisnis ini karena punya potensi yang sangat besar, dan pemainnya juga belum banyak,” tegasnya.

Salah satu pemain bisnis co-living dengan harga terjangkau yang ada saat ini adalah PT Hoppor International atau yang lebih dikenal dengan nama Kamar Keluarga.

CEO Kamar Keluarga Charles Kwok mengatakan pihaknya telah melihat potensi ini sejak beberapa tahun lalu. Ia melihat bahwa masyarakat yang menginginkan hunian dengan konsep co-living sangat besar.

Adapun konsep co-living dijalankan oleh Kamar Keluarga yakni yang memiliki ekosistem terpadu dengan jaringan yang luas, layanan lengkap, dan harga yang terjangkau. Saat ini kamar yang dimiliki Kamar Keluarga ada sebanyak 2.041 di 75 lokasi strategis dan gampang diakses oleh transportasi umum yang berada di Jabodetabek dan Bandung.

“Kami memanfaatkan teknologi berbasis web dan aplikasi untuk memberikan fasilitas dan pelayanan, sehingga seluruh kebutuhan end to end pelanggan dapat terpenuhi hanya dengan telepon genggam saja,” kata Charles.

Menurut Charles, ada lima pilar bisnis yang dikembangkan oleh Kamar Keluarga. Pertama, pilar BOT (build operate transfer). Di pilar ini, Kamar Keluarga membantu pemilik tanah membangun properti dan nantinya menggunakan sistem bagi hasil.

Baca juga : Hunian Co-living untuk Kaum Milenial

Pilar kedua yaitu Kamar Keluarga (KK) Aset. Dimana Kamar Keluarga membantu para investor pemula yang belum pernah berbisnis properti, dalam hal mencari, membangun dan mengelola properti hingga menghasilkan Return of Investment (RoI) yang memuaskan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sektor properti di Indonesia.

Lalu yang ketiga, Kamar Keluarga hanya menjadi Operator. Kamar Keluarga mengelola seluruh lahan yang sudah dijadikan kos dan menerapkan konsep co-living di kosan tersebut.

Pilar keempat, yaitu Kamar Keluarga Development yang ahli dalam membangun rumah minimalis, efektif dan efisien sehingga harga terjangkau dapat memanfaatkan lahan yang tersisa. Lahan sisa tersebut dapat dijadikan rumah minimalis atau bangunan lain guna mendorong para generasi milenial untuk memiliki properti pribadi di masa depan.

Dan pilar kelima yaitu Kamar Keluarga Vertikal. Memanfaatkan ruang yang ada untuk dijadikan bisnis baru, seperti binatu, warung, atau tempat makan.

“Lengkapnya konsep yang kami tawarkan itu membuat investor dapat memilih sesuai kebutuhannya. Dan itu yang membuat kami berkembang dengan cepat karena investor diuntungkan,” tutup Charles. (RO/OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More