Jumat 11 Oktober 2019, 13:39 WIB

Keberadaan Rotan Katingan Tergerus Oleh Sawit.

Surya Sriyanti | Nusantara
Keberadaan Rotan Katingan Tergerus Oleh Sawit.

Antara
Produksi rotan terus merosot tergerus kehadiran sawit.

 

KABUPATEN Katingan, Kalimantan Tengah merupakan sentra penghasil rotan. Tapi kini keberadaannya mulai terpuruk. Penyebabnya selain karena harganya yang tak kunjung membaik, masuknya perkebunan sawit juga menjadi penyebab rotan tak lagi menjadi primadona

"Bila tidak segera diatasi maka akan berubah fungsi menjadi kebun kelapa sawit," ujar Ronald Kepala Sub Bidang Ekonomi Bappeda Kabupaten Katingan pada wartawan di Palangka Raya, Jumat (11/10).

Dipaparkan Ronald, dengan terus terpuruknya harga rotan dan belum dibukanya kran ekspor rotan mentah, rotan setengah jadi membuat sejumlah petani rotan putus asa. Dan besar kemungkinan lahan selama ini ditanami rotan menjadi kebun kelapa sawit karena lebih menguntungkan.

"Kita berharap kepada pemerintah dalam hal ini Menteri Perdagangan untuk mau membuka kran ekspor rotan," ujarnya

Sejak dikeluarkannya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 35 tahun 2011 mengenai larangan ekspor rotan dalam bentuk mentah dan setengah jadi, harga rotan turun drastis hingga Rp2.200 per kilogram. Kondisi ini terjadi bertahun-tahun, hingga akhirnya pada Agustus 2019 harganya merambat naik menjadi Rp 3000/kg. Namun harga Rp.3000/kg ini jaluh lebih rendah bila dibandingkan 2011 sebelum keluarnya Peraturan Menteri Perdagangan itu. Saat itu harga rotan masih berkisar Rp7000-8.000/kg.

Dengan ditutupnya kran ekspor rotan setengah jadi berimbas pada turunnya harga rotan di Kabupaten Katingan.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Nurul Edy, Asisten II Pemprov Kalteng. Pemprov Kalteng sudah beberapa kali meminta untuk dibuka kran ekspor itu.

"Namun hingga saat ini tidak dibuka." Ujarnya.

Pihaknya baik Pemprov Kalteng dan Pemerintah Kabupaten Katingan sebagai penghasil rotan terbanyak sudah berusaha mengembangkan rotan menjadi bahan produk namun hasilnya tidak maksimal.

"Produk bahan rotan tidak laku dijual dan tidak berkembang padahal pemerintah sudah melakukan pelatihan baik di Kabupaten Katingan dan di Jawa Barat. Namun hasilnya tetap tidak baik," keluhnya.  

Pada kesempatan sama, Deputi Bank Indonesia Perwakilan Kalteng, Setian mengatakan bahwa pihaknya bersedia bersama-sama melakukan kajian mengapa harga rotan terpuruk.

"Kita (BI) akan sama-sama kaji masalah ini dan mencarikan solusi ke depan," ujar dia.

Setian mengusulkan sebaiknya produk rotan dihilirisasi daripada dijual dalam bentuk mentah.

"Padahal jika kita buat menjadi produk maka harga akan lebih mahal daripada produk mentah," kata Setian.

Bank Indonesia sudah memberikan bantuan kepada dua UMKM pembuat tas dari rotan. Hasil kerajinan dari Kalteng ini dibawa ke pameran yang diberi nama Kerajinan Kreatif Indonesia yang digelar setiap tahun.

baca juga: Partai NasDem masih Menunggu Hasil Survei Calon Kepala Daerah

"Dan ternyata itu berefek positif karena banyak yang membeli dengan harga bagus," jelas Setian.

Ia berjanji akan terus membantu UMKM khususnya petani rotan agar harganya tidak terpuruk. Termasuk bantuan pelatihan dan pemasaran. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More