Kamis 10 Oktober 2019, 20:17 WIB

Mendikbud Hargai Penolakan oleh Eka Kurniawan

Indriyani Astuti | Humaniora
Mendikbud Hargai Penolakan oleh Eka Kurniawan

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy

 

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan ia menghormati penolakan yang dilakukan oleh sastrawan Eka Kurniawan terhadap anugerah kebudayaan maestro seni tradisi yang seyogyanya ia terima malam ini.

"Itu kan tidak wajib. Kalau ditolak tidak apa-apa," ujar Mendikbud di Jakarta, hari ini.

Ia pun tidak menampik pemerintah belum berpihak pada kebudayaan. Tetapi sudah ada inisiatif mengenai hal itu. Menurutnya sesuatu tidak lantas langsung jadi. Perhatian pemerintah terhadap kebudayaan baru dimulai.

"Mungkin iya, tapi paling tidak kita sudah mulai. Toh penghargaan itu juga bukan sejak dulu, tapi baru kita mulai. Dan segala sssuatu tidak bisa sak det sak nyet, perhatian terus langsung besar-besarkan," ucapnya.

Ia mencontohkan pemerintah mulai menganggarkan dana abadi kebudayaan. Jumlahnya sekitar Rp 10 triliun untuk tahun ini. Perlahan-lahan, ia berharap dana itu bisa bertambah setiap tahun.

"Nanti setiap tahun penambahan pelan-pelam. Saya sangat menghormati penolakan itu. Itu memang sukarela. Diterima syukur, tidak juga tidak apa-apa. Jadi jangan dibikin anu serius-serius," tukasnya.

Sementara itu, Budayawan Radhar Panca Dahana mengaku setuju dengan sikap Novelis Eka Kurniawan yang menolak Anugrah Kebudayaan dan Maestro Seni tradisi 2019, yang diberikan oleh Kemendikbud.

"Saya setuju sekali, sangat setuju apa yang dikatakan Eka itu benar dan sebenarnya lebih jauh lagi dari itu, sebetulnya ketidak pedulian pemerintah terhadap budaya itu sudah ada sejak jaman dulu, sejak jaman sebelum pemerintahaan saat ini," kata Radhar dalam sambungan telepon, Jakarta, Kamis, (10/10).

Ia membeberkan, bahwa penghargaan pemerintah terhadap kebudayaan itu sangatlah minim, bahkan dinilainya kebudayaan seperti dipinggirkan.

"Memang apresisi terhadap kebudayaan itu sangat minim, bahkan dapat dibilang kebudayaan seperti malah dipinggirkan, pemerintah memberi penghargaan itu tidak sunguh-sungguh, "tuturnya.

Dikatanya selama ini, pemerintah keliru melihat kebudayaan. Menurutnya pemerintah hanya melakukan selebrasi seperti merayakan festival kebudayaan, menyelenggarakan pameran produk kebudayaan yang menghamburkan uang.

"Pemerintah itu hanya menselebrasi kebudayaan, membuat festival kebudayaan, acara-acara kebudayaan. Dan menghamburkan uang, " ucapnya.

"Mereka sangat tidak paham sekali dengan kebudayaan mereka memperlakukan semena-mena hanya untuk membuang anggaran dan mengisi portofolio. Dan itu dari pihak pekerja seni sudah pernah memprotes tapi tetap saja dilakukan lagi, " tukasnya.(Rif/OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More