Kamis 10 Oktober 2019, 11:00 WIB

Ranitidine Ditarik, Ada Obat Pengganti untuk Atasi Asam Lambung

Indriyani Astuti | Humaniora
Ranitidine Ditarik, Ada Obat Pengganti untuk Atasi Asam Lambung

AFP/Drew Angerer/Getty Images
Ranitidine

 

DEKAN Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Ari Fahrial Syam menuturkan ada sejumlah obat yang bisa digunakan menekan produksi asam lambung seperti omeprazole, pantoprazole, dan Lansoprazole sebagai pengganti Zantac, atau lebih dikenal dengan merek dagang Ranitidine. Ranitidine ditarik oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) pada 4 Oktober 2019.

Ranitidine merupakan obat yang digunakan untuk pengobatan gejala penyakit tukak lambung dan tukak usus yang bisa digunakan dalam bentuk injeksi (suntikan), tablet, dan sirup.

Obat tersebut ditarik karena adanya informasi cemaran Nitrosodimethylamine (NDMA) pada produk obat tersebut, zat yang mengandung karsinogenik. Temuan itu muncul dari laporan US Food and Drug Administration (US FDA).Di Indonesia, obat tersebut telah digunakan masyarakat.

Menanggapi hal itu, Ari sebagai konsultan penyakit dalam subspesialis penyakit lambung dan pencernaan, menuturkan para dokter sudah jarang menggunakan ranitidine. Tetapi obat itu masih banyak diresepkan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (pusmesmas).

Baca juga: Badan POM Tarik Obat Ranitidin

"Saat ini justru obat digunakan di layanan primer masuk dalam obat yang dicover Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan," ucapnya melalui siaran pers, Rabu (9/10).

Diakui Ari, obat tersebut cenderung lebih murah dan pada beberapa pasien memberikan rasa nyaman untuk mengatasi asam lambung jika dibandingkan dengan obat maag sederhana seperti antasida yang bisa dibeli secara bebas.

Meski demikian, ranitidine tidak terlalu efektif menghambat produksi asam lambung ketimbang omeprazole, pantoprazole, dan lansoprazole.

Bagi masyarakat yang sudah terlanjur telah menggunakan ranitidine, Ari menganjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

"Masyarakat yang sudah menggunakannya dalam waktu lama harus bertemu dokter untuk obat penggantinya," imbuhnya.

Ia pun mendukung langkah BPOM yang meminta perusahaan farmasi yang memproduksi ranitidine dan masih digunakan di puskesmas, untuk menarik dan melakukan pemeriksaan pada produknya.

Imbauan BPOM harus disikapi produsen obat, pelayanan kefarmasian, para dokter, dan masyarakat.

"Kalangan dokter sudah ramai mengenai hal tersebut sejak 2 minggu lalu," ucapnya.

Dijelaskan Ari, zat karsinogenik bukan satu-satunya penyebab kanker. Ada multifaktor yang bisa menyebabkan seseorang menderita kanker seperti gaya hidup tidak sehat, merokok, dan lain-lain. Namun, ia menekankan sebaiknya pemakaian ranitidine dihindari.

Asam lambung atau GERD, terangnya, bisa diatasi dengan perubahan gaya hidup seperti makan teratur, menghindari makanan asam dan pedas, tidak merokok,  mengurangi konsumsi kopi dan soda, serta mengendalikan stress. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More