Kamis 10 Oktober 2019, 08:25 WIB

Kelor bukan Mistis Lagi

Palce Amalo | Nusantara
Kelor bukan Mistis Lagi

MI/PALCE AMALO
Budidaya Daun Kelor di Kelurahan Fatukoa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur

 

DAUN kelor. Tanaman itu tidak hanya kaya protein. Dunia medis juga menggunakannya sebagai antijamur, antivirus, antidepresan dan antiinflamasi.

Kementerian Kesehatan memotivasi warga untuk menggunakan daun kelor guna memerangi stunting. Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai daerah yang banyak menanam kelor. Dengan daun kelor, seharusnya tidak ada bayi di NTT yang mengalami stunting.

Khasiat daun kelor itulah yang membuat warga lima desa di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, serius mengelola potensinya. Salah satunya, ditunjukkan dengan bergotong royong, mereka membangun rumah yang disiapkan untuk mengeringkan daun kelor.

Soal dana tidak ada masalah. Ada dana desa yang bisa digulirkan setiap desa. Kelima desa, yakni Kufeu, Ikan Tunbes, Biau, Tunmat dan Tunabesi, di Kecamatan Io Kafeu, mengalokasikan Rp150 juta per desa untuk membangun rumah pengering.

Rumah berfungsi menampung daun kelor dari masyarakat. Bahan baku yang sudah kering dipasok ke Badan Usaha Milik Desa (BUM-Des) di Desa Kufeu. Selanjutnya, daun kelor diolah menjadi tepung kelor dan teh kelor.

"Kegiatan itu membuat aktivitas ekonomi di lima desa menjadi hidup. Budi daya kelor di Kecamatan Io Kafeu sudah mencapai 81 hektare," ungkap Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa NTT Sinun Petrus Manuk, kemarin.

Soal pemasaran tidak ada masalah. Pasar luar negeri sangat terbuka, terutama Jepang.

"Sayangnya, produksi kami masih terbatas, karena satu mesin hanya mampu memproduksi 10 kilogram tepung per jam. Setelah rumah pengering, tahun berikutnya dana desa akan dikucurkan untuk pengadaan mesin," tandas Sinun.

Sayuran

Potensi lokal juga diincar Badan Usaha Milik Desa Sugih Jaya, di Desa Sindang Jaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Memanfaatkan sayuran, Sugih Jaya memfasilitasi warga untuk memproduksi berbagai produk olahan berbahan dasar sayuran.

"Produk olahan yang sudah dibuat warga di antaranya berupa keripik wortel, kentang, dan sayuran lainnya. Sementara ini, produk warga masih untuk memenuhi pasar lokal di sekitar kawasan Cipanas," kata Sekretaris Desa Sindang Jaya, Dikdik Sadikin.

Untuk membuat produksi dalam jumlah besar, masyarakat masih terkendala belum adanya mesin yang memadai. "Produksi belum banyak, meski bahan dasar sayurannya sangat berlimpah," sambungnya.

Kehadiran dana desa di Sindang Jaya berarti banyak. Sebagian besar alokasinya digunakan untuk pembenahan infrastruktur akses jalan desa.

"Komposisi pemanfaatannya 70-30. Sebanyak 70% untuk perbaikan infrastruktur jalan dan 30% untuk pemberdayaan," sebut Dikdik.

Jalan desa, lanjutnya, penting untuk dibenahi karena untuk mendukung aksesibilitas pengangkutan produksi sayuran hasil pertanian. Jalan yang bagus berarti meningkatkan kesejahteraan petani.

Tahun ini, Sindang Jaya mendapat kucuran dana desa sebesar Rp1,4 miliar. Besaran itu naik dari tahun sebelumnya Rp1,2 miliar.

"Tahun ini, porsi untuk infrastruktur masih mendominiasi, karena masih banyak ruas jalan desa yang kondisinya masih rusak. Inginnya sih porsi infrastuktur dan pemberdayaan ekonomi bisa seimbang," tandasnya. (BB/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More