Kamis 10 Oktober 2019, 06:00 WIB

Kemajuan Tiongkok dan Hubungan Tiongkok-Indonesia

Xiao Qian Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia | Opini
Kemajuan Tiongkok dan Hubungan Tiongkok-Indonesia

Dok.MI/Seno
opini

TAHUN ini menandai peringatan HUT ke-70 pendirian Republik Rakyat Tiongkok. Pada saat ini saya ingin memperkenalkan perkembangan Tiongkok dan kemajuan hubungan Tiongkok-Indonesia kepada teman-teman Indonesia.

Prestasi gemilang pembangunan Tiongkok

Sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok 70 tahun silam, Partai Komunis Tiongkok telah memimpin negeri ini dan rakyatnya hingga mengalami perubahan dahsyat. Tiongkok berubah menjadi negara sejahtera dan makmur dari kemiskinan. Bangsa Tionghoa menjadi mandiri, berkecukupan, dan kuat. Ini adalah 70 tahun lompatan besar peningkatan kekuatan nasional Tiongkok secara menyeluruh.

GDP Tiongkok telah melonjak dari hanya US$30 miliar pada masa awal berdirinya negara hingga menjadi US$13,6 triliun pada 2018, atau naik 452 kali lipat. Tiongkok telah memantapkan posisi sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia.

Tiongkok juga merupakan negara produsen manufaktur terbesar dunia, negara perdagangan produk komoditas terbesar dunia, sekaligus negara dengan cadangan devisa terbesar di dunia. Saat ini Tiongkok telah menjadi mesin penggerak utama bagi pertumbuhan ekonomi global. Ini adalah 70 tahun peningkatan kesejahteraan rakyat Tiongkok secara besar-besaran.

Pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita di Tiongkok telah melonjak dari hanya sekitar US$70 pada masa awal berdirinya negara, hingga menjadi US$9.470 pada 2018, naik 135 kali lipat.

Layanan asuransi hari tua di Tiongkok telah menjangkau lebih dari 900 juta jiwa, sedangkan layanan asuransi kesehatan dasar di Tiongkok telah menjangkau 1,35 miliar jiwa. Keduanya telah menjadi jaringan jaminan sosial yang terbesar di seluruh dunia. Sejak diberlakukannya kebijakan reformasi dan pintu terbuka di Tiongkok 40 tahun silam, lebih dari 700 juta penduduk telah dientaskan dari kemiskinan.

Proporsi penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan telah berkurang drastis dari 97,5% 40 tahun silam menjadi 1,7% pada saat ini. Prestasi Tiongkok dalam mengurangi jumlah penduduk miskin adalah sebuah keajaiban yang terpatri abadi dalam sejarah umat manusia. Ini adalah 70 tahun pemantapan posisi Tiongkok di mata dunia internasional ke level tertinggi dalam sejarah.

Jumlah negara yang telah menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok telah meningkat dari sepuluhan negara pada masa awal berdirinya Republik Rakyat Tiongkok menjadi 179 negara pada saat ini. Tiongkok telah membangun 110 hubungan kemitraan dengan berbagai negara di dunia. Tiongkok juga telah menjadi negara penyumbang iuran keanggotaan sekaligus negara penyumbang biaya pemeliharaan perdamaian terbesar kedua bagi PBB.

Di antara lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB, Tiongkok adalah negara pengirim pasukan pemelihara perdamaian dengan jumlah terbesar. Tiongkok juga berpartisipasi aktif dalam reformasi tata kelola global. Tiongkok memprakarsai pembangunan bersama Belt and Road, serta mendorong terciptanya pola baru hubungan internasional yang konstruktif dan terwujudnya komunitas masa depan bersama umat manusia.

Kunci keberhasilan Tiongkok dalam 70 tahun berlalu ialah kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok dan Sosialisme yang Berkarakteristik Tiongkok yang diciptakannya. Karena sesuai dengan keadaan Tiongkok dan perkembangannya, jalan ini menjadi jalan tak terhambat menuju negara kuat.

Saat ini, Sosialisme yang Berkarakteristik Tiongkok telah memasuki era baru. Di bawah kepemimpinan Pemikiran Xi Jinping tentang Sosialisme yang Berkarakteristik Tiongkok di era baru, rakyat Tiongkok sedang berupaya mewujudkan impian Tiongkok kebangkitan bangsa Tionghoa.

Hubungan Tiongkok-Indonesia yang selalu solid hingga selamanya.

Indonesia adalah negara tetangga yang penting bagi Tiongkok, dan demikian pula sebaliknya, Tiongkok adalah negara tetangga yang penting bagi Indonesia. Hubungan persahabatan di antara kedua negara telah bersejarah panjang.

Indonesia adalah salah satu negara pertama yang membangun hubungan diplomatik dengan Tiongkok segera setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Kedua negara telah bekerja sama dengan negara-negara lain di Asia dan Afrika dalam mengikrarkan Semangat Bandung, yang merupakan sumbangsih historis kedua negara dalam mendorong terwujudnya tatanan hubungan internasional yang baru.

Dalam beberapa tahun terakhir, di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping dan Presiden Jokowi, hubungan kedua negara berkembang dalam jalur kemajuan sangat pesat. Hubungan bilateral kedua negara saat ini berada pada masa yang terbaik sepanjang sejarahnya. Pertama, peningkatan intensitas hubungan kontak tingkat tinggi di antara kedua negara.

Dalam enam tahun terakhir ini, Presiden Xi Jinping telah dua kali mengunjungi Indonesia, sedangkan Presiden Joko Widodo telah lima kali mengunjungi Tiongkok. Kedua kepala negara telah menggelar pertemuan untuk kedelapan kalinya dalam KTT G-20 yang baru saja digelar di Osaka. Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang juga menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang dikunjungi segera setelah terbentuknya kabinet baru Tiongkok pada 2018 lalu.

Kedua, penyelarasan menyeluruh di antara strategi pembangunan nasional kedua negara. Tiongkok dan Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman untuk mendorong pembangunan Belt and Road dan Poros Maritim Dunia. Pengerjaan 26 titik kontrol dan kunci sepanjang jalur Kereta Cepat Jakarta Bandung telah dimulai.

Terowongan Jatiwaringin menjadi terowongan persimpangan pertama pada keseluruhan jalur kereta cepat ini. Kedua negara juga telah resmi memulai kerja sama antar-pemerintah dalam program pembangunan "Koridor Ekonomi Komprehensif Regional" Indonesia. Komite Bersama yang dibentuk kedua negara terkait pembangunan Koridor ini telah menggelar pertemuan perdananya.

Kedua negara juga bekerja sama dalam pengerjaan sejumlah proyek infrastruktur yang penting di Indonesia, antara lain Bendungan Jatigede, LRT Palembang, PLTU Jawa-7, dan Jembatan Suramadu. Semua proyek ini telah memberikan manfaat luas, baik secara ekonomi maupun sosial bagi masyarakat Indonesia.

Ketiga, kerja sama ekonomi perdagangan di antara kedua negara telah membuahkan hasil yang bernas. Volume perdagangan Tiongkok-Indonesia pada 2018 telah mencapai US$77,4 miliar, 11.000 kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan di masa awal dijalinnya hubungan diplomatik di antara kedua negara.

Selama 8 tahun berturut-turut, Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar bagi Indonesia. Tingkat pertumbuhan ekspor Indonesia ke Tiongkok senantiasa lebih tinggi daripada tingkat pertumbuhan volume perdagangan bilateral maupun tingkat pertumbuhan ekspor Tiongkok ke Indonesia. Semakin banyak produk khas asal Indonesia yang telah berhasil menembus pasar Tiongkok. Investasi langsung dari Tiongkok di Indonesia pada paruh pertama tahun ini saja telah mencapai US$2,29 miliar, sudah hampir menyamai nilai total sepanjang tahun lalu.

Keempat, peningkatan hubungan kontak di antara kedua negara di berbagai bidang. Tiongkok selama beberapa tahun beruntun telah menjadi negara sumber wisatawan asing terbesar bagi Indonesia. Tahun ini, jumlah wisatawan asal Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia akan melebihi 2,5 juta orang.

Tiongkok juga telah menjadi negara destinasi studi luar negeri kedua bagi pelajar RI. Saat ini lebih dari 15 ribu pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Tiongkok. Panda besar Tiongkok juga telah berdomisili di RI, menjadi duta istimewa yang memikat hati warga Indonesia. Hubungan kontak di antara kedua negara juga terus ditingkatkan dan diperluas di berbagai bidang. Termasuk di bidang ketentaraan, pemerintahan daerah, olahraga, keagamaan, kepemudaan, media, dan sebagainya.

Perkembangan bersama dan persahabatan antara Tiongkok dan Indonesia sesuai dengan kepentingan dasar rakyat kedua negara. Tahun depan hubungan diplomatik Tiongkok-Indonesia akan memasuki tahun ke-70. Mari kita bergandengan tangan, bersama-sama menciptakan hari depan lebih cerah untuk hubungan Tiongkok-Indonesia.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More