Kamis 10 Oktober 2019, 03:00 WIB

Kisah Mantan ODGJ dan Telur Asin

MI | Nusantara
Kisah Mantan ODGJ dan Telur Asin

MI/Adi Kristiadi
Program pemerintah Kota Tasikmalaya telah berhasil membina 35 orang penderita gangguan kejiwaan dengan produksi usaha telur asin

 

SIAPA bilang orang dengan gangguan jiwa tidak bisa produktif? Ecep Toni, 54, membuktikannya.

Tangan lincah mantan ODGJ asal Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, itu telah mampu menghasilkan fulus untuk dirinya. Setiap hari bersama sejumlah rekannya yang juga sudah pernah dirawat karena gangguan kejiwaan, Ecep membuat telur asin.

"Sudah enam bulan Ecep dan teman-temannya bisa membuat telur asin. Setiap minggu, mereka bisa menghasilkan 800-1.000 butir telur asin," ungkap Enok Rohanah, 50, Ketua Kelompok Bina Sehat Jiwa Masyarakat, yang memberdayakan Ecep dan teman-temannya.

Ecep memang tidak sendiri. Ada 34 orang lainnya yang bergabung dengannya. Produksi telur asin mereka sudah dinikmati warga di Yogyakarta dan Jakarta.

Jangan heran, Ecep dulu berbeda dengan Ecep sekarang. Dulu, ia hanya merenung dan tidak ingat dirinya. Sekarang Ecep terampil mencuci telur bebek, mengampelas, menimbang garam dan abu, memadatkannya dalam ember, serta memastikan telur asinnya sudah matang.

Program pemberdayaan mantan ODGJ itu digelar di Kecamatan Kawalu. Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mengawal program tersebut sebagai kelanjutan program pengobatan bagi para ODGJ.

"Mereka sebelumnya dipasung oleh keluarganya, kami bebaskan dan kami kirim ke Rumah Sakit Jiwa di Cisarua, Kabupaten Bandung, dan ke Bogor. Setelah sembuh, lewat Puskesmas Kawalu, mereka dibina untuk bisa mendapat pekerjaan dan penghasilan yang layak," ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih, kemarin.

Dengan bekerja, lanjut dia, mantan ODGJ itu dijaga sehingga gangguan yang pernah menimpanya tidak kambuh lagi. "Mereka diberi kesibukan dan bisa bangga dengan dirinya karena jadi orang yang produktif."

Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya sudah menangani 725 ODGJ asal 10 kecamatan. Namun, baru di Kawalu, yang melakukan pemberdayaan.

Kerja kemanusiaan yang dilakukan Puskesmas Kawalu ini akan dijadikan percontohan bagi kecamatan lain. "Mereka harus disibukkan. Jika tidak, kami khawatir gangguan mereka kambuh lagi," jelas Suryaningsih.

Ia mengakui keterbatasan anggaran pemkot membuat program pemberdayaan mantan ODGJ itu belum dilakukan di sembilan kecamatan lain. Pasalnya, dana dari APBD sudah dikucurkan sejak mengambil para ODGJ dari pasungan, merawat, mengobati, dan memberdayakan mereka menjadi warga biasa.

"Anggarannya tidak sedikit. Selama ini pemkot juga terbantu dengan sumbangsih dari para donatur yang peduli para ODGJ," tandas Suryaningsih. (Kristiadi/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More