Rabu 09 Oktober 2019, 22:20 WIB

Kepedulian yang Dimulai dari Mengajar

MI | Humaniora
Kepedulian yang Dimulai dari Mengajar

MI/Adam Dwi
Marsya Peni Nurmaranti

 

BILA melihat ke belakang, aktivitas Marsya Peni Nurmaranti menjadi relawan dia mulai saat menjadi anggota OSIS waktu SMA. Ia memiliki kegiatan mengajak anak-anak panti asuhan ke Monumen Nasional.

Sempat vakum, menjadi relawan dia lakukan lagi pada awal 2012 ketika menjadi kakak pengajar di Sahabat Anak Manggarai. Kala itu, Marsya mengaku hanya datang berkunjung karena lokasi dekat dari rumah kemudian ikut bergabung dan langsung ditodong untuk mengajar.

“Kaget, tapi berkesan dan merasa cocok dengan kakak-kakak relawan pengajar lainnya. Itu yang membuat betah karena menjadi memiliki teman yang bisa diajak nongkrong, juga ikut nyambung kalau obrolin kegiatan sosial,” ujarnya.

Khawatir keluarga tidak akan setuju, melamar pekerjaan di organisasi nonprofit pun dia lakukan diam-diam dan baru menginformasikan ke orangtua setelah diterima. Hal itu karena setelah lulus kuliah dia sempat bekerja di Telkom kemudian keluar untuk masuk ke Bloomberg TV yang akhirnya tutup.
Selepas itu, Marsya mengaku berpikir ulang bekerja di industri media karena merasa kurang pas menjadi pekerja televisi.
Berbekal pengalaman sebagai manajer sosial media sekaligus humas di Sahabat Anak Manggarai, dia melamar di Indorelawan sebagai Community Manager.

Di sisi menyenangkan, cerita dia, menjadi relawan membuatnya tahu ada ruang pekerjaan selain korporasi. Ada pilihan pekerjaan di organisasi nonprofit. Selain itu, dia juga menyukai pekerjaan yang berinteraksi dan tahu siapa yang dibantunya.

“Minusnya mungkin lebih merasa masalah sosial tidak ada selesainya, harus terus diurai, dikerjakan, dan perlahan diatasi. Ini kerja bersama. Adanya komunitas juga karena mereka sadar suatu masalah tidak bisa hanya pemerintah yang cari solusinya. Meski kadang memang lelah, kegiatan di akhir pekan sehingga sulit bagi waktu untuk me time-nya,” cerita Marsya.

Meski begitu, tidak ada kata kapok bekerja bersama relawan. Marsya pun terus mengembangkan program-program Indorelawan bersama rekan sekerjanya. Mereka juga mengangkat topik-topik tertentu bersama orang-orang di Volunteer Hub.

Seperti pada Juli lalu, mereka mengangkat isu lingkungan yang disosiali­sa­sikan bersamaan dengan kampanye global Plastic Free July, gerakan mengurangi plastik.

“Kami bikin dropbox sampah plastik, kelas memilah, dan mengolah sampah plastik menjadi ecobrick, bekerja sama dengan beberapa komunitas, seperti Green Peace, Walhi, dan Diet Sampah Plastik. Lalu juga kegiatan pawai bebas plastik dan nonton bareng film Pulau Plastik. Kami belajar dari mereka karena mereka ahli di isu dan kami lebih kepada pengelolaan komunitasnya,” jelasnya. Ia pun ingin terus melahirkan program kolaborasi lainnya. (Try/M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More