Rabu 09 Oktober 2019, 17:49 WIB

BPPT Kembangkan Mikroba untuk Obat Malaria

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
BPPT Kembangkan Mikroba untuk Obat Malaria

ANTARA/RAISAN AL FARISI
Pekerja melakukan perawatan tumbuhan kina di kebun milik PTPN VIII, Kebun Bukit Tunggul, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

 

BADAN Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Japan Agency for Medical Research and Development (AMED) dalam program Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) guna mencari senyawa baru yang dapat dijadikan obat antimalaria. 

Program ini dijalankan selama lima tahun yakni pada 2015 sampai 2020.

"Sekarang ini kan malaria pakai kina, jadi nyamuknya sama kina sudah kebal, karena obat lama-lama resistan. Jadi nyamuk di Papua sana pakai kina sudah tidak terlalu mempan lagi, makanya kita mencari lagi sama senyawa yang baru," kata Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Soni Solistia Wirawan di Hotel Sari Pacific, Jakarta, Rabu (9/10).

Kepala Program Inovasi Pengembangan Obat Antimalaria dan Antiamoeba BPPT Danang Waluyo mengatakan, saat ini terdapat sekitar 20 senyawa yang kemungkinan dapat dikembangkan menjadi obat. Senyawa-senyawa tersebut harus melalui uji praklinis dan uji klinis terlebih dahulu guna memastikan keamanannya.

"Kalau diuji praklinis, uji keamanan obat, biasanya memang banyak yang tereliminasi karena itu ternyata ada efek samping atau karena malarianya mati tetapi hewan ujinya juga mati. Ini yang akan kita pisahkan dulu, kita akan uji dulu, sehingga kita mendapat kandidat obat yang efektif tetapi aman," tutur Danang.

Danang mengungkapkan, saat ini pihaknya telah mendapat senyawa paling aktif dari alam yakni mikroba bernama actinomycetes. Sample mikroba ini diambil dari kawasan yang jarang dimasuki manusia di Jember.

"Ini kita sudah uji aktivitasnya terhadap malaria lebih baik daripada obat malaria yang sudah ada sekarang, tapi perlu kita kaji lebih lanjut apakah dia tidak toxic terhadap sel manusia, kemudian tidak memberikan efek samping the kesehatan itu yang nanti akan kita uji lebih lanjut," terangnya.

Baca juga: Angka Sakit Malaria di Lembata sudah Menurun Drastis

Danang memastikan BPPT akan terus mencari senyawa lainnya yang dapat dijadikan kandidat obat. Sebab berdasarkan pengalaman dari perusahaan farmasi, untuk mendapatkan suatu obat, biasanya disiapkan sekitar 20-50 kandidat obat untuk dilakukan uji toksisitas.

Danang mengungkapkan, untuk menjalankan program ini, dana yang digunakan berasal dari JICA dan AMED dengan jumlah total sebesar Rp30 miliar.

"SATREPS satu tahun sekitar Rp6 miliar, selama lima tahun jadi Rp30 miliar. Bukan dalam bentuk dana semua, tapi juga tenaga ahli, kirim trainee ke sana, ada yang jadi alat," terangnya.

Selain dana dari SATREPS, pihak BPPT juga akan mengajukan proposal melalui program Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional (INSINAS) Kemenristekdikti dan Litbangkes Kemenkes. (A-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More