Rabu 09 Oktober 2019, 14:45 WIB

BPPT Jalin Kerja Sama dengan Jepang Temukan Obat Antimalaria

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
BPPT Jalin Kerja Sama dengan Jepang Temukan Obat Antimalaria

AFP/Olympia DE MAISMONT
Nyamuk malaria berada di insectarium

 

BADAN Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) menjalin kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Japan Agency for Medical Research and Development (AMED) dalam program Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) selama lima tahun yakni pada 2015-2020.

Program ini dilaksanakan guna mendorong pengembangan ekosistem terkait produksi obat di Indonesia.

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Soni Solistia Wirawan mengatakan program SATREPS telah berjalan baik dan lancar. Saat ini, program itu tengah memasuki tahap akhir.

"BPPT mendapatkan banyak manfaat dari SATREPS. Tidak hanya meningkatkan kapasitas lab berupa peralatan, program ini juga membantu meningkatkan kualitas SDM, terutama dalam kemampuan mendesign dan mengembangkan penelitian dari penemuan obat," kata Soni di Hotel Sari Pacific, Jakarta, Rabu (9/10).

Baca juga: Badan POM Tarik Obat Ranitidin

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai Bioteknologi Agung Eru Wibowo mengatakan, hal utama yang perlu dibangun yakni kesiapan infrastruktur baik dari segi SDM hingga fasilitas.

"Jadi program SATREP untuk lima tahun ini arah utamanya adalah capacity building. Pertama fasilitas risetnya dilengkapi, beberapa peralatan kita dapatkan dari JICA dan AMED. SDM dilatih dan disiapkan bagaimana mampu meng-handle resources kemudian memanfaatkan melakukan isolasi senyawa," tuturnya.

Dalam program ini, resources yang dikembangkan BPPT yakni mikroba. Terdapat sekitar 25 ribu mikroba yang dimanfaatkan sebagai sumber bahan obat-obatan yang melimpah.

"Sehingga teman-teman dilatih bagaimana memelihara mikroba, mengoleksi, mengkarakterisasi mengidentifikasi, kemudian nanti mencari senyawanya," imbuhnya.

Agung mengatakan, dalam lima tahun ini terdapat beberapa senyawa yang sudah terkarakterisasi. Salah satunya yakni penemuan obat untuk mencari kandidat obat antimalaria atau Searching Lead Compound of Anti-Malarial and Anti-Amoebic Agents by Utilizing Diversity of Indonesian Bio-resources (SleCAMA project).

"Dari 20 senyawa sudah diisolasi, mungkin sekitar 10 potensinya sudah cukup kuat. Ini yang terus akan dilanjutkan," ujarnya.

Namun, Soni mengungkapkan, program selama lima tahun ini belum dapat menghasilkan produk jadi. Sebab, dibutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun untuk dapat menghasilkan produk obat yang siap pakai.

"Program lima tahun ini nggak selesai, nggak sampai output keluar bahan, itu baru persiapan-persiapannya karena kalau selesai mungkin butuh waktu 10-15 tahun," tandas Soni. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More