Rabu 09 Oktober 2019, 14:30 WIB

Indonesia Terus Berjuang Jadi Anggota OECD

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Indonesia Terus Berjuang Jadi Anggota OECD

ANTARA/Rivan Awal Lingga
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro

 

INDONESIA masih terus berjuang untuk menjadi anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Untuk bisa masuk sebagai member, Indonesia harus bertransformasi menjadi negara maju dan itu bukan hal yang mudah.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengungkapkan pemerintah masih terus mempelajari dan membenahi persoalan-persoalan yang menghambat langkah Indonesia menjadi negara maju.

"Ini butuh proses tapi kita akan kerja keras untuk bisa masuk jadi anggota OECD," ujar Bambang di kantornya, Jakarta, Rabu (9/10).

Baca juga: Indonesia Harus Terapkan Reformasi Ekonomi untuk Jadi Negara Maju

Ia menyebut akan ada manfaat besar yang bisa diraih dengan menjadi anggota perkumpulan negara maju, salah satu yang utama adalah investasi lebih mudah masuk.

"Selain rating moody's, S&P, yang sering ditanya investor asing itu ya keanggotaan OECD. Kalau sudah menjadi anggota, berarti negara itu sudah mengikuti standar OECD yang dianggap sangat ramah terhadap investor," jelas dia.

Kendati tidak bisa memastikan kapan, Bambang optimistis suatu saat Indonesia akan mampu menjadi anggota OECD.

Pasalnya, Indonesia berada di Asia Tenggara, kawasan strategis yang bergerak sangat dinamis ketimbang kawasan-kawasan lain di dunia.

Dengan pertumbuhan penduduk yang besar dan rencana ekonomi yang kuat di kawasan, Indonesia diyakini akan mendapat kemudahan untuk terus bertumbuh menjadi negara maju.

OECD didirikan pada 14 Desember 1960 dengan anggota asli sebanyak 20 negara.

Seiring waktu berjalan, ada 16 negara lain yang kemudian masuk menjadi anggota. Hingga saat ini, hanya Jepang dan Korea Selatan yang mewakili Asia di organisasi tersebut. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More