Rabu 09 Oktober 2019, 09:35 WIB

Saparan Tradisi Yaa Qowiyyu Digelar Sepekan

Ardi Teristi Hardi | Nusantara
 Saparan Tradisi Yaa Qowiyyu Digelar Sepekan

Mi/Ardi Teristi Hardi
Sekretaris Lembaga Pengelola, Pelestari Peninggalan Kyai Ageng Gribig, Moh. Sudaryanto (tengah) menjelaskan acara Saparan Yaa Qowiyyu.

 

TRADISI tahunan yang sarat dengan makna religi dan budaya, Saparan Yaa Qowiyyu di Jatinom, Klaten akan kembali diadakan pada 15 Sapar dalam kalender Jawa, atau 18 Oktober 2019 dalam kalender Masehi. Sebelum acara puncak, ada rangkaian acara yang akan diadakan sepekan, dari  12-18 Oktober 2019.

"Tradisi keagamaan dan budaya Yaa Qowiyyu sudah berjalan sejak 1511 tahun saka atau 1688 masehi di Jatinom. Tahun ini lebih semarak dengan menampilkan potensi budaya masyarakat yang berwarna-warni dengan tidak meninggalkan nilai-nilai religi dan budaya yang ada," kata Sekretaris Lembaga Pengelola, Pelestari Peninggalan Kyai Ageng Gribig, Moh. Sudaryanto  saat dijumpai di Lembaga Indonesia Prancis, Yogyakarta, Selasa (8/10) sore.

Laiknya Saparan Yaa Qowiyyu pada tahun-tahun sebelumnya, puncak kegiatan ini adalah bagi-bagi kue apem. Sebanyak tujuh ton apem diperkirakan akan dibagikan pada acara tahun ini yang diperkirakan diikuti oleh puluhan ribu orang, termasuk Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Ia menceritakan tradisi Yaa Qowiyyu diprakarsai oleh tokoh sejarah Kyai Ageng Gribig (keturunan Raja Brawijaya V dari Keraton Majapahit), sekaligus juru dakwah dari Wali Sanga.

Ya Qowiyyu sendiri merupakan doa meminta kekuatan kepada Allah SWT, baik iman, jiwa, raga, ekonomi, dan lain-lain. Apem berasal dari kata afwan (bahasa Arab) yang berarti minta maaf dalam bahasa Indonesia.

Nguri-uri Dadi Mberkahi (menghidup-hidupi dan memberi berkah) merupakan tajuk yang dipilih untuk tahun ini. Maksudnya dengan upaya yang terus-menerus masyarakat menjaga kearifan masa lalu. Sejumlah agenda baru dalam rangkaian acara, antara lain pentas kesenian, jemparingan lomba pembuatan apem, lomba memancing, bazaar makanan dan jajanan, pameran dan pelatihan fotografi Jatinom, hingga pentas wayang kulit.

"Lomba Jemparingan (panah tradisional) yang digelar oleh Yayasan Ash-Shomad ke-19 juga ada wayang kulit dan pameran fotografi Wangsul Jatinom oleh Dr Mia Sismadi, diskusi warisan dan nilai-nilai Kyai Ageng Gribig oleh Ki Hadjar Poerwatjarita, dan Parade Nusantara," kata dia

Mia Sismadi yang akan menggelar pameran foto dalam pekan Ya Qowiyyu itu mengatakan, dia ingin menunjukkan kekayaan perubahab tradisi di Jatinom.

"Dulu saya masih dapat foto masyarakat menerima apem dengan tangan, tetapi sekarang dengan payung," kata dia.

baca juga: Puluhan Korban Wamena Mulai Urus Dokumen Kependudukan

Selain itu, ada pula foto tentang tradisi pasar ternak di Jatinom yang dulu seperti Texas, lengkap dengan topi ala koboi. Semua foto yang ditampilkan ingin menunjukkan kekayaan tradisi di Jatinom dan agar masyarakat Jatinom tidak lupa terhadap tradisi mereka. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More