Rabu 09 Oktober 2019, 08:50 WIB

Kemenperin Genjot 5 Sektor Manufaktur

Mirza Andreas | Ekonomi
Kemenperin Genjot 5 Sektor Manufaktur

ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
Ilustrasi -- Pekerja merakit mobil pick up di Pabrik Mobil Esemka, Sambi, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019).

 

KEMENTERIAN Perindustrian (Kemenperin) fokus menggenjot kinerja lima sektor manufaktur di dalam negeri untuk siap memasuki era industri 4.0, sekaligus menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional ke depannya. Kelima sektor tersebut ialah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, kimia, otomotif, serta elektronika.

"Sektor-sektor itu dipilih berdasarkan evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi yang mencakup kontribusi produk domestik bruto (PDB), perdagangan, potensi dampak terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar," kata Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono pada acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri di Padang, Sumatra Barat, kemarin.

Ia menjelaskan kelima sektor manufaktur andalan itu mampu berkontribusi signifikan hingga lebih dari 60% terhadap PDB, nilai ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.

Sigit mencontohkan kinerja industri makanan dan minuman dalam kurun lima tahun terakhir konsisten positif melampaui pertumbuhan ekonomi.

"Sektor ini tumbuh rata-rata di atas 8%-9%. Jadi kalau industri ini kita berikan upaya-upaya peningkatan yang lebih besar lagi melalui industri 4.0, pertumbuhannya diharapkan bisa double-digit," ungkapnya.

Bahkan, kata dia, selama ini industri makanan dan minuman berperan penting meningkatkan nilai tambah bahan baku di dalam negeri.

"Sektor ini memang mempunyai nilai tambah paling tinggi karena bahan bakunya sebagian besar dari dalam negeri. Apalagi, sektor ini didominasi industri kecil dan menengah (IKM)," ujarnya.

Di sektor industri kimia, pemerintah sedang gencar menarik investasi untuk memperkuat struktur manufaktur di dalam negeri.

"Dari 1998 belum ada investasi besar di industri petrokimia. Padahal, produksi dari sektor ini banyak dibutuhkan untuk memasok kebutuhan bagi sektor lain," ujar Sigit.

Untuk itu, dengan memprioritaskan pengembangan industri kimia, Kemenperin mendorong agar dapat menghasilkan produk substitusi impor sehingga bisa menekan defisit neraca perdagangan.

"Karena itu, investasi-investasi yang kita upayakan sudah mengaplikasikan teknologi industri 4.0 sehingga bisa meningkatkan produktivitas secara efisien," paparnya.

Dalam hal industri tekstil dan pakaian, Sigit mengemukakan sektor itu saat ini membutuhkan restrukturisasi mesin produksi agar lebih modern. Karena itu, diperlukan program sehingga dapat memacu produktivitas dan daya saing.

Peningkatan investasi

Di industri elektronika, Kemenperin sedang mendongkrak kinerja melalui peningkatan investasi.

"Kita masih perlu investasi yang cukup besar khususnya di sektor hulu yang bisa menghasilkan berbagai komponen untuk memasok kebutuhan sektor-sektor lain seperti industri otomotif," tutur Sigit.

Di industri otomotif, Sekjen Kemenperin menilai kinerja sektor ini bergerak naik signifikan ketimbang 20 tahun lalu. Hal itu seiring meningkatnya investasi di dalam negeri saat sejumlah produsen global menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk mengisi pasar ekspor.

Sigit menegaskan pemerintah telah menyusun langkah strategis untuk menggenjot kinerja lima sektor tersebut, yang tertuang di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.

Peta jalan itu diyakini akan dapat mewujudkan visi Indonesia menjadi 10 besar perekonomian terkuat di dunia pada 2030. (E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More