Rabu 09 Oktober 2019, 07:20 WIB

Simbol Nyata Toleransi Warga Tiwatobi

Ferdinandus Rabu | Nusantara
Simbol Nyata Toleransi Warga Tiwatobi

MI/Ferdinandus Rabu
Ibu-ibu muslim bersalaman dengan seorang pastor di Dusun Delang, Desa Tiwatobi, Kecamatan Ile Mandiri, Flores Timur, NTT.

 

SIA Bugis, wanita paruh baya berkerudung yang tinggal di Dusun Delang, Desa Tiwatobi, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, bergegas menuju lokasi penjemputan. Dia hendak berbaur dengan komunitas muslim lainnya yang sedang menunggu kedatangan tamu, seorang imam Katolik yang baru, kemarin.

Sudah menjadi tradisi warga Katolik di daerah ini, setiap kali ada penjemputan pastor atau imam baru selalu dirayakan dengan tarian dan upacara yang meriah. Menariknya, kaum muslim selalu terlibat dalam kegiatan ini.

Sebuah peristiwa yang tentunya menggugah jiwa ketika melihat puluhan muslimah berkerudung dengan raut wajah gembira dan berbekal rebana di tangan menyanyikan lagu kasidah menjemput seorang pastor yang merupakan pemimpin umat Katolik.

Tak ada sekat saat itu. Semua orang tanpa membedakan latar belakang berbaur menyambut pastor yang baru ditahbiskan.

Selain dengan lagu-lagu kasidah, berbaris pula beberapa ibu muslimah dengan sarung dan jamuan adat untuk disuguhkan kepada pastor saat penjemputan. Persaudaraan, kerukunan, dan toleransi benar-benar terasa tak sekadar basa-basi.

"Kami sudah seperti saudara di sini. Jangan tanyakan lagi bagaimana toleransi di sini. Setiap kegiatan apa pun itu, (kami) pasti selalu dilibatkan. Tidak ada pemisah. Kami selalu terlibat dalam setiap kegiatan dan hari raya agama Katolik di sini," tutur Sia Bugis.

"Kami juga ikut membersihkan dan mengamankan gereja pada Hari Raya Natal dan Tahun Baru, juga perayaan lainnya. Saudara-saudara kami yang beragama Nasrani ikut menjaga masjid dan selalu terlibat dalam setiap kegiatan dan perayaan warga muslim di sini,'' imbuhnya.

Warga muslim lainnya, Arifin Bayo, mengamini. Menurutnya, warga muslim selalu dilibatkan saat ada perayaan tradisi keagamaan umat Katolik. Begitu juga sebaliknya ketika umat Islam di Flores Timur berhari raya.

Semua itu menjadi simbol nyata semangat persaudaraan dan kerukunan yang tetap terpelihara. Mereka memang berbeda agama, berlainan keyakinan, tetapi sama dalam hal persaudaraan sesama anak bangsa.

Pastor Paroki Santo Yoseph Riangkemie, Romo Donatus Selidan Kolin pun mengakui indahnya toleransi di Flores Timur. Kebersamaan itu telah mengakar kuat di kehidupan masyarakat dan bertahan hingga sekarang.

"Saya bahagia ketika menyaksikan keindahan toleransi di daerah ini. Umat Islam maupun Nasrani sudah menjadi seperti saudara sendiri. Warga muslim selalu ikut terlibat dalam perayaan Nasrani di sini. Sungguh, toleransi beragama yang sangat tinggi dan dapat menjadi contoh bagaimana layaknya kita hidup dalam keberagaman," tandas Romo Donatus. (Ferdinandus Rabu/X-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More