Rabu 09 Oktober 2019, 06:00 WIB

Pengadaan Vaksin Pneumonia Jadi Prioritas

(Zhi/H-3) | Humaniora
Pengadaan Vaksin Pneumonia Jadi Prioritas

Antara
Petugas Dinas Kesehatan Denpasar menyuntikkan vaksin kepada seorang siswi di Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu.

 

KEBUTUHAN vaksin pneumococcal conjugate vaccine (PCV) dinilai mendesak untuk melindungi anak dari penyakit pneumonia atau radang paru-paru yang menular. Pemerintah menjajaki berbagai peluang untuk menyediakan vaksin tersebut.

Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian Perencanaan, Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Pembangunan Nasional (Bappenas) Pungkas Bajuri Ali mengatakan hal itu dalam diskusi bertajuk Urgensi Optimalisasi Manajemen Pengelolaan Obat dan Vaksin Terkait Efisiensi Anggaran 2019 di Jakarta, kemarin.

"Pneumonia menjadi penyebab kematian terbanyak kedua setelah diare di Indonesia. Amanat Presiden minta angka kematian ibu dan bayi diturunkan. Makanya kita prioritaskan," ucap Pungkas. Menurut data Kementerian Kesehatan, ada 1,1 juta kematian setiap tahun akibat pneumonia.

Karena keterbatasan anggaran, sambung Pungkas, pemerintah baru mewajibkan imunisasi PCV di Lombok, NTB, dan sejumlah kabupaten/kota di Bangka Belitung. Harga vaksin PCV tergolong mahal, yaitu mencapai Rp1 juta per unit. Setiap anak mesti tiga kali dapat imunisasi sehingga total biaya vaksinasi Rp3 juta.

Direktur Tata Kelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Kemenkes Sadiah mengungkapkan, harga vaksin PCV mahal karena masih impor. "Sedang dibahas supaya kita dapat mengakses harga terbaik. Perlu regulasi dan itu bukan di Kemenkes," sebutnya.

Health Economist dari Universitas Padjadjaran, Auliya A Suwantika mengungkapkan, riset yang dilakukannya menemukan pembentukan harga vaksin PCV berasal dari tiga pintu, harga Unicef, harga kontrak, dan harga pasar. Perbedaan harga ketiganya sangat jauh.

Untuk PVC10 yang mengandung sepuluh serotipe pneumokokus, harga Unicef US$3 atau setara Rp42.500, harga kontrak US$17,45 (Rp247 ribu), dan harga pasar US$43,23 (Rp613 ribu). Dengan biaya tambahan, harga per vaksin PCV diperkirakan Rp75 ribu.

"Jika lewat Unicef, lebih murah dan lebih banyak yang bisa dibeli. Hanya, pengadaan kita belum memungkinkan untuk beli lewat mekanisme donor internasional. Ini sedang membahas agar opsi itu bisa dilakukan," beber Auliya.

Ketua Dewan Pengurus Indonesian Health Economics Association (InaHEA) Prof dr Hasbullah Thabrany mengatakan, pemerataan imunisasi pneumonia termasuk syarat mewujudkan generasi sehat. Saat ini introduksi vaksin PCV di Indonesia masih kalah dengan Bangladesh. Selain lewat Unicef, kemandirian vaksin dan obat ialah keharusan dengan memberi dukungan pada produsen vaksin dalam negeri, PT Biofarma. "Kalau pemerintah komit, untuk Biofarma harusnya all out," cetusnya. (Zhi/H-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More