Rabu 09 Oktober 2019, 05:40 WIB

Ingin Rawat Mata Anak Perbanyak Aktivitas Outdoor

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Ingin Rawat Mata Anak Perbanyak Aktivitas Outdoor

Kemenkes/Grafik Seno
Gangguan Kesehatan Mata

 

SUDAH setahun, Galuh, 12, mengenakan kacamata karena minus di kedua matanya, yakni 4 pada mata kanan dan minus 2,5 pada mata kirinya. Siswi yang saat ini duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar (SD) itu terganggu matanya sejak kelas 5. Itu pun diketahui dari hasil pemeriksaan kesehatan di sekolahnya.

Gangguan mata Galuh tidak sekonyong-konyong terjadi. Sejak usia 7 tahun, Galuh sudah terbiasa memainkan gim di laptop pada waktu-waktu tertentu. Kebiasaannya bermain gim semakin menjadi-jadi tatkala orangtuanya memberikan Galuh gawai ketika dirinya kelas 5 SD.

Galuh sering memainkan gadget tersebut sambil tiduran. Bahkan, tidak jarang Galuh ditemukan tengah memainkan gawai saat lampu kamar sudah dimatikan.

Hal serupa dialami siswi kelas 6 SD Novi, 12, yang mulai menggunakan kacamata sejak duduk di bangku kelas 5 SD. Novi mengalami minus 2 di kedua matanya. Kondisi itu diketahui setelah orangtua Novi dipanggil guru les karena putrinya tidak dapat berkonsentrasi setiap belajar dan tidak bisa menjawab saat ditanya tentang tulisan yang ada di papan tulis.

Semakin muda pengguna kacamata di Indonesia ialah fakta menyedihkan saat World Sight Day atau Hari Penglihatan Sedunia yang diperingati pada 10 Oktober.

Dokter spesialis mata, Tjahjono D Gondhowiardjo, mengamini semakin mudanya pengguna kacamata di Indonesia, khususnya di wilayah perkotaan.

Diperkirakan, sekitar 20%-24% anak usia sekolah di Jakarta diperkirakan sudah membutuhkan kacamata. Sementara itu, di daerah perdesaan yang masih belum marak menggunakan gadget, anak usia sekolah yang membutuhkan bantuan kacamata hanya berkisar 6%-7%.

Kebutuhan berkacamata pada anak usia sekolah salah satunya disebabkan kebiasaan atau gaya hidup, di samping adanya kemungkinan faktor keturunan. "Karena sekarang hidupnya sering melihat dengan jarak dekat, dengan gawai, membuat mata melihat dekat terus, akhirnya mulai tumbuh kebutuhan kacamata," kata Tjahjono kepada Media Indonesia, Minggu (6/10).

Kondisi itu diperparah dengan kebijakan sejumlah sekolah yang mulai menggunakan gawai sebagai bagian dari aktivitas belajar. "Padahal, di negara maju sudah mulai digeser kurikulumnya, banyak menggunakan di lapangan terbuka, di alam, supaya anak-anak tidak terpaku pada penglihatan dekat," tuturnya.

Ancam masa depan

Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dr M Siddik SpM mengungkapkan, miopia (rabun jauh) merupakan gangguan refraksi terbanyak yang dialami anak. Kelainan itu membuat anak tidak dapat melihat dengan jelas.

"Bahkan, ada kondisi miopia pada minus tertentu, anak hanya bisa melihat dengan jarak 1 meter. Walaupun gangguan refraksi tersebut bisa diatasi dengan penggunaan kacamata, tapi jadi masalah," katanya saat ditemui di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (8/10).

Penggunaan kacamata, terang Siddik, mengatasi gangguan miopia supaya anak bisa melihat optimal, tapi tidak menyembuhkan. Ada pula operasi lasik, tapi dengan biaya relatif mahal dan baru boleh dilakukan pada anak yang sudah berumur 18 tahun.

Menurutnya, penggunaan gawai tidak hanya diduga berkolerasi dengan penambahan kasus miopia pada anak, tetapi juga ada temuan penyakit baru akibat penggunaan komputer terlalu lama, yaitu computer vision syndrome.

Refraksi atau pembiasan yang dialami anak usia sekolah sangat memengaruhi kegiatan belajar di sekolah. Peran orangtua juga sangat diperlukan dalam membatasi penggunaan gawai dengan membuat komitmen bersama.

Tjahjono mengingatkan, selain tidak dapat melihat jarak jauh, masa depan mereka juga terpengaruh karena kesempatan kerja makin kecil karena berkacamata. "Di sekolah-sekolah, misalnya, mau jadi polisi, tentara, pilot, sekolah kedinasan menuntut tidak berkacamata sehingga lapangan masa depannya semakin menyempit," tuturnya. (Ind/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More