Selasa 08 Oktober 2019, 19:06 WIB

213 Perantau Minang Bertahan di Wamena

Yose Hendra | Nusantara
213 Perantau Minang Bertahan di Wamena

ANTARA/M RISYAL HIDAYAT
Ibu Bhayangkari menyuapi makanan pada bocah pengungsi di Posko pengungsian di Makodim 1702/Jayawijaya, Wamena, Papua, Selasa (8/10).

 

SEBANYAK 213 perantau Minang bertahan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, pascakerusuhann Wamena 23 September lalu. Mereka memilih bertahan di tengah eksodus besar-besaran hingga saat ini.

"Jumlah warga IKM (Ikatan Keluarga Minang) yang masih tersisa di Wamena saat ini sebanyak -/+ 213 orang," kata Ketua IKM Papua Zulhendri Sikumbang, Selasa (8/10).

Dia menambahkan, besok, Rabu (9/10), Posko di Jayapura sudah di tutup. 

"Total keseluruhan yang ada di Posko malam ini sebanyak 124 orang," tambahnya.

Ketua IKM Wamena Nofri Zendra menambahkan, kondisi mereka yang bertahan di Wamena aman dan sudah tinggal di rumah masing-masing.

"Kalau yang rumahnya terbakar sudah mengungsi semuanya," ujarnya.

Menurutnya, para perantau Minang kondisinya berangsur membaik. Untuk makanan pun tidak masalah, karena sudah mendapatkan sejumlah bantuan. Bahkan bantuan juga didapatkan dari Pemda setempat dan dari dinas sosial.

Ke depan, ia masih belum dapat memastikan apakah masih ada perantau yang ingin mengungsi atau tidak. Sebab, masyarakat kadang berubah pikiran.

"Itu tidak bisa kita pastikan, awal-awalnya lebih tinggi yang tidak akan pulang, tapi banyakan yang beruba pikiran," katanya.

Menurutnya, kondisi saat ini sudah mulai kondusif. Kegiatan masyarakat di kota sudah mulai berjalan. Aktivitas sekolah yang tidak hancur mulai berjalan, sedangkan perkantoran juga mulai beraktivitas walaupun memakai gedung dengan menumpang.

"Kondisi aman, tapi amannya Wamena itu kita tak bisa prediksi 100%. Memang pihak keamanan sudah menjamin, tapi kita tidak tahu nantinya," imbuhnya.

Baca juga: Mensos Paparkan 5 Langkah Wujudkan Wamena Bangkit

Di sisi lain, sebagian perantau Minang juga masih ada yang pulang kampung menyusul kepulangan ratusan orang sebelumnya.

Dikatakan Zulhendri, sebanyak 27 orang diberangkatkan Rabu (9/10) pagi dengan Lion Air, pukul 07.00 dan 10.00 WIT dari Jayapura tujuan Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Sumatra Barat.

Lalu, sebanyak 79 orang diberangkatkan Rabu (9/10) pagi dengan Garuda pukul 07.00 dan 10.00 WIT dengan tujuan BIM.

"Sebanyak 8 orang yang datang kemarin belum ada tiket. Sebanyak 10 orang datang kemarin beli tiket sendiri sampai Jakarta, untuk tiket Jakarta ke Padangnya belum ada," jelasnya.

Zulhendri juga mengakui, ongkos pemulangan perantau dari Papua ke kampung halaman di Ranah Minang sangat tinggi.

Menurutnya, 50 orang yang diterbangkan dengan Lion Air, harga tiket Rp4.300.000/orang, sehingga totalnya Rp215.000.000. Lalu dengan Garuda 76 orang harga tiket Rp6.800.000/orang, sehingga totalnya Rp516.800.000. Tambahannya, bayi 7 orang dengan harga tiketnya, Rp700.000/bayi, sehingga totalnya Rp4.900.000. (A-4)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More