Minggu 06 Oktober 2019, 12:55 WIB

Nilai Cukai Rokok Elektrik di Jakarta Capai Rp4 Miliar

mediaindonesia.com | Ekonomi
Nilai Cukai Rokok Elektrik di Jakarta Capai Rp4 Miliar

Antara/Irfan Anshori
Petugas kantor Bea dan Cukai memeriksa dan mendata cairan rokok elektrik (Vape Liquid) disalah satu outlet penjualan.

 

DI Indonesia tercatat ada 80 juta orang perokok termasuk perokok elektrik (vape) atau 40% dari penduduk di Indonesia. Bahkan, laju pertumbuhan perokok baru berkisar 1-2 juta per tahunnya.

Dari sisi pedagang, saat ini ada sekitar 1.000 toko ritel di Jakarta dan 4.000 se-Indonesia, dan importir sekitar 50 pelaku.

Pada jumpa pers yang digelar pekan lalu, Chaerul Salah, Kepala Bea Cukai Halim Jakarta, mengatakan, nilai cukai rokok elektrik untuk kawasan Jakarta Timur, Pusat, dan Selatan mampu mencapai Rp4 miliar pada Oktober 2018.

"Selama Oktober 2018 hingga September 2019, cukai rokok elektrik di kawasan itu sudah menyentuh Rp40 miliar," kata Chaerul.

Edy Suprijadi, Sekretaris Umum Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), mengatakan nilai ekonomi rokok elektrik atau vape di Indonesia sekitar Rp200-300 miliar per bulan.

"Dari sisi pedagang, saat ini ada sekitar 1.000 toko ritel di Jakarta dan 4.000 se-Indonesia, dan importir sekitar 50 pelaku," kata Edy.

Sementara itu, jumlah ritel yang menjual produk rokok elektrik pun sudah mencapai 4.000 gerai. Adapun jumlah importir rokok elektrik telah mencapai 50. Tak heran, jika bisnis rokok elektrik di Indonesia makin digandrungi.

Berangkat dari fakta itu, Qclaws ikut meramaikan pasar elektrik di Indonesia. Yogi Babria, Director PT Clawstek Business Indonesia, mengatakan jumlah perokok di dunia ada 1 milyar orang.

"Di Indonesia tercatat ada 80 juta oang perokok atau 40% dari penduduk di Indonesia. Bahkan, laju pertumbuhan perokok baru berkisar 1-2 juta per tahunnya," kata Yogi. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More