Selasa 08 Oktober 2019, 09:45 WIB

Ekonomi Digital Indonesia Paling Pesat

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Ekonomi Digital Indonesia Paling Pesat

SEA 2019
Ekonomi Digital Indonesia Paling Pesat

 

HASIL riset terbaru dari laporan e-Conomy SEA 2019 yang disusun Google, Temasek, dan Bain Company mencatat tren pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, melaju pesat.

Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf menjelaskan transformasi ekonomi lndonesia yang luar biasa menjadi pendorong pertumbuhan yang dinamis bagi Asia Tenggara.

“Tahun ini kami prediksi internet economy Indonesia mencapai US$40 miliar, dan kami prediksi pada 2025 akan mencapai lebih dari US$133 miliar,” kata Randy pada konferensi pers di Kantor Google Indonesia di Jakarta, kemarin.

Randy menjelaskan riset terbaru ini melaporkan bahwa tingkat pertumbuhan Indonesia mencapai 49%, paling pesat di Asia Tenggara dengan potensi hingga US$133 miliar pada 2025.

Menurut laporan regional 2019, pertumbuhan ekonomi digital itu mencakup lima sektor, yaitu e-commerce, media daring (online), transportasi berbasis aplikasi ­daring, wisata dan perjalanan, serta jasa keuangan digital.

Dalam empat tahun ke depan, laporan memprediksi pertumbuhan 12 kali lipat untuk sektor e-commerce lndonesia dan pertumbuhan 6 kali lipat untuk transportasi daring. Pembiayaan di Indonesia juga berpotensi melebihi rekor yang tercatat pada 2018.

Jabodetabek tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan di Indonesia. Pengguna yang tinggal di area itu tercatat membelanjakan uang senilai US$555 per kapita, sedangkan yang di luar kota besar US$103.

Meski demikian, daerah luar kota besar (nonmetro) diperkirakan bertumbuh dua kali lebih pesat dalam enam tahun ke depan.

Laporan juga mengungkapkan temuan bahwa semua sektor ekonomi internet di setiap daerah diuntungkan dengan meningkatnya penggunaan pembayaran digital

Dalam kesempatan yang sama, Partner dan Leader of Asia Pacific Digital Practice dari Bain Company, Florian Hoppe, menyebutkan bahwa 47 juta penduduk belum mendapatkan cukup layanan keuangan. Selain itu, ada 92 juta penduduk sama sekali tidak memiliki akses, teknologi, dan data.

Oleh karena itu, terdapat potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mengubah rakyat Indonesia melakukan pembayaran, transfer dana, pinjaman, investasi, dan asuransi secara daring.

Tiga strategi

Di sisi lain, Bank Indonesia turut mendorong perkembangan ekonomi digital sebagai new source of ­economic growth atau sumber pertumbuhan ekonomi baru.
 
Untuk itu, BI memiliki tiga strategi utama sistem pembayaran di era ekonomi digital.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng menuturkan tiga strategi tersebut ialah menetapkan visi Sistem Pembayaran Indonesia 2025, mendorong peningkatan elektroni­fikasi transaksi pembayaran, dan  ­mendorong program persiapan pemasaran online UMKM (on boarding UMKM) ke ekonomi digital.

“Hal tersebut dapat dicapai melalui sinergi yang baik antara BI dan otoritas terkait, juga dengan pelaku industri, sehingga dapat mendukung kemajuan dan keunggulan Indonesia,” ujar Sugeng dalam seminar di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, kemarin. (*/Ant/E-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More