Selasa 08 Oktober 2019, 09:35 WIB

IHSG Tertekan ke Level 6.000

Ifha Firdausya | Ekonomi
IHSG Tertekan ke Level 6.000

ANTARA/INDRIANTO EKO SUWARSO
Pegawai melintas di depan layar pergerakan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, kemarin.

 

INDEKS harga ­saham gabungan (IHSG) ­terus merosot dalam ­perdagangan sepekan ter­akhir.

Penutupan indeks yang kini bertengger di level 6.000,58 mengembalikan indeks pada posisi dua tahun lalu, yakni pa­­da Rabu, 25 Oktober 2017, indeks menembus level psiko-logis di 6.000,38.

Melemahnya IHSG secara signifikan ke level 6.000,58  menimbulkan kecemasan pasar. Analis Woorisec Korindo Reza Priyambada menyatakan situasi seperti ini ke depannya akan bergantung pada kondisi global.

“Untuk IHSG, depend on ­si­­­­­­tuasi yang ada. Secara ­psi­­­­­­­­­kologis, kalau kondisi global masih belum membaik, pelaku pasar akan cenderung avoid untuk tune in ke market. Mereka lebih memilih wait and see dulu,” ujarnya melalui pesan singkat kepada Media Indonesia, kemarin.

“Kalaupun ada kenaikan, hanya sementara dan cende­­rung dimanfaatkan untuk profit taking lagi. Makanya kenaikan IHSG enggak sustain,” imbuhnya.
Sebelumnya pada perdagangan kemarin, IHSG sempat anjlok di bawah 6.000 ke level 5.997,07 pada pukul 15.00 WIB.

Menurut analis Binaartha Technical Research, M Nafan Aji, rilis data cadangan devisa Indonesia yang menurun ­turut memengaruhi anjloknya IHSG.

“Hasil data cadangan devisa RI per September yang turun dari US$126,4 miliar menjadi US$124,3 miliar membuat pelaku pasar mengambil aksi profit taking sehingga menyebabkan pergerakan IHSG mengalami terjun bebas,” ungkap Nafan kepada Media Indonesia.

Dalam analisis hariannya, Nafan mengungkapkan ­support pertama maupun kedua memiliki range pada 5.907,12 hingga 5.822,47. Adapun resistance pertama maupun kedua memiliki range pada 6.077.33 hingga 6.138.25.

“Berdasarkan indikator, MACD masih berada di area negatif. Sementara itu, Stochastic dan RSI bergerak ke ba­wah di area oversold atau jenuh jual,” tulisnya.

Di sisi lain, lanjutnya, terli­hat pola bearish engulfing line candlestick pattern yang mengindikasikan adanya potensi bearish continuation (melemah) pada pergerakan IHSG sehingga berpeluang menuju support terdekat.

Kondisi rupiah

Pelemahan IHSG juga sejalan dengan pelemahan di pasar keuangan. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta kemarin  sore melemah seiring mem-baiknya data ekonomi AS.

“Rupiah ditutup melemah 25 poin atau 0,18% menjadi 14.163 per dolar AS dari posisi sebelumnya 14.138 per dolar AS,” ujar Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi seperti dikutip dari Antara.

Ia mengatakan ­kekhawatiran resesi memudar setelah data penciptaan lapangan kerja di luar sektor pertanian (non farm payroll) AS periode September 2019 versi resmi pemerintah diumumkan sebanyak 136.000 orang, di bawah ekspektasi 145.000 orang.

“Namun, tingkat pengang-guran untuk periode yang sama tercatat turun ke level 3,5%, dari sebelumnya 3,7% pada bulan Agustus. Tingkat pengangguran di level 3,5% tersebut merupakan yang terendah dalam 50 tahun terakhir,”  ujar Ibrahim.

Kendati demikian, lanjut Ib­­rahim, hal tersebut tidak banyak mengubah ­ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, The Fed, akan memangkas suku bunga pada tinjauan kebijakan berikutnya pada 29-30 Oktober 2019 untuk mendukung ekonomi. (E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More