Senin 07 Oktober 2019, 21:15 WIB

Kasus Pemukulan, Gerindra Diimbau Evaluasi Ketua DPRD Jabar

Bayu Anggoro | Nusantara
Kasus Pemukulan, Gerindra Diimbau Evaluasi Ketua DPRD Jabar

MI/Bayu Anggoro
Pakar politik Universitas Padjajaran, Muradi.

 

PARTAI Gerindra diimbau mengevaluasi Taufik Hidayat sebagai Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat. Hal ini terkait kasus pemukulan yang dilakukannya terhadap salah seorang aparatur sipil negara (ASN) di Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat.

Pakar politik dari Universitas Padjajaran, Muradi, mengatakan, pemukulan yang dilakukan Taufik telah mencoreng citra partai berlambang burung garuda tersebut. Menurutnya, pemukulan ini telah mencederai pijakan politik Gerindra di Jawa Barat.

Sebab, dia meyakini main hakim sendiri secara fisik bukanlah karakter orang Jawa Barat.

"Itu akan mencederai pijakan politik Gerindra di Jawa Barat. Karena itu bukan karakter orang Jawa Barat. Saya bukan pituin (tokoh), tapi orang Jawa Barat tuh enggak ada yang seperti itu, marah semarahnya paling mulut, enggak sampai pukul," kata Muradi di Bandung, Senin (7/10).

Muradi pun menilai akan lebih baik jika Gerindra mengganti sosok yang ditempatkan sebagai Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat.

"Kalau saya jadi Pak Prabowo, saya akan evaluasi betul," katanya.

Sebab, jika tidak, pemukulan ini akan sangat diingat publik sebagai bentuk arogansi politik dari Gerindra.

"Itu akan diingat publik, dikenang publik sebagai arogansi politik. Itu akan lama," katanya.

Seperti diberitakan, insiden pemukulan diduga terjadi di depan Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat. Hal ini berdasarkan rekaman video pengawas (CCTV) yang beredar di kalangan wartawan sejak Kamis (5/10).

Dalam rekaman video selama 38 detik itu, pemukulan terjadi di luar Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat yang berlokasi di Jalan Diponegoro, Bandung. Pada peristiwa itu, terlihat pemukulan sebanyak dua kali terhadap salah seorang yang terlihat.

Saat dimintai konfirmasi, Kepala Bagian Humas DPRD Provinsi Jawa Barat, Yedi Sunardi, membenarkan kejadian tersebut.

"Saya akan mengklarifikasi apa yang sudah terjadi," kata Yedi di Bandung, Sabtu (5/10).

Meski tidak menegaskan siapa yang dipukul, menurutnya Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat Taufik Hidayat sudah melakukan pertemuan dengan Kepala Sub Bagian Pemeliharaan dan Perlengkapan Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat Bambang Nugraha.

"Dari obrolan yang terjadi secara kekeluargaan, ternyata apa yang diberitakan itu tidak seseram apa yang diberitakan. Mereka sudah bersepakat tidak apa-apa," katanya.


Baca juga: Polri Tegaskan Kondisi Papua Kondusif, 6 Ribu Personel Bersiaga


Dalam kesempatan yang sama, Bambang mengakui bahwa yang menjadi korban pemukulan dalam video itu adalah dirinya. Dia juga membenarkan bahwa pelaku dalam video tersebut adalah Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Taufik Hidayat.

"Memang pada waktu itu kondisinya dalam keadaan capek," katanya.

Menurut dia, pemukulan itu terjadi pada 30 September malam. Kejadian ini berawal dari robohnya pagar Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat
oleh pendemo yang menolak pengesahan rancangan undang-undang.

"Pagar runtuh. Kita benerin lagi, tanggal 30 demo lagi. Pagar rubuh lagi. Dan kita betulkan kembali," katanya.

Dalam peristiwa itu, menurut dia Taufik ingin perbaikan pagar agar segera diselesaikan. Namun, karena pihaknya tidak sanggup menyiapkan tenaga kerja yang banyak, protes dilakukan Taufik sehingga akhirnya terjadi pemukulan.

"Mungkin akibat konsentrasi, kecapean, lelah, Pak Ketua spontan (memukul). Akibatnya terjadi (pemukulan) hal di luar prediksi, spontanitas. Mungkin kelelahan, jadi beban," katanya.

Dia menyebut, pemukulan itu terjadi karena adanya keterlambatan perbaikan pagar.

"Mungkin karena ada keterlambatan dalam perbaikan," katanya.

Bambang mengakui, dirinya sudah melakukan komunikasi dengan Taufik pascaberedarnya video tersebut.

"Semalam Pak Ketua (DPRD Provinsi Jawa Barat) sudah mengundang saya ke rumahnya. Saya datang, di situ memang cair suasananya," katanya.

Menurut dia, Taufik sudah mengajukan permintaan maaf atas pemukulan yang terjadi.

"Khilaf, kita saling memaafkan. Tidak menjadi permasalahan lebih lanjut lagi. Kita ingin kerja sejalan, kerja harmonis," katanya.

Bambang melanjutkan, dirinya tidak mengetahui dari mana video tersebut beredar.

"Kejadiannya malam, saya tidak tahu beredarnya dari mana," katanya. (OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More