Senin 07 Oktober 2019, 19:20 WIB

Indonesia Ingin Terapkan Jaringan 5G, Ini Tantangannya

Atalya Puspa | Humaniora
Indonesia Ingin Terapkan Jaringan 5G, Ini Tantangannya

AFP
Jaringan 5G

 

STUDI terbaru dari perusahaan konsultan manajemen global AT Kearney bertajuk '5G in ASEAN: Reigniting growth in enterprise and consumer markets' mengungkapkan sejumlah tantangan dalam penyediaan layanan 5G di Indonesia.

Salah satu tantangan besar dalam hal ini adalah terbatasnya ketersediaan spektrum untuk implementasi layanan 5G serta jaringan suboptimal yang dihasilkan.

Implementasi layanan 5G akan dilakukan pada sejumlah band, dengan kebutuhan secara global setidaknya bisa dipenuhi melalui ketersediaan tiga band dalam waktu dekat, yaitu low band (700 MHz), mid-band (3.5 to 4.2 GHz), dan high band pada spektrum mmWave (24 hingga 28 GHz).

Di ASEAN, banyak dari band-band tersebut telah digunakan untuk layanan lain. Low band misalnya digunakan untuk FTA TV, dan mid-band digunakan untuk layanan satelit.

"Meskipun tersedia mmWave, penyebarannya perlu dikombinasikan dengan spektrum low band untuk memungkinkan cakupan wilayah pinggiran kota dan pedesaan yang layak secara ekonomi serta akses dalam gedung," kata kata peneliti dari AT Kearney, Hari Venkataramani, di Jakarta, Senin (7/10).

Selain itu, Hari menyebut, operator perlu berhati-hati dalam membangun produk 5G mereka dan menetapkan harga untuk portofolionya di tengah upaya migrasi pelanggan ke jaringan berkecepatan tinggi.

Berbeda dengan teknologi 3G dan 4G, pelanggan akan menyambut baik ketersediaan layanan 5G dan bersedia membayar untuk kualitas yang lebih baik.


Baca juga: Inovasi Mahasiswa Unpam Juara di Ajang I3E 2019


Pasalnya, akan fatal bagi operator untuk terlibat dalam perang harga untuk menarik lebih banyak pelanggan dengan harapan bisa membebankan biaya lebih banyak kepada pelanggan pada tahapan berikutnya.

Untuk itu, dari sisi perusahaan, operator perlu membangun kapabilitas baru perusahaan dan menyediakan layanan yang bisa menggabungkan konektivitas tingkat tinggi dengan solusi serta aplikasi untuk membantu pelanggan memahami, mengimplementasikan, dan mengembangkan pemanfaatan nilai tambah teknologi 5G.

Selain itu, operator juga harus bersaing dengan berbagai pesaing baru yang menyediakan jaringan pribadi untuk perusahaan.

Hari menambahkan, potensi bisnis yang muncul dari implementasi 5G di ASEAN sangat besar. Namun, untuk mencapai potensi penuh, kawasan ASEAN perlu memahami bagaimana menghadapi tantangan utama dalam implementasi tersebut.

"Perlu upaya yang terkoordinasi dari semua pemangku kepentingan seperti regulator, operator, dan perusahaan untuk mengatasi tantangan ini," ucapnya.

Mengingat tantangan ekosistem dan nilai besar yang dipertaruhkan, regulator akan memainkan peran sentral dalam hal ini.

Adapun, dirinya menilai dalam hal ini regulator harus memastikan ketersediaan spektrum jangka pendek, mendorong untuk berbagi infrastruktur, dan memelihara pengembangan kemampuan keamanan keamanan siber nasional di seluruh kawasan. (OL-1)

Baca Juga

Istimewa

Polri Ajak Humas Pemerintah Kerjasama Konter Isu Negatif

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 19:00 WIB
POLRI mengajak jajaran humas instansi pemerintah yang tergabung dalam Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) untuk turut serta...
MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI

Sepekan PSBB, Pergerakan Orang Mulai Meningkat

👤Astri Novaria 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 18:51 WIB
Pengamat Bidang Ekonomi The Indonesian Institute M. Rifki Fadilah mengatakan sepekan setelah PSBB Transisi di Jakarta terjadi peningkatan...
MI/Indrastuti

Ini Kata Pakar Tentang Impostor Syndrome

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 18:25 WIB
Impostor syndrome merupakan kondisi di mana seseorang tidak mampu menerima dan menginternalisasi keberhasilan yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya