Senin 07 Oktober 2019, 19:10 WIB

Universitas Andalas Kukuhkan Dua Guru Besar

Yose Hendra | Humaniora
Universitas Andalas Kukuhkan Dua Guru Besar

youtube
Universitas Andalas mengukuhkan dua Guru Besar.

 

UNIVERSITAS Andalas mengukuhkan dua Guru Besar tetap dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Ekonomi (FE) di Gedung Convention Hall Kampus Unand Limau Manis, Padang, Sumatra Barat, Senin (7/10).

Kedua Guru Besar tersebut yakni Prof Dr Herwandi MHum sebagai Guru Besar tetap dalam bidang ilmu arkeologi, sedangkan Prof Dr Fashbir Noor Sidin MSP sebagai Guru Besar tetap dalam bidang ilmu ekonomi perkotaan.

Pengukuhan dua Guru Besar ini dihadiri oleh Guru Besar tamu dari Universitas Islam Sumatera Utara Prof Djohar Arifin Husin PhD.

Pemasangan kalung tanda kehormatan dipasangkan langsung oleh Ketua Majelis Guru Besar (MGB) Universitas Andalas Prof Dr Fauzan Azima  MS didampingi oleh Wakil Rektor II Prof Dr Syafrizal Sy, serta Sekretaris MGB Prof Dr Erizal Mukhtar MS, Dekan FE Dr Harif Amali Riva'i dan Dekan FIB Dr Hasanuddin MSi.

Dalam pengukuhan ini, Herwandi menyampaikan orasi ilmiah terkait dengan Arkeologi Seni: Pola Hias dari Artefak seni ke motif batik kreatif di Sumatra Barat.

Menurutnya, pusat persebaran batik bukan saja di Pulau Jawa, melainkan juga di Sumbar. Dari hasil penelitiannya, tradisi menggambar di atas kain dengan canting merupakan asli budaya Indonesia.

"Batik di Sumbar dipengaruhi sejarah para raja dan kesultanan di Pulau Jawa," ujarnya.

Herwandi mengatakan, tradisi membatik di Sumbar sudah berlangsung sejak abad ke-13 Masehi. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya patung amoghapasa di Dharmasraya. Patung itu dikirim dari Jawa oleh Raja Singosari Kertanegara ke Dharmasraya ketika terjadi peristiwa Pamalayu pada 1298.

"Amoghapasa merepsentasikan seorang tokoh yang memakai carik yang bermotif batik. Di sekitarnya juga ditemukan gerabah yang dihiasi pola bungaan yang juga jadi pola hiasan batik di Jawa," tandasnya.

Selanjutnya, yang bisa dikatakan periode kedua perkembangan batik, berlangsung pada abad ke-16. Seni batik terlihat di pusat kekuasaan Kerajaan Pagaruyung. Batik diperdagangkan tidak hanya dari Jawa, bahkan juga ke China. Mundurnya Kerajaan Pagaruyung turut memundurkan seni batik.


Baca juga: Tiga Peneliti Tentang Sel Menangi Penghargaan Nobel Kedokteran


Periode selanjutnya, sambung Herwandi, pada masa penjajahan Belanda. Saat itu, penjajah menghentikan pasokan kain batik dari Jawa. Kondisi ini membuat sejumlah pedagang mulai memproduksi batik sendiri. Periode keempatnya pada masa awal kemerdekaan.

"Saat itu, tercatat sejumlah pengusaha batik di Pariaman, Payakumbuh. Sejumlah kota-kota lain juga sudah memiliki sentra batik. Hingga pada 1994 tidak lagi jelas perkembangannya," kata Herwandi.

Industri batik dapat angin segar pada akhir abad ke-20. Usaha dari Gubernur Sumbar, Hasan Basri Durin (1987-1997), bersama istrinya kembali menghidupkan industri batik di Sumbar. Hasan Basri memotivasi perajin batik dengan mengirimkan mereka belajar ke Yogyakarta pada 1994.

"Sejak saat itu muncul sejumlah orang-orang yang berminat untuk mengembangkan batik sampai saat ini," tukasnya.

Menurutnya, masih banyak peluang untuk usaha batik di Sumbar. Sebagai industri kreatif, masih banyak kekurangan SDM. Kadang karena tidak mampu memenuhi pesanan pasar, malah memesan ke sentra produksi batik di Jawa.

"Permintaan pasar sebetulnya jauh lebih besar dari permintaan yang ada, namun tidak terpenuhi oleh produksi lokal," pungkasnya.

Lalu, Fashbir Noor Sidin, menyampaikan orasi ilmiahnya tentang Penyediaan dan Pembiayaan Rumah untuk Kesejahteraan Sosial di Indonesia.

Fauzan mengatakan pengukuhan hari ini adalah pengukuhan yang keenam yang dilakukan pada 2019 dengan total 15 orang Guru Besar dari berbagai disiplin ilmu.

"Sebelum 2020, Universitas Andalas berencana akan mengukuhkan empat orang Guru Besar lagi sehingga total Guru Besar yang dikukuhkan di tahun ini sebanyak 19 orang," ungkapnya.

Disampaikannya, untuk 2020, Universitas Andalas kemungkinan besar lebih banyak lagi Guru Besar karena pada saat ini sudah ada yang
mendaftar sebanyak 18 orang Guru Besar yang akan dikukuhkan.

"Saat ini berdasarkan rasio Guru Besar dan dosen Universitas Andalas menduduki peringkat keenam dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia," ujarnya.

Kondisi ini belum termasuk empat orang Guru Besar yang baru saja menerima SK Guru Besarnya dalam minggu kemarin, hingga sekarang Guru Besar Universitas Andalas berjumlah 153 orang.

"Delapan orang lagi sedang diproses di Kemenristekdikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi) sehingga di tahun ini Universitas Andalas memiliki 161 Guru Besar," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor II Universitas Andalas, Syafrizal, mengatakan, menjadi Guru Besar bukanlah akhir pencapaian karier seorang
dosen tetapi menjadikan gelar pengukuhan ini sebagai spirit yang senantiasa membangkitkan inspirasi baru guna melahirkan karya-karya yang brilian dan bermanfaat untuk khalayak umum.

Ia meminta kepada Lektor Kepala untuk secepatnya mengusulkan menjadi Guru Besar karena di Universitas Andalas sendiri sudah ada skim-skim riset di antaranya riset Guru Besar dan riset percepatan Guru Besar serta riset dari PNBP dari masing-masing fakultas. (OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More