Senin 07 Oktober 2019, 12:48 WIB

Tantangan Kurikulum Pendidikan Abad Ke-21

Pegiat sastra dan peminat budaya Vito Prasetyo | Opini
Tantangan Kurikulum Pendidikan Abad Ke-21

Duta
Ilustrasi

BAGAI buah simalakama, seiring majunya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), semakin besar pula tantangan dunia pendidikan yang dihadapi. Peran Iptek ialah bagian sangat penting dalam rotasi zaman. Banyak pengamat dan ilmuwan sepakat bahwa abad ke-21 juga dikatakan sebagai era globalisasi. Era yang mana persaingan semua ruang lingkup menjadi ukuran atas kemampuan penguasaan Iptek. Demikian juga dampak yang muncul terhadap dunia pendidikan. Mampukah sistem pendidikan kita menjawab semua tantangan itu?

Ada banyak pertanyaan yang muncul dalam mencari solusi dari akar permasalahan yang dihadapi pendidikan kita. Masalah dasar juga masih menjadi ‘benang merah’ sistem pendidikan kita yang sampai saat ini masih belum tuntas untuk menjawab tantangan abad ke-21.    

Berbagai kendala yang merintangi akses pendidikan era globalisasi seharusnya sudah mampu dipecahkan sebab dengan berjalannya kemajuan Iptek tentu akan menimbulkan perubahan dan pergeseran secara luas. Perubahan dan pergeseran ini terjadi karena dampak dari efek domino yang dimunculkan pengembangan sumber ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.
Menyinggung sistem pendidikan kita secara formal tentu tidak terlepas dari pemberlakuan kurikulum yang dipakai sebagai standar nasional. Awal pemberlakuan Kurikulum 2013 atau yang dikenal sebagai K-13 beberapa tahun silam, terjadi pro dan kontra, terutama di kalangan akademisi. Akan tetapi, seiring waktu berjalan kurikulum ini menjadi sebuah pilihan dan kebutuhan yang tepat bagi standar pendidikan nasional.

Kurikulum ini berbasis karakter dan kompetensi yang mewajibkan peserta didik aktif dalam pembelajaran karena dalam konteks era globalisasi akan banyak terjadinya pergeseran dan perubahan nilai-nilai etika budaya, terutama perubahan pada krisis moral.

Kendala pendidikan

Pemberlakuan Kurikulum 2013 tentu bertujuan memenuhi standar pendidikan nasional yang berkarakter. Sebagaimana mengacu pada UU No 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa kurikulum ialah seperangkat rencana dan peng­aturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.

Dalam bingkai K-13 ini telah mencakup integrasi UU itu. Dengan kata lain, kurikulum ini ialah kurikulum terpadu yang mengintegrasikan skill, theme, concept, and topic. Konteks itu banyak dipakai negara maju, AS, salah satu contohnya.

Tentu konteks itu diharapkan menjadi salah satu faktor untuk mengukur sejauh mana kurikulum ini dapat memberi output (hasil), juga bagaimana metode pembelajaran dan penilaian. Jika di atas disampaikan bahwa kemajuan Iptek juga akan berdampak pada tantangan pendidikan, bukanlah sebuah analisis tanpa sebab.

Mungkin dengan berbagai cara sistem pendidikan kita mampu menjawab tantangan Iptek. Akan tetapi, kendala dasar harus segera dituntaskan karena tujuan pendidikan nasional berwawasan kebangsaan menyeluruh, yang tidak mengecualikan antara perkotaan dan pedesaan.

Saat ini kita masih menghadapi beberapa kendala, antara lain: keterbatasan akses pendidikan (ruang kelas), jumlah guru yang belum merata, serta kualitas guru yang masih kurang di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Kendala itu tentu harus segera didorong menuju percepatan pembangunan yang berorientasi SDM. Jika perlu dibuatkan rumusan atau kerangka landasan hukumnya! Kita tidak lagi pada posisi uji coba dalam sistem pendidikan nasional sebab salah satu pendukung yang berbasis teknologi digital (online) sudah merambah di mana-mana. Teknologi itu bisa dimanfaatkan sebagai sumber informasi cepat.

Kemajuan teknologi sekaligus juga menciptakan daya bersaing SDM yang makin ketat. Tidak dapat dimungkiri bahwa dinamika era sekarang lebih banyak menggantungkan sistem pembelajaran yang menggunakan kecepatan teknologi. Sumber ilmu pengetahuan seakan terjadi eksodus besar-besaran dalam memanfaatkan teknologi digital (online). Itu akan berbanding lurus dengan terjadinya isu-isu global, sejurus kepentingan politik yang dianggap lebih penting dalam kerangka kesatuan bangsa. Isu-isu itu juga memunculkan dampak yang tidak sedikit dalam proses pembenahan sistem pendidikan kita. Salah satunya, isu-isu yang sangat populer di kalangan masyarakat, yaitu hoaks.

Kita boleh berbangga ketika salah seorang anak bangsa menjuarai kompetisi inovasi teknologi tingkat Asia Tenggara. Pelajar itu telah menemukan situs pencarian hoaks. Penemuan alat pendeteksi hoaks memanfaatkan teknologi machine learning dan kecerdasan buatan. Akan tetapi, dampak yang ditimbulkannya juga seperti sederhananya alat penciptaan antivirus sekaligus bermunculan virus baru lainnya.

Adanya konten manipulasi yang sering diistilahkan sebagai deepfake juga memanfaatkan kecerdasan buatan. Itu menjadi lahan baru para pebisnis teknologi. Pertanyaannya, apakah sistem pendidikan kita siap membaca, mengaplikasikan, dalam pembelajaran yang bisa menghasilkan output sesuai tantangan era globalisasi?

STEM dan HOTS

Saat AS menggagas pendidikan yang mengembangkan model pembelajaran STEM (science, technology, engineering, and math) karena pada saat itu telah terjadi kemerosotan bagi sebagian besar anak-anak di AS. Hal itu jika terus berlanjut akan berpengaruh pada masa depan AS. Teknologi ini sangat berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan membentuk karakter peradaban yang lebih maju. Bagaimanapun, secara esensi pendidikan sangat memerlukan metode pembelajaran yang efektif dalam menjawab tantangan hingga memberikan nilai ukur yang akurat.

Melalui kerja sama dengan United States Agency for International Development (USAID), Indonesia mulai mengembangkan model pembelajaran berbasis STEM. Sebagai sebuah usaha tentunya kita berharap tidak hanya menjadi retorika di lingkungan pendidikan hingga mencoreng dunia pendidikan. Maka itu, di sini pentingnya penjagaan sistem pendidikan melalui kekuatan yuridis formal terpadu. Sistematika kurikulum yang berlaku menjadi domain penting dalam membentuk karakter masa depan hingga mampu menjawab semua tantangan.

Menyoal higher older thinking skills (HOTS) ialah bagaimana cara penerapan model ini untuk mengoptimalisasikan peran guru. Peran guru sangat penting dalam menghadapi pendidikan abad ke-21.

Dalam skematik HOTS, guru dituntut dapat menerapkan Kurikulum 2013 tidak hanya berperan untuk tugas pengajaran, tetapi juga dituntut memberikan output (hasil) yang mampu menjawab tantangan era globalisasi.

Bagaimana mampu menjawab perubahan dan pergeseran nilai estetika untuk memberikan arti dalam pembentukan karakter anak didik. Jadi, STEM dan HOTS hanyalah sebuah model pedoman yang bukan dianggap mampu menjawab tantangan, melainkan bagaimana proses pengaplikasiannya.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More