Senin 07 Oktober 2019, 13:15 WIB

Pekan Kebudayaan Nasional, Gaungkan Kembali Permainan Tradisional

Indriyani Astuti | Humaniora
Pekan Kebudayaan Nasional, Gaungkan Kembali Permainan Tradisional

MI/Indriyani Astuti
Dirjen Kebudayaan KemendikbudHilmar Farid memainkan permainan tradisional di acara Pekan Kebudayaan Nasional di kawasan Istora Senayan.

 

PERMAINAN tradisional yang mulai ditinggalkan diharapkan bisa dimainkan kembali masyarakat.

Dalam Pekan Kebudayaan Nasional yang digelar di kawasan Istora Senayan, Jakarta, pemainan seperti engklek, panah anak sumpit, dan gasing kembali diperkenalkan.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid menuturkan tujuan digelarkan Pekan Kebudayaan Nasional untuk menciptakan ruang partisipasi masyarakat dalam kebudayaan.

"Seperti permainan tradisional perlahan-lahan mulai menghilang. Harapannya, lebih banyak yang akan bisa bermain dan mengenal kembali," ucapnya ketika menghadiri acara kick off di Parkir Selatan Senayan, Jakarta, Senin (7/10).

Hadir dalam acara itu Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Didik Suhardi. Pada malam nanti, Pekan Kebudayaan Nasional akan dibuka Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

Baca juga: Siberkreasi Dorong Netizen Tangkal Konten Negatif

Ia menjelaskan pelaksanaan pekan kebudayaan nasional merupakan salah satu implementasi dari Undang-Undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang di dalamnya mencangkup pemanfaatan, pelestarian, dan pengembangan kebudayaan.

Secara bertahap, kegiatan tersebut dilaksanakan berjenjang mulai dari tingkat kabupaten dan kota, provinsi hingga nasional.

"Setiap dua tahun sekali akan digelar Pekan Kebudayaan Nasional," tutur Hilmar.

UU Pemajuan Kebudayaan mengamanatkan sepuluh objek pemajuan kebudayaan yaitu adat istiadat, bahasa, manuskrip, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, permainan rakyat, ritus, seni, teknologi tradisional, dan tradisi lisan.

Terkait dana untuk Pekan Kebudayaan Nasional 2019, Hilmar mengatakan dilokasikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Adapun daerah yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini juga menganggarkan dari dana mereka sendiri. Nantinya diharapkan dana APBN yang digunakan semakin kecil.

Saat ini, terang Hilmar, pemerintah tengah membahas dana abadi kebudayaan yang merupakan amanat UU tentang Pemajuan Kebudayaan.

Pekan kebudayaan nasional diselenggarakan selama tujuh hari terhitung mulai 7 hingga 13 Oktober 2019 di kawasan Istora Senayan dengan melibatkan 300 kegiatan. Adapun lima agenda utama dalam Pekan Kebudayaan Nasional yaitu kompetisi daerah yang merupakan kompetisi seni khas dari setiap provinsi di Indonesia, kompetisi nasional seperti perlombaan permainan tradisional yang dilaksanakan secara berjenjang, dari desa hingga ibu kota, konferensi pemajuan kebudayaan berupa ruang pencerahan publik yang bertujuan untuk mempersiapkan perencanaan pembangunan berbasis kebudayaan, ekshibisi Kebudayaan yang merupakan pameran artefak-artefak kebudayaan, purwarupa teknologi pemajuan kebudayaan, dan pagelaran karya budaya bangsa yang merupakan pertunjukan seni dan pawai dengan tema parade digdaya Nusantara yang menggalang partisipasi dari pelaku budaya se-Indonesia. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More