Minggu 06 Oktober 2019, 19:20 WIB

Survei: Mayoritas Publik tidak Percaya Demo Mahasiswa Ditunggangi

Akmal Fauzi | Politik dan Hukum
Survei: Mayoritas Publik tidak Percaya Demo Mahasiswa Ditunggangi

ANT/Riska Hasnawaty
Sejumlah mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, beberapa waktu lalu.

 

LEMBAGA Survei Indonesia (LSI) menemukan mayoritas masyarakat tidak percaya demonstrasi mahasiswa yang menentang revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ditunggangi oleh kelompok yang anti terhadap Presiden Joko Widodo.

Dalam survei teranyar LSI, hanya 16,4% responden menilai demonstrasi mahasiswa beberapa hari lalu digerakkan oleh orang-orang yang anti terhadap Presiden Jokowi. Serta, hanya 11,8% responden menilai gerakan mahasiswa ditumpangi oleh kelompok anti-Jokowi.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia Djayadi Hanan mengatakan, masyarakat bisa membedakan demonstrasi arus utama mahasiswa yang bertujuan untuk menentang revisi UU KPK dan sejumlah rancangan undang-undang.

"46,8% masyarakat bisa membedakan ada yang ingin gagalkan pelantikan dan ada demo yang menentang revisi UU KPK," jelasnya.


Baca juga: Gerakan Mahasiswa Dinilai kurang Terkonsolidasi


Sementara, mayoritas responden menilai demonstrasi mahasiswa bukan untuk menggagalkan pelantikan presiden. Sebanyak 35,2% masyarakat setuju demonstrasi untuk menggagalkan pelantikan presiden, sedangkan 43,9% tidak setuju demonstrasi mahasiswa untuk menggagalkan pelantikan presiden.

"Cukup banyak demo dianggap untuk menggagalkan pelantikan sebanyak 35,2%. Tapi lebih bayak lagi yang tidak setuju," ujar Djayadi.

LSI melakukan survei melalui sambungan telepon pada 4-5 Oktober 2019. Survei melibatkan 1.010 responden yang dipilih secara stratified random sampling. Survei memiliki margin of error 3,2% pada tingkat kepercayaan 95%. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More