Minggu 06 Oktober 2019, 18:55 WIB

Gerakan Mahasiswa Dinilai kurang Terkonsolidasi

Mediaindonesia.com | Politik dan Hukum
Gerakan Mahasiswa Dinilai kurang Terkonsolidasi

Antara
Ilustrasi: Sejumlah mahasiswa menggelar unjuk rasa di sekitaran Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/10).

 

AKTIVIS mahasiswa 98 Adian Napitupulu menilai karakteristik demonstrasi mahasiswa yang meletup pada September lalu jauh berbeda dengan demonstrasi di eranya. Demonstrasi kali ini dinilai tidak didahului dengan konsolidasi massa yang panjang.

“Dahulu konsolidasi massa kami sangat panjang dimulai dari 9 hingga 14 bulan. Diawali dari mimbar bebas dari kampus ke kampus sebagai uji gagasan,” kata Adian dalam keterangan pers yang diterima Media Indonesia, Minggu (6/10).

Baca juga:  Trotoar Jadi Prioritas, Simpang Tak Sebidang Terpinggirkan

Akibat tidak didahului dengan konsolidasi massa yang panjang, gerakan mahasiswa pada September 2019 yang menolak revisi UU KPK dan sejumlah undang-undang lainnya cenderung tidak terlatih dalam situasi bentrok. Gerakan itu malah pecah menjadi kerusuhan yang membuahkan korban.

“Konsolidasi massa enggak bisa lewat media sosial. Selenggarakanlah mimbar bebas dari kampus ke kampus,” tegas Aktivis Forkot pada 1998 tersebut.

Pemikiran Adian itu sempat dituangkan dalam Dialog Aktivis Lintas Generasi di Balai Sarwono, Jakarta Selatan, Sabtu (5/10). Ratusan alumni Pangudi Luhur dan aktivis lintas generasi berdialog membahas berbagai isu nasional.

Mantan aktivis mahasiswa 98 lainnya, Fadjroel Rachman, menjelaskan rancangan undang-undang (RUU) akhirnya ditunda pemerintah karena ada beberapa hal di dalam RUU tersebut bermasalah dan banyak diprotes oleh masyarakat.

Kepra, yang merupakan alumni Pangudi Luhur dan juga alumni FE Universitas Indonesia, mengatakan yang paling dirugikan dengan kondisi yang tidak menentukan adalah masyarakat banyak. (*/A-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More