Minggu 06 Oktober 2019, 19:00 WIB

Produksi Kelapa Sawit di Kalteng Menurun Akibat Kabut Asap

Surya Sriyanti | Nusantara
Produksi Kelapa Sawit di Kalteng Menurun Akibat Kabut Asap

MI/Surya Sriyanti
Produksi kelapa sawit di Kalteng

 

KABUT asap yang terjadi di Kalimantan Tengah selama dua bulan terakhir (Agustus-September 2019) berdampak terhadap Turunnya produksi tonase kelapa sawit.

Kepala Perwakilan BI Kalteng Rihando di Palangka Raya, Minggu (6/10) menjelaskan penurunan produksi kelapa sawit ini karena banyaknya pegawai yang harus dikerahkan kelapangan untuk menjaga agar kebun mereka tidak ikut terpapar kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

"Kondisi berdampak kepada buah sawit yang sudah matang menjadi telat untuk dipanen sehingga mengakibatkan Turunnya tonase produksi,"ujarnya.

Ia juga menyebutkan, kabut asap juga menggganggu kelangsungan hewan penyerbuk sawit sehingga memberikan dampak terhadap bunga betina sawit yang tidak terpolinasi dengan baik .

"Kondisi ini sudah barang tentu sangat  mempengaruhi produksi kelapa sawit pada bulan-bulan berikutnya,"jelas Rihando.

Baca juga : Hutan Lereng Tangkuban Parahu Terbakar

Pernyataan Kepala Perwakilan BI  ini dibenarkan oleh Teguh Patriawan, salah satu pelaku industri perkebunan kelapa sawit di Kalteng.

Ia menyebutkan, penurunan  produksi sawit perhari akibat karhutla mencapai 10-15% saat kondisi terparah.

"Ditempat  saya, karyawan yang tadinya merupakan tenaga panen, tugasnya dialihkan untuk menjaga rembeten api. Hal ini berdampak panen berkurang,"ujarnya.

Menurut pemilik kebun sawit yang berlokasi di Kotawaringin Timur itu,  penurunan produksi 10-15% per hari itu dihitung berdasarkan hasil panenan yang semula 1.100 ton perhari turun menjadi 900 ton atau hilang hampir 200 ton (sekitar 15%).

"Ini karena buah istilahnya brondol atau lewat masa  dipanen jumlahnya meningkat karena adanya pengalihan tugas karyawan panen," keluh Teguh Patriawan.

Dia juga menyebutkan, secara keseluruhan, selama 2 bulan peristiwa kabut asap penurunan produktifitas kebunnya mencapai 40-50%.

Dan besarnya tingkat penurunan ini  sangat tergantung dari ketebalan asap dan seberapa lama asap itu ada. Karena semakin pekat asapnya, maka  sinar matahahari tidak bisa masuk dan diserap oleh daun.

"Jadi perkiraan saya selama dua bulan itu produkjtivitas yang hilang  sekitar 30-40% dengan estimasi  harga Rp1.500/kg," jelasnya. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More