Minggu 06 Oktober 2019, 13:42 WIB

Siberkreasi Dorong Netizen Tangkal Konten Negatif

Thomas Harming Suwarta | Humaniora
Siberkreasi Dorong Netizen Tangkal Konten Negatif

Istimewa
Menkominfo Rudiantara (ketiga dari kiri) saat membuka Siberkreasi 2019 di Jakarta, Minggu (6/10).

 

MARAKNYA konten negatif yang menghiasi dunia maya saat ini, membuat pemerintah dan banyak pihak prihatin. Konten negatif bisa berupa info yang tidak benar (hoaks), cyber bullying, maupun gambar yang melanggar nilai serta norma yang berlaku di masyarakat.

Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi sebagai gerakan multistakeholders yang terdiri dari kementerian, akademisi, komunitas, media dan juga private sector mendorong agar masyarakat bisa memiliki tingkat pemahaman yang baik sehingga mampu menangkal konten-konten negatif.

"Literasi digital sangat penting, karena tingkat pengetahuan masyarakat masih belum baik. Pasalnya, era digital ini sangat cepat dan sulit dibendung informasinya," ungkap Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara saat membuka Siberkreasi 2019 di Jakarta, Minggu (6/10).

Rudiantara mengatakan, hidup di era digital memudahkan masyarakat untuk mendapatkan, berbagi, hingga mengolah informasi. Namun demikian mudahnya arus informasi di era digital, membuat banyak pihak juga menghadapi berbagai tantangan yang muncul.

Banyaknya konten negatif berupa hoaks, cyber bullying, dan online radicalism, kata Menkominfo, harus direspons serius.

"Untuk itulah Siberkreasi muncul sebagai gerakan nasional berupaya untuk menanggulangi hal-hal tersebut dengan melakukan literasi digital," ucap Rudiantara.

"Kita mendorong netizen Indonesia untuk aktif berpartisipasi dalam menyebarkan konten positif secara konsisten di dunia maya. Sehingga dengan memanfaatkan perkembangan teknologi ini kita bisa berkembang dan produktif di dunia digital," paparnya.

Rudiantara pun mendukung langkah Siberkreasi menyebarkan literasi digital sekaligus menjadi suatu kegiatan positif yang membuat masyarakat menjadi lebih tahu dan mengerti dalam menggunakan internet secara bertanggung jawab.

“Berbagai macam informasi bisa kita dapatkan di media sosial, baik yang positif maupun yang negatif. Untuk itu dibutuhkan literasi digital agar masyarakat luas mampu memilih dan memilah konten serta memerangi info hoax, hate speech, dan berita negatif lainnya," jelas Rudiantara.

Staf khusus Presiden Bidang komunikasi Adita Irawati menambahkan saat ini perlu netizen pintar yang bisa menyebarkan informasi yang berdasarkan fakta yang akurat dan terverifikasi.

"Netizen pintar adalah individu yang mampu menyaring sebaran informasi dan melakukan cek-ricek untuk informasi yang ada sebelum dibagikan. Atau tidak perlu sama sekali dibagikan," ujar Adita.

Lebih jauh Adita menegaskan pihaknya membuat konten informatif melalui konsep dan visualisasi yang optimal, sehingga menjangkau target yang hendak dituju.

"Kami berupaya untuk memilah mana konten yang layak untuk disebarkan dan mana yang tidak secara selektif. Tujuannya menghindari miskomunikasia dan segala yang bisa digeneralisir ke arah negatif," ungkap Adita.

Siberkreasi Netizen Fair 2019 kali ini mengangkat tema 'Creator Generation' mengajak anak bangsa khususnya generasi muda lebih bebas menuangkan dalam berekspresi serta mendorong anak muda agar mampu memanfaatkan teknologi dengan memproduksi konten positif yang bisa berguna bagi banyak orang.

Setelah dua tahun sejak diluncurkan pada 27-29 Oktober 2017 di Jakarta, Siberkreasi telah berhasil mewadahi 103 lembaga dan komunitas dari berbagai unsur.

Siberkasi juga menjangkau 442 lokasi dengan lebih dari 200 ribu peserta aktif dan bersinergi dengan lebih dari 12.000 relawan lokal seperti Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Indonesia dan Pandu Digital. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More