Minggu 06 Oktober 2019, 13:05 WIB

Padi Terancam Gagal Panen di Kupang Capai 150 Hektare

Palce Amalo | Nusantara
Padi Terancam Gagal Panen di Kupang Capai 150 Hektare

ANTARA FOTO/Jojon
Petani berjalan dipematang sawah tanaman padi yang dilanda kekeringan akibat kemarau di areal persawahan Kelurahan Ranomeeto, Konawe Selatan

 

LUAS areal tanaman padi yang terancam gagal panen akibat kekeringan di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah.

Sampai Minggu (6/10), tanaman padi yang kekeringan telah mencapai 150 hektare (ha) atau bertambah dari laporan sebelumnya 70 ha.

Wakil Bupati Kupang Jery Manafe mengatakan tanaman padi yang kekeringan terdiri dari 100 ha di persawahan Dendeng dan 50 ha di persawahan Noelbaki. Tanah sawah terlihat retak-retak dan daun tanaman padi mulai mengering.

Kekeringan yang melanda dua persawahan itu disebabkan kemarau panjang yang mengakibatkan volume air Bendungan Tilong kritis sehingga tidak dapat dialirkan lagi ke persawahan.

"Kejadian ini tidak terduga sebelumya karena sesuai laporan Balai Sungai Nusa Tenggara II, pasokan air dari Bendungan Tilong masih berlangsung sampai Oktober," ujarnya.

Baca juga: Gagal Panen Akibat Kekeringan, Petani Kupang Pasrah

Untuk menyelamatkan tanaman padi dari gagal panen, mulai Senin (7/10), Pemerintah Kabupaten Kupang mengirim bantuan peralatan untuk membuka sumur bor.

"Kami akan bangun lima sumur bor di persawahan, kemudian dibantu dengan pompa untuk mengalirkan air ke persawahan," ujar Jery Manafe.

Menurut Dia, air akan dialirkan dari dalam tanah mengunakan pipa ukuran 8-12 inci ke persawahan untuk menyelamatkan tanaman.

"Jika air sudah dialirkan, taman padi masih bisa tertolong," tuturnya

Namun, sebagian besar tanaman padi di persawahan Dendeng seluas 225 ha dan persawahan Noelbaki seluas 150 ha masih tersedia air sehingga bisa bertahan sampai panen raya akhir Oktober sampai awal November 2019.

Kondisi yang terjadi di dua areal persawahan itu berbeda dengan tiga areal persawahan lainnya yang berada di kecamatan tersebut, yakni Manikin, Tarus, dan Air Sagu. Sesuai pantauan, pasokan air ke tiga persawahan itu lancar, berasal dari mata air Tarus dan Sagu.

"Kami akan memasuki panen raya akhir Oktober ini," kata petani di Persawahan Manikin Mesak Dethan.

Dia mengatakan pasokan air ke persawahan cukup, bahkan petani di persawahan itu tidak pernah mengalami kekerungan air selama kemarau.

"Persawahan ini mendapat pasokan air dari mata air yang tidak pernah kering, beda dengan persawahan lainnya yang mendapat pasokan air dari bendungan," ujarnya.(OL-5)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More