Minggu 06 Oktober 2019, 12:20 WIB

Kekeringan Sumber Air Baku, Sekolah di Flotim Beli Air

Ferdinandus Rabu | Nusantara
Kekeringan Sumber Air Baku, Sekolah di Flotim Beli Air

MI/Ferdinandus Rabu
Anak sekolah menenteng jerigen

 

KEMARAU yang sudah berlangsung selama enam bulan sejak April di Kabupaten Flores Timur (Flotim), Provinsi Nusa Tenggara Timur, menyebabkan kekeringan pada sumber air baku milik Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) sehingga menghambat distribusi pelayanan air bersih bagi 6.300 pelanggan yang tersebar di Kota Larantuka.

Direktur PDAM Flotim Fransiskus M Carvalho mengakui debit air baku terus menurun drastis hingga tersisa 21 liter per detik membuat PDAM lebih berhemat dan membatasi jadwal pembagian air bersih. Kemarau kali ini disebut cukup ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Kemarau tahun ini memang lebih terasa parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dua sumber air baku kami terus menurun debit airnya. Seperti di sumber air Lepomatan yang biasanya 70 sampai 100 liter per detik, tetapi sejak kemarau ini, debit air turun jauh sekali hingga tersisa 24 liter per detik atau turun hingga 80 liter/detik," kata Carvalho saat dihubungi, Sabtu (5/10).

Begitu juga sumber air baku di Waidoko yang biasa dioperasikan dengan pompa juga menurun, biasanya 42 liter per detik turun dan tersisa hanya 24 liter per detik. Kondisi ini membuat PDAM kewalahan melayani pembagian air. Biasanya debit air baku sekitar 65 liter per detik untuk mampu melayani seluruh pelanggan. Tetapi karena saat ini hanya tinggal 21 liter per detik, maka pelayanan air bersih tidak maksimal.

Baca juga: Bupati Flotim Tolak Minum Air Kemasan Saat Pelantikan Ketua DPRD

Untuk mengatasi hal ini, PDAM mulai lebih berhemat untuk pembagian air bersih yang biasanya melayani para pelanggan 2 kali dalam sehari. Kini hanya mampu melayani 4 hingga 5 hari sekali bagi para pelanggan, karena debit air mulai kering dan menurun drastis.

Kesulitan air bersih juga dirasakan sejumlah sekolah di wilayah terdampak kekeringan, seperti SMP Negeri Tanjung Bunga. Sekolah ini sudah bertahun-tahun harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan.

"Kami selalu kesulitan untuk kebutuhan air bersih di sekolah ini, seperti untuk kebutuhan minum, MCK, kebersihan taman dan ruangan sekolah, sehingga biasanya dua kali dalam seminggu kami harus membeli air. Sekali beli 7 drum dengan harga satu drum Rp15 ribu, jadi total sekali beli kami harus mengeluarkan uang Rp100 ribu," ujar Kepala Sekolah SMPN Tanjung Bunga Kornelis Koten.

Kornelis mengatakan dalam seminggu pihaknya bisa membeli air hingga dua kali. Jika dikalikan untuk satu bulan, maka kebutuhan membeli air bersih merogoh kocek hingga Rp800 ribu.

Pihaknya kini sedang melakukan pendekatan dengan desa tetangga yang memiliki sumber mata air agar dapat mengalirkan air ke sekolah ini.

"Kami juga sangat berharap agar pemerintah daerah bisa membantu membuka jaringan air di daerah ini, sehingga dapat dialirkan ke sekolah kami," pungkasnya.(OL-5)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More