Minggu 06 Oktober 2019, 07:10 WIB

Saat Gerakan Sosial Harus Mengakomodasi Kebutuhan Eksis Anak Muda

Fetry Wuryasti | Weekend
Saat Gerakan Sosial Harus Mengakomodasi Kebutuhan Eksis Anak Muda

MI/ Fetry Wuryasti
(Dari kiri ke kanan) Yunie Jie, Claudia Halim, Jemi Ngadio, Axton Salim, dan Dian Sastro mengisi kelas di IdeaFest 2019, Sabtu (5/10).

GAYA hidup medsos telah melahirkan kebutuhan baru di kalangan anak muda. Demi terus eksis, banyak diantara mereka yang merasa harus rutin membuat unggahan dan tentu saja, yang menampilkan kekinian dan segala hal keren.

Sekilas memang tampak meresahkan. Di sisi lain, ketika gaya hidup itu telah mengglobal dan sulit dibendung, mau tidak mau berbagai pihak yang memiliki kepentingan dengan anak muda pun berusaha mengikuti atau mengakomodasi kebutuhan eksis tersebut.

Hal itu pula yang dilakukan beberapa gerakan dan yayasan sosial. Yayasan 1000 Guru Foundation membuat program yang memadukan kegiatan traveling dengan mengajar di pedalaman.

"Anak muda kini seperti memiliki tambahan kewajiban baru untuk memperbaharui konten di akunnya. Itu yang membuat anak muda menjadikan traveling sebagai hobi. Peluang ini ditangkap 1000 Guru untuk menggerakan anak muda berjalan-jalan sembari mendapat pengalaman mengajar di pedalaman," tutur Founder 1000 Guru Foundation, Jemi Ngadio dalam sebuah acara kelas di IdeaFest 2019, Sabtu (5/10).

Jemi mengungkapkan jika kesadaran akan kebutuhan guru di berbagai daerah di Indonesia, telah tumbuh sejak dirinya tinggal di panti asuhan pada tahun 2000-2005. Pengalaman Jemi kemudian bertambah saat pada sebuah NGO sebagai juru kamera dan menjelajah ke pedalaman.

Di sana matanya terbuka bahwa masih banyak sekali anak-anak pedalaman yang tidak tersentuh pendidikan, teknologi bahkan sosial media. Untuk kehidupan sehari-hari pun pakaiannya sering tidak lengkap dan mengalami kurang gizi.

Jemmy lalu membuat akun Twitter @1000_guru yang berfungsi sebagai medianya menyuarakan kisah sekolah di pedalaman sebagaimana dituturkan para pengajar di sana. Meski begitu, langkahnya untuk menggaet anak muda untuk bertraveling sembari mengajar, tidaklah mulus.

Sebab meski dalam satu tahun jumlah pengikut akunnya mencapai 20 ribu, namun ketika dia membuka trip untuk mengajar sambil berjalan-jalan, hanya 3 orang ikut di trip pertama.

Dalam paket itu, peserta memiliki waktu sekitar 4 jam untuk mengajar anak-anak pedalaman. "Meski banyak yang ikut sebagai ajang pencitraan, misi sosialnya adalah memberikan pendidikan sekaligus membuka mata para traveler bahwa di daerah akses pendidikan sangat belum memadai," tutur Jemi.

Langkah mengawinkan gerakan sosial dengan gaya hidup eksis di medsos juga dilakukan Claudia Halim, Yuni Jie, dan Amanda Witdarmo. Lewat gerakan One Fine Sky, ketiga founder itu menjaring pecinta fesyen untuk berkontribusi membantu seragam sekolah anak-anak yang tidak mampu.

Gerakan One Fine Sky didorong dari fakta bahwa hanya 60% murid Sekolah Dasar yang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, Yuni Jie, Claudia Halim, dan Amanda Witdarmono mendirikan One Fine Sky.

"Walaupun SD Negeri sudah gratis, orang tua masih harus menanggung biaya tambahan seperti buku, alat tulis, dan seragam. Biaya seperti ini, terkadang dilihat mustahil bagi orang tua siswa yang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih sulit," tutur Yuni Jie.

Sebagai moderator kelas tersebut, aktris Dian Sastrowardoyo mengatakan dua lembaga ini berhasil mengkampanyekan dampak sosial yang dibungkus dengan kegiatan senang-senang dengan konsep pencitraan yang terbantu dengan sosial media.

"Mereka bisa menggunakan momentum sosial media yang terasosiasikan dengan pencitraan tetapi memiliki dampak sosial," tukas Dian. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More