Minggu 06 Oktober 2019, 02:40 WIB

Tantangan Besar Regenerasi Pembatik

Fetry Wuryasti | Weekend
Tantangan Besar Regenerasi Pembatik

MI/Fetry Wuryasti
William Kwan

SETIAP beberapa hari sekali, di media sosialnya, Kwan Hwie Liong atau dikenal juga sebagai William Kwan selalu menggunggah foto batik dari berbagai daerah berikut dengan penjelasan motif dan teknik pembuatannya. Dalam unggahan-unggahan itu pula bisa terbaca bagaimana dirinya memiliki pengetahuan soal batik.
Tidak sekadar inventaris, Direktur Redaya Community Batik Center dan Direktur serta salah satu pendiri Indonesian Pluralism Institute ini juga menjalankan program revitalitasi batik-batik klasik. Revi­talisasi batik klasik Batang, misalnya, dilakukan eksperimen mengubah batik Tiga Negeri Batang menjadi batik Bang Biron Batang. Pembatikan yang dilakukan pembatik asal Desa Watesalit, Batang, itu menghasilkan kain yang begitu cantik dengan motif yang rumit dan penuh.

Belasan tahun mendampingi pembatik, pria yang akrab disapa Kwan ini paham permasalahan seputar pelestarian batik. Dalam momen Hari Batik Nasional yang jatuh 2 Oktober, sekaligus yang tahun ini bertepatan dengan 10 tahun penetapan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh Unesco, Media Indonesia berbicara dengannya seputar permasalahan pelestarian dan revitalisasi batik. Berikut petikan wawancara yang berlangsung Sabtu (21/9) di Jakarta:


Setelah 10 tahun batik Indonesia diakui Unesco, masalah apa yang paling urgen terkait pelestarian batik?
Ada masalah regenerasi pembatik dan masalah bagaimana kita menghargai batik sebagai tradisi budaya. Saat ini sulit mencari pembatik di desa. Mereka (generasi muda) lebih memilih bekerja di pabrik karena pendapatannya (pembatik) terlalu kecil. Dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, mungkin hanya 3% yang memahami nilai dari proses batik.

Pembatiknya pun kadang tidak tahu berapa lama menyelesaikan satu helai kain. Bisa satu, dua ataupun tiga bulan. Mereka juga tidak menghitung nilai keekonomian dari karya yang dibuat. Padahal kain batik tulis senilai Rp3,5 juta, bisa saja memiliki nilai Rp10 juta.

Bila sehelai kain batik dikerjakan dalam tiga bulan, dengan UMR Rp2 juta, nilainya sudah menjadi Rp6 juta. Ditambah biaya kain, warna malamnya, keahliannya, nilai ekslu­sif motif yang seharusnya mahal. Kita belum pernah membuat perhitungan objektif. Sehingga batik terkadang disepelekan. Industrinya hancur, lalu anak muda tidak mau jadi pembatik.

Tidak heran batik tidak berkembang karena bayaran pembatik murah sekali.  Sekarang rata-rata penghasilan pembatik jauh di bawah UMR, sekitar Rp40 ribu/hari. Dalam 30 hari kerja baru Rp1,2 juta. Padahal UMR di daerah Batang Jawa Tengah sudah Rp1,9 juta. Jadi, orang lebih pilih kerja bungkusin rokok di pabrik. Mereka bisa sambil ngobrol dapat Rp1,9 juta, tidak harus duduk 8 jam menggambar satu per satu, tidak boleh bercanda agar tinta tidak berantakan. Tidak menarik bagi anak muda. 

Kita juga perlu tahu dari data. Apakah selama 10 tahun ini ada yang melakukan riset data mengenai batik tertentu? Industri batik seluruh Jawa dan Indonesia juga belum terpetakan. Survei terakhir memetakan industri batik di Pulau Jawa Batavia sampai Surabaya dari jumlah pembatik, upah, teknik batik, dan lainnya terakhir dilakukan tahun 1928 oleh Belanda. Harus ada anak-anak muda yang bergerak untuk menghidupkan batik.

Untuk permasalahan kedua, soal menghargai batik sebagai budaya, bisa dijelaskan lebih detail?
Aplikasi kain batik selama ini memiliki dua sisi yang ekstrem, yaitu antara sebagai pakaian untuk acara resmi dan dipakai untuk menjadi daster. Batik telah dikenakan sejak zaman hindia belanda dan sebelumnya. Namun, tidak banyak dokumentasi sejarah batik yang dimiliki dan tidak ada bukti Indonesia yang menciptakan batik.

Berbeda dengan India yang memiliki dokumentasinya sejak abad ke-13, begitu pula Tiongkok yang masih memiliki bukti sejarah batiknya di abad ke-1 Masehi. Iklim Indonesia yang tropis dan lembab membuat kain mudah rusak.

Bila melihat referensi antropolog GP Rouffaer (1860-1928) batik berasal dari India dan Sri Lanka di abad ke-6 atau abad ke-7 Masehi atau masa sebelum Borobudur. Berbeda JLA Brandes (1857-1905) dan FA Sutjipto mengatakan batik Indonesia asli dari dalam bangsa. Hal itu melihat dari daerah yang tidak terpengaruh Hindu seperti Toraja, Flores, Halmahera dan Papua juga terdapat batik. Namun, ukiran pada kayu yang mereka temukan, belum tentu merupakan batik.

Namun, penyempurnaan budaya dan teknik batik terbaik ada di Indonesia. Dari penggunaan alat membatik, Indonesia masih mempertahankan canting sebagai alat untuk menggambar dan membatik. Canting terbuat dari logam yang bisa menahan panas, dengan gagang dari kayu/bambu. Indonesia menjadi negara dengan budaya batik terbesar di dunia, baik dari pengguna hingga pelaku batik.

Motif-motif tertentu dipakai pada tiap tahap kehidupan, mulai lahir, menikah, hingga wafat. Seperti batik motif Slobog digunakan sebagai penutup jenazah. Namun, karena banyak masyarakat yang tidak tahu, motif tersebut dipakai sehari-hari.

Selain ketidaktahuan masyarakat akan motif, bagaimana Anda melihat upaya edukasi dari penjual atau pengrajin? Selama ini masyarakat juga ada yang ditipu penjual. Pembeli batik harus punya pengetahuan dasar sebagai konsumen. Kalau tidak semua orang keliru. Sablonan harga Rp50 ribu dibeli ratusan jutaan rupiah, karena dilihatnya rapi dan halus. Namun, batik tulis yang tampak jelek dihargai murah, padahal mahal buatnya dengan tangan dan waktu lama. Maka harus bisa identifikasi.

Batik merupakan teknik membuat ragam hias (motif dan warna) pada kain dengan menggunakan canting atau cap untuk menorehkan cairan malam.  Malamnya itu terbuat dari sarang lebah, gondorukem (getah pinus), getah damar yang dicairkan dengan pemanasan. Kalau tidak menggunakan cairan malam, definisinya bukan batik. Memang sekarang sudah banyak penipuan, tiruan, menggunakan sablon memakai malam, tetapi tidak dipanaskan. Ini seringkali menyerupai batik tulis.

Pada batik tulis, karena menggunakan gambar tangan ciri khas yang paling kentara adalah tidak ada satu pun motif yang sama persis, bahkan bisa terlihat tidak rapi. Selain itu yang membedakan batik Jawa dengan batik dunia ialah ditulis bolak-balik. Batik China, India, Jepang tidak ada seperti itu. Maka ini harus dipertahankan.
Pada batik cap, karena menggunakan cetakan logam, akan sama pola gambar berulang, tapi berbeda pada tebal tipis dan retakan garisnya. Dahulu batik cap dilakukan bolak balik, namun kini tidak lagi. Ada pula batik cap kombinasi tulis. Pengerjaan tulis di batik kombinasi ini biasanya dipakai pada motif kecil-kecil, sedangkan untuk pola berulang besar menggunakan cap. 

Sebenarnya bagaimana Anda melihat kehadiran tekstil bermotif batik alias printing ini?
Batik itu bukan masalah bagus atau jelek, gengsi atau tidak, melainkan bagaimana konsumen mengerti nilai dari pembuatannya. Mau beli batik printing seharga Rp10 juta tidak apa, asal memang tahu itu printing. Umumnya hasilnya sangat halus, tertata, seperti tanpa cacat. Untuk teknik sablon, digital printing dan manual tidak bisa disebut sebagai kain batik, tetapi disebut tekstil bermotif batik. Karena mereka tidak menggunakan canting, cap, lukis, maupun malam panas yang diakui sebagai batik asli.

Ada juga batik sablon malam menggunakan malam dingin. Dia memakai alat sablon. Menggunakan pasta gigi untuk menjaga malam yang cair tidak berantakan me­nimpa pola warna motif tertentu. Karena hasilnya menyerupai batik tulis, seringkali dijual jutaan rupiah, padahal berupa sablon. Malam hanya menempel di permukaan tidak menembus ke belakang kain.

Kalau cari batik tulis, cara berpikirnya harus dibalik. Karena warna dari bahan-bahan alami untuk malam, umumnya tidak menyala terang seperti hasil pabrikan, juga terlihat seperti warna kusam yang luntur.

Perlindungan konsumen bagaimana?
Perlindungan konsumen untuk batik sebenarnya telah ada penggunaan batik mark oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik di Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia. Pengusaha yang mau memberi label kategori batiknya harus daftar ke mereka. Balai besar akan melakukan pengecekan kain, pengecekan lapangan, dan memberikan sertifikat. Nantinya akan diberi logo bertuliskan emas untuk batik tulis, silver untuk batik cap kombinasi tulis, dan putih untuk batik cap.

Masalahnya, pertama butuh biaya untuk sertifikasi. Kedua pengusaha tidak melihat manfaat sertifikasi. Ketiga, tidak ada penindakan bagi pengusaha yang nakal atau memalsukan logo sertifikasi. Sertifikat menjadi tidak ada nilainya. Maka perlu edukasi untuk melindungi konsumen, membaca dan mengidentifikasi kain batik untuk menghargai prosesnya. 

Bisa Anda jelaskan garis besar motif batik Indonesia?
Ada dua motif yang mencirikan budaya daerah yang memakainya, yaitu pedalaman dan pesisiran. Pedalaman dihitung dari pantai utara. Pedalaman ditarik ke kawasan Yogyakarta dan Solo. Adapun lainnya yakni pesisir di garis pantai utara Jawa.
Batik pedalaman didominasi dengan warna cokelat alami baik kekuningan, kehitaman, kemerahan yang berasal dari tanaman Soga atau akrab disebut batik Sogan. 

Dominasi warna cokelat-biru, cokelat-hitam, cokelat-hijau menunjukkan kecenderungan ke arah batik Solo. Pada batik Yogyakarta ada dominan warna putih di antara cokelat, hitam dan biru tua, dengan gambar parang, sekar jagad.
Adapun kehadiran batik dengan warna kuat merah, hijau, toska, ungu berasal dari pesisiran karena pengaruh budaya asing seperti Tiongkok, India, dan Arab Saudi. Motif batik batang yang disebut motif Jarot Asem, terpengaruh dari batik Provinsi Yunan, berbentuk naga mengurai bercabang, seperti kelabang. Batik ini tidak menaruh warna cokelat yang menggelapkan berbagai warna.

Karakter motif batik pesisir lebih ekspresif, terpengaruh dari budaya India, Tionghoa, Belanda, juga Islam. Penggambaran berbagai binatang hadir pada motifnya seperti burung hong dari mesir, kura-kura, ikan, naga juga ayam yang terpisah antara badan dan kepala karena dalam ajaran Islam melarang gambaran binatang pada pakaian. 

Di sini biru menjadi warna yang bisa diterima di pesisiran dan pedalaman. Lalu hadir batik tiga negeri tahun 1910. Yang memasukkan tiga warna merah, biru, cokelat. Pewarnannya bisa dua sampai tiga kali proses. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More