Sabtu 05 Oktober 2019, 23:35 WIB

Fokus pada Potensi Diri

Suryani Wandari Putri | Weekend
Fokus pada Potensi Diri

Dok. Pribadi
Kasyfi Kalyasyena

JEMARINYA bak menari memainkan tuts putih hitam. Alunan musik merdu terdengar hingga ke telinga Ibu Negara Amerika Serikat, Melania Trump, yang hadir di Kennedy Center Washingthon DC, 26 Juli lalu.

Permainan piano Kasyfi Kalyasyena memang tidak bisa diremehkan. Lelaki berusia 17 tahun itu pun mendapatkan pujian dari Melania Trump. 

Melalui surel, Minggu (22/9), Kasyfi bercerita tentang kecintaannya pada musik. Pada usia 3 tahun, ia pernah mendapatkan rekor Muri untuk usia termuda mampu menyanyikan lagu terbanyak. Kini ia fokus menggapai mimpinya menjadi musisi internasional. 

Kemarin viral tentang kamu bertemu Melania Trump, dalam rangka apa?
Saya baru memenangi 2019 VSA International Young Soloist Competition, kompetisi solois internasional tahunan terbuka yang penyisihannya melalui online submission di awal 2019. Kompetisi itu diadakan Department VSA (Very Special Arts) and Accessibility Kennedy Center of the Performing Arts di Washington DC bekerja sama dengan US Department of Education dan National Committee for the Performing Arts US.

Awal Mei, lima pemenang diumumkan dan diundang ke Kennedy Center Washingthon DC untuk perform dalam konser pemenang pada 26 Juli 2019. Ternyata di sana aku tampil di depan para penonton eksekutif Kennedy Center of the Performing Arts. Aku paling enggak nyangka ada ‘First Lady of the US’, Melania Trump.

Apa kesan Melania Trump kepada kamu?
Melania Trump tidak hanya hadir, dia yang memberikan piala dan reward kepada kami. Selesai tampil, beliau mengatakan permainanku menyentuh, menginspi­rasi, dan menakjubkan. Tanpa kuduga dia membaca biodataku sehingga saat berbincang setelah tampil, dia mengonfirmasi dengan hangat semua aktivitasku termasuk menyemangati dan memotivasi untuk terus belajar musik, berbagi, dan menginspirasi. Beliau ramah dan sangat menghargai. Terbukti mau menyempatkan hadir dan mengapresiasi para musikus muda di tengah kesibukannya tanpa pengawalan yang rumit.

Kamu memainkan lagu apa? Ada strategi dan persiapan khusus tampil malam itu?
Aku hanya memainkan komposisi orisinal aku berjudul Harmony of the Destiny, bergenre classical jazz. Lagu ini menceritakan takdir manusia yang pasti mengalami senang dan sedih. Keduanya harus ada untuk membuat harmoni yang indah, tergantung cara kita memainkannya.

Aku hanya memainkan satu lagu karena durasinya sepanjang 10 menit. Sebetulnya tidak ada kewajiban memainkan lagu komposisi sendiri, tapi ini strategiku untuk memberikan nilai tambah. Untuk meyakininya, kuperde­ngarkan dulu ke banyak orang meminta pendapat mereka tentang laguku. Setelah semua berkomentar positif, aku lebih percaya diri untuk membawakan lagu ini. 

Setelah memastikan lagunya, aku berlatih minimal 2 jam per hari. Dua minggu sebelum keberangkatan, aku berkesempatan berlatih menggunakan grand piano di Ican Studio, kata Mas Ican Wallad pemiliknya, akan membiasakan filling dan fisikku karena berlatih di piano upright yang aku punya berbeda dengan piano yang akan digunakan di saat konser.

Sebenarnya seberapa besar kecintaanmu terhadap musik?
Aku cinta banget musik karena aku merasa bakat dan passion-ku ada di sana. Menurut orangtuaku, kecerdasan musikalku terlihat sejak usia 1 tahun bisa menyanyi dengan not yang tepat. Usia 3 tahun sudah bisa bernyanyi banyak sekali lagu. Orangtuaku melihat menyanyi itu bagian dari kecerdasan musikal yang disalurkan melalui pita suara karena belum bisa pegang instrumen. Benar saja, begitu diberikan piano mainan pada usia 3,5 tahun, aku bisa memainkan lagu-lagu yang dihafal itu melalui piano. Di usia dini, aku juga disebut perpect pitch karena sudah bisa menyebut not dengan mendengarkan bunyi.

Apa kamu hanya menguasai piano?
Usia 5 tahun aku sudah bisa memainkan alat musik yang ditekan, gesek, petik, pukul, dan tiup, yaitu piano, biola, gitar, ukulele, kulintang, drum, flute, dan harmonika. Saat ini fokus pada piano (major instrument) dan saxophone alto, serta tenor (minor instrument).

Di usia 3 tahun kamu dianugrahi Muri, bagaimana ceritanya? Seberapa penting penghargaan itu buat kamu?
Bisa dibilang kemampuan itu di atas rata-rata anak seusiaku. Orangtuaku mengajukan Rekor Muri dengan atribut “Usia Termuda mampu Menyanyikan Lagu Terbanyak”. Setelah dites langsung Jaya Suprana dalam kegiatan HUT Muri dan diuji publik selama 3 bulan, aku pun berhasil memecahkan rekor itu.

Menurutku, saat ini kita sudah masuk era achievement society, yang mana kompetisi dan pencapaian prestasi menjadi kebutuhan. Penghargaan prinsipnya akan memotivasi kita untuk berbuat segala sesuatu sebaik mungkin. Itu dapat digunakan untuk membangun portofolio yang bisa menjelaskan tentang kita dan perkembangannya yang kelak akan bermanfaat untuk sekolah, beasiswa, beker­ja, dan berusaha.

Dari mana kemampuan musikmu?
Orangtuaku bukan musikus, aku belajar musik secara autodidak setelah diajari satu lagu dengan piano mainan. Kemudian aku dikursuskan piano sejak usia 4 tahun supaya memiliki dasar yang baik. Hasil kursusnya aku kembangkan juga secara autodidak. Aku juga sekolah musik, seperti piano klasik YPM dan prakuliah Musik Daya Indonesia Performing Arts Academy. Aku juga mengembangkan ilmu musik dengan ikut komunitas musik, khususnya musik Jaz di Jakarta.

Apa kamu sudah puas saat ini, atau ada impian lain?
Mimpi terbesarku ingin menjadi musikus International yang mampu membawa nama baik bangsa, memiliki teman untuk belajar dan berkolaborasi dari seluruh dunia, serta membuat karya besar musik yang dikenali masyarakat dunia dari masa ke masa. Tentu saat ini aku jauh dari puas, ingin terus menerus belajar dan membekali sebanyak-banyaknya ilmu untuk mewujudkannya.

Ada pesan untuk anak muda yang ingin mengikuti jejakmu?
Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Kenali potensi diri karena dimensi kecerdasan itu banyak, ada logika, gambar, gerak, bahasa, atau musikal. Setelah kenal potensinya, fokus pada potensi itu dengan berusaha maksimal dan belajar dari berbagai sumber. Khusus musik, harus berani membuat dan memainkan karya sendiri. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More