Sabtu 05 Oktober 2019, 06:30 WIB

Jalan Panjang Bioplastik Tandan Kelapa Sawit

(Zuq/M-1) | Weekend
Jalan Panjang Bioplastik Tandan Kelapa Sawit

MI/ABDILLAH M MARZUQI
Bioplastik itu dibuat dari limbah tandan kosong kelapa sawit

BENTUKNYA memang belum menyerupai plastik seperti umumnya, melainkan masih berupa lembaran berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 20 sentimeter.

Itulah bioplastik yang ada di Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan.

Bioplastik itu dibuat dari limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS).

Peneliti dari Kelompok Polimer Pusat Penelitian Kimia LIPI mengembangkan plastik yang terbuat dari tandan kosong kelapa sawit untuk menggantikan plastik konvensional. Upaya itu dilakukan sejak 2015.

Menurut Peneliti Madya LIPI Muhammad Ghozali, sebesar 25% dari total produksi kelapa sawit tersebut merupakan TKKS. Hanya 10% dari TKKS yang sudah dimanfaatkan untuk pupuk.

"Hanya 10% yang dimanfaatkan sebagai pupuk, sekitar 90% itu belum dimanfaatkan. Padahal, TKKS ini merupakan biomaterial yang sangat banyak," terang peneliti dari Kelompok Polimer Pusat Penelitian Kimia LIPI itu kepada Media Indonesia di Puspiptek Serpong, Selasa (24/9).

Pusat Penelitian Kimia LIPI mencoba memanfaatkan kandungan TKKS untuk bioplastik. TKKS mengandung sekitar 40% selulosa, lignin 23%-30%, sisanya hemiselulosa dan air. Selulosa itulah yang nantinya digunakan sebagai bioplastik TKKS setelah terlebih dahulu dijadikan selulosa asetat.

"Intinya bagaimana selulosa ini dibuat menjadi selulosa ester supaya menjadi selulosa asetat," terang Ghozali.

Meski demikian, tidak serta-merta selulosa asetat bisa dijadikan bioplastik. Material itu harus ditambah bahan lain. Prosesnya berawal dari mengubah TKKS menjadi selulosa dengan cara mekanik atau digiling. Selulosa lalu diubah lagi menjadi selulosa asetat.

"Sebenarnya kalau selulosa asetat ini dilarutkan dalam klorofon atau aseton, kemudian di-casting di cawan petri atau piring. Dia akan langsung jadi plastik," jelas Ghozali.

Selulosa asetat cocok untuk dijadikan material bioplastik karena mempunyai sifat tahan air dan tahan panas, meskipun belum dikaji lebih dalam tingkat ketahanan panas. "Kami belum ukur (suhu) sampai leleh," ujarnya.

Ghozali kemudian menunjukkan hasil uji coba selulosa asetat dilarutkan dalam aseton lalu dituangkan pada cawan. Proses selanjutnya dikeringkan dengan dipanaskan suhu 40-60 celsius hingga pelarutnya menguap. Hasilnya memang sudah berupa plastik dengan bentuk bulatan mengikuti bentuk cetakan, tetapi masih getas. Dengan begitu, perlu ditambah biomaterial lain supaya lebih lentur dan kuat. "Misalnya, ditambahkan plastik ester supaya dia lentur," tambahnya.

Terurai dalam 6 bulan

Konversi dari selulosa menjadi selulosa asetat merupakan proses yang paling susah. Hanya 80% yang bisa diekstraksi, itu pun angka maksimal. Sisanya ialah selulosa yang tidak bereaksi. Selain itu, biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit. Untuk mendapatkan selulosa asetat juga membutuhkan proses panjang, tidak bisa singkat.

Ghozali mencoba menggunakan katalis asam yang membutuhkan waktu 5-7 jam. Ia juga pernah menggunakan katalis padat yang membutuhkan waktu 24-48 jam. Itu pun hasil maksimal diangka 80%. Ia juga menyatakan masih perlu penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan kestabilan selulosa asetat. "Untuk mendapatkan selulosa asetat ini tidak mudah. Ini yang membuat sampai saat ini belum bisa dinaikkan ke mesin industri," tambahnya.

Meski harus melalui proses panjang bioplastik dari TKKS hanya membutuhkan waktu tidak sampai 6 bulan untuk terbiodegradasi total. Bioplastik TKKS akan terurai menjadi karbondioksida (CO2) dan air (H2).

"Ini tidak sampai 6 bulan pasti terurai," tegasnya.

Ghozali menekankan syarat utama agar bioplastik bisa terurai, yakni kondisi media dan keberadaan mikroba. Semakin mendapat dukungan dari media dan mikroba, semakin cepat pula proses penguraian bioplastik. Ia mencontohkan hasil penguraian akan berbeda tergantung antara halaman rumah dan komposter. Tentu komposter bisa lebih cepat mengurai bioplastik karena di dalamnya bercampur dengan sampah organik yang menjadikan mikroba dapat hidup. Mikroba itulah yang nantinya mengeluarkan enzim untuk mendegradasi bioplastik.

Ghozali memang belum bisa memastikan apakah bioplastik bisa terdegradasi jika berada dalam air laut. Namun, menurutnya, proses penguraian yang singkat bisa mencegah sampah bioplatik sampai ke laut. Karena sebelum sampai laut, bioplastik telah terdegradasi sempurna.

"Kami belum mencoba mengondisikan biodegradasi di laut. Kita enggak tahu di laut ada mikroba atau plankton yang bisa memakan dan mendegradasi ini (bioplastik)," sambungnya.

Ghozali menggunakan mikroba Aspergillus niger untuk uji coba pendegradasian biolastik di laboratorium. Mikroba itu bisa tumbuh di sampah organik, seperti sisa makanan dan buah-buahan busuk.

Tidak boleh jadi kemasan utama

Meski gampang terurai dan berasal dari material organik, Ghozali tidak menyarankan bioplastik untuk digunakan sebagai kemasan utama. Bioplastik difungsikan sebagai kemasan sekunder yang tidak bersentuhan langsung dengan makanan. Khawatir terjadi kontaminasi.

"Kalau ini disentuhkan langsung dengan makanan memang belum ada yang meneliti lebih detail," tegas Ghozali.

Bioplastik TKKS juga masih menyimpan tantangan untuk bisa diaplikasikan dalam skala industri. Biaya pembuatan bioplastik TKKS lebih mahal jika dibandingkan dengan produksi plastik biasa yang berdasar minyak bumi.

"Kalau dari sawit, menurut perkiraan saya, bisa sampai sekitar 6-10 kali lipat dari membuat plastik biasa," tegasnya.

Untuk mencapai skala industri, TKKS masih harus menempuh jalan panjang untuk menjadi biji bioplastik TKKS. Tidak perlu berkecil hati, Ghozali memprediksi penelitian dalam waktu beberapa tahun ke depan akan mampu menjawabnya.

Ghozali juga masih belum yakin, biayanya bisa sebanding dengan plastik berbahan minyak bumi. Menurutnya, sumber material TKKS memang bisa diperoleh murah, tapi proses menjadikannya selulosa asetat membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hasilnya juga, hanya 40% maksimal selulosa dari bobot TKKS

"Kalau untuk biji (bio) plastik mungkin bisa cepat. Dalam waktu 2-3 tahun saya yakin pasti bisa. Hanya harganya untuk bisa setara dengan plastik petroleum, itu yang susah," sambungnya.

Kelebihan dari bioplastik TKKS ialah tidak berkenaan dengan bahan makanan. Hal itu yang membedakannya dengan bioplastik lain berdasar singkong, nata, aren, ataupun sagu. Pati dari material tersebut masih dibutuhkan sebagai sumber makanan, sedangkan TKKS hingga saat ini masih menjadi limbah minim pemanfaatan. "Kalau menurut kami, hanya dari TKKS ini saja yang tidak rebutan dengan makanan," pungkasnya. (Zuq/M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More