Sabtu 05 Oktober 2019, 06:20 WIB

Jumlah Perokok Terus Naik

(Rif/H-1) | Humaniora
Jumlah Perokok Terus Naik

ANTARA/SIGID KURNIAWAN
Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, Cut Putri Arianie

 

JUMLAH perokok usia muda di Indonesia dari tahun ke tahun terus bertambah. Bahkan, Indonesia sekarang mendapat julukan sebagai Baby Smokers Countries.

Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, Cut Putri Arianie, mengutip data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), ada kecenderungan peningkatan prevalensi merokok terlihat lebih besar pada kelompok anak-anak dan remaja. "Peningkatan prevalensi merokok penduduk usia 18 tahun dari 7,2% menjadi 9,1% pada 2013. Tiap tahun terus naik sampai sekarang ini 9,1% untuk perokok muda dan Indonesia sekarang memiliki sebutan negara Baby Smokers Countries," jelasnya, kemarin.

Menurut Cut, pemerintah sesungguhnya sudah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi konsumsi rokok pada masyarakat, mulai penerapan kawasan tanpa rokok (KTR), sosialisasi antirokok, hingga iklan pelayanan masyarakat.

"Kita mendorong kepala daerah, yang di daerah punya kewenangan untuk menerapkan kawasan tanpa rokok. Tidak hanya itu, kita juga banyak sudah memberikan edukasi, ada lewat medsos (media sosial), iklan layanan kesehatan masyarakat di sejumlah media bahkan di sejumlah transportasi publik, " tuturnya.

Ia mengungkapkan salah satu hal yang seharusnya mungkin bisa dilakukan pemerintah untuk dapat menekan jumlah perokok di Indonesia, yakni dengan tidak melakukan penjualan secara eceran atau per batang.

"Kalau dijual eceran anak-anak akan beli. Jadi, yang punya kewenangan tentu bukan di Kemenkes untuk melarang penjualan batangan (eceran)," cetus Cut Putri. Dia pun berpendapat kenaikan cukai rokok yang kerap kali dilakukan pemerintah, bahkan pada 2020 akan kembali dinaikkan hingga 23% dengan harga jual naik hingga 35%, tidak akan efektif bila rokok masih bisa dijual secara eceran.

"Betul (cukai rokok naik), tapi kalau dijual ketengan tidak terlalu berpengaruh. Misalnya, satu bungkus taruhlah Rp60 ribu kalau dijual eceran, per batang dapat Rp4.000, itu banyak orang, termasuk anak-anak masih bisa beli," pungkasnya. (Rif/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More