Sabtu 05 Oktober 2019, 04:20 WIB

Anjas Pramono Siap Terbang ke Amerika

(Gas/M-4) | Weekend
Anjas Pramono Siap Terbang ke Amerika

MI/SUMARYANTO BRONTO
Anjas Pramono. Ia salah satu mahasiswa penyandang disabilitas

Sementara itu, narasumber kedua yang turut diundang dalam episode kali ini ialah Anjas Pramono. Ia salah satu mahasiswa penyandang disabilitas tetapi kaya akan prestasi, bahkan tidak hanya di kancah nasional, tetapi juga internasional. Pemuda asal Kudus, Jawa Tengah, itu bersama teman-temannya dari Universitas Brawijaya, Malang, telah berhasil menciptakan berbagai macam aplikasi untuk membantu penyandang disabilitas.

Anjas, dewasa ini berusia 21 tahun. Sejak kecil ia mengidap salah satu penyakit langka, yaitu osteogenesis imperfecta (OI). Penyakit itu menyerang tulang atau lebih tepatnya menghambat pengerasan pada tulang sehingga membuatnya menjadi rapuh. Akibat penyakit itu pula, tulang belakang Anjas menjadi bengkok dan harus menggunakan alat bantu saat berjalan.

Salah satu aplikasi yang diciptakan Anjas dan teman-teman ialah Difodeaf. Perangkat berbasis Android itu dapat digunakan sebagai kamus bahasa isyarat yang dapat pakai orang untuk berkomunikasi dengan sahabat tuli. Bahkan, tidak hanya mengubah bahasa Indonesia, perangkat yang telah memenangi lomba di Malaysia tersebut juga dapat mengubah bahasa Inggris menjadi bahasa isyarat.

Tidak hanya itu, Anjas sebentar lagi juga mendapat kesempatan untuk belajar di Amerika Serikat melalui fasilitas beasiswa. "Alhamdulillah, saya lolos di salah satu program beasiswa kementerian luar negeri Amerika Serikat. Tepatnya nanti di bulan September saya akan berangkat sebagai pertukaran pelajar selama lima minggu," tuturnya.

Adapun program pertukaran pelajar itu sendiri, kata Anjas, akan berlangsung di University of Nebraska Omaha, Amerika Serikat. Pada dua hari terakhir masa pertukaran pelajar, ia juga diundang untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih. Padahal, sebelumnya Anjas juga pernah ditolak mendaftar di salah satu sekolah saat SMP dan disuruh mendaftar ke SLB.

Namun demikian, di tengah tekanan itu Anjas mendapat dukungan penuh dari orangtua untuk semangat belajar. Hal itu pun membuahkan hasil, dan bahkan pada saat ujian nasional di tingkat SD pun ia mendapat nilai sempurna, yaitu 10 untuk pelajaran matematika. Maka dari itu pula, kini Anjas berharap agar keterbatasan fisik tidak menjadi kendala bagi siapa pun untuk meraih mimpi. Penyandang disabilitas memiliki hak untuk belajar apa, di mana, kapan, dan dengan siapa saja. (Gas/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More