Jumat 04 Oktober 2019, 19:22 WIB

Alami Pelemahan, BI Sebut Optimisme Konsumen masih Positif

Faustinus Nua | Ekonomi
Alami Pelemahan, BI Sebut Optimisme Konsumen masih Positif

MI/M Yakub
Pedagang di Pasar Tradisional Kecamatan Panceng, Gresik. Survei Konsumen BI September 2019 mengindikasikan optimisme terjaga.

 

SURVEI Konsumen Bank Indonesia (BI) pada September 2019 mengindikasikan optimisme konsumen tetap terjaga, meskipun sedikit mengalami pelemahan. 

Hal ini berdasarkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2019 yaitu sebesar 121,8 atau sedikit lebih rendah dibandingkan IKK pada bulan sebelumnya sebesar 123,1.

"Jadi kalau indeks di atas 100 itu artinya confindent atau optimis. Memang kalau dibandingkan dengan Agustus waktu itu 123,1. Sedikit lebih rendah tapi sudah menunjukan konsumen tetap optimis," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia, Jakarta (4/10).

Menurutnya optimisme konsumen yang terjaga ditopang oleh persepsi yang tetap positif terhadap kondisi ekonomi saat ini dan mendatang. Persepsi konsumen yang tetap positif terhadap kondisi ekonomi saat ini terutama didukung oleh meningkatnya keyakinan terhadap kondisi penghasilan saat ini. 

Sementara itu, ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi pada 6 bulan mendatang meningkat terutama didorong oleh membaiknya ekspektasi terhadap penghasilan dan ketersediaan tenaga kerja. 

"Semua itu mendukung indeks keyakinan konsumen. Juga menunjukan sumber pertumbuhan ekonomi kita yaitu konsumsi terus mwmbaik," tambah Perry.

Baca juga: Aliran Modal Asing Masuk Rp192,6 Triliun, Rupiah Stabil

Dijelaskannya lebih lanjut bahwa BI berharap di kuartal III tahun ini pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,1%. Secara khusus hal itu ditopang konsumsi dan juga membaiknya investasi.

"Yang menopang konsumsi itu pengasilan. Komsumsi ini kalau kita lihat untuk yang menengah ke bawah itu bantuan dari pmerintah cukup ampuh. Termasuk dukungan melalui bantuan sosial lainnya," imbuhnya.

Selain itu untuk investasi bangunan dan infrastruktur maupun yang non-banguna menurutnya sangat mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal itu mendorong BI kembali menurunkan suku bunga sehingga perbankan bisa menyalurkan pinjaman terutama kepada masyarakat kelas menengah ke bawah.

"Sudah kita lakukan relaksasi uang muka termasuk tambahan insentif yang berwawasan lingkunganan," kata dia.

Ia menambahkan untuk terus mendorong sektor-sektor ekonomi dalam negeri. Manufaktur, pariwisata, UMKM menurutnya merupakan sektor ekonomi yang selama ini terus diberdayakan pemerintah untuk menopang pertumbuhan ekonomi. (A-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More