Jumat 04 Oktober 2019, 16:32 WIB

Aliran Modal Asing Masuk Rp192,6 Triliun, Rupiah Stabil

Faustinus Nua | Ekonomi
Aliran Modal Asing Masuk Rp192,6 Triliun, Rupiah Stabil

ANTARA/SIGID KURNIAWAN
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

 

SAMPAI dengan 3 Oktober 2019, Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing yang masuk (capital inflow) ke tanah air mencapai Rp192,6 triliun secara year to date. Untuk week to date, BI mencatat inflow-nya mencapai Rp3,14 triliun. 

Hal tersebut menunjukan adanya keberlanjutan aliran modal asing yang juga mempengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, modal asing yang masuk hingga Rp192,6 triliun menunjukan investor asing masih tertarik dengan ekonomi tanah air. Hal itu juga membuktikan bahwa imbal hasil dan prospek ekonomi tetap menarik sehingga berimbas pada stabilitas nilai tukar rupiah.

"Salah satu faktor dari stabilitas nilai tukar adalah berlanjutnya aliran modal asing masuk disamping juga mekanisme pasar itu bekerja sangat baik, suplay demand bekerja sangat baik, dan tentu sja confident terhadap ekonomi kita sekarang dan kedepannya, sehingga rupiah bergerak stabil dikisaran 14.170 (per dolar AS)," kata dia di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (4/10).

Baca juga: BI Catat Inflasi Minggu Pertama Oktober 0,02%

BI mencatat total capital inflow untuk year to date sebesar Rp192,6 triliun, yang terdiri dari Rp 137,9 triliun untuk SBN. Sementara  untuk saham sebesar Rp52,4 triliun dan sisanya obligasi, korporasi, juga SBI.

"Kalau saham memang floating keluar masuk karena banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor global yang terjadi di Amerika dan juga negara-negara lain," imbuhnya

Sementara untuk week to date, Perry mengatakan bahwa hingga 3 Oktober 2019 portfolio SBN mencatat Rp3,14 triliun. 

"Tapi terjadi outflow (aliran modal asing keluar) di saham 0,84%, sehingga net inflow-nya Rp2,34 triliun," katanya. (A-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More