Kamis 03 Oktober 2019, 12:20 WIB

Peringati Hari Pangan Sedunia, Tingkatkan Pencegahan Stunting

mediaindonesia.com | Nusantara
Peringati Hari Pangan Sedunia, Tingkatkan Pencegahan Stunting

Istimewa
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Aniesaputri Junita, SKM, MPH.

 

DALAM pidato kenegaraan pada Sidang MPR RI bertepakan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-74 Kemerdekaan RI 2019, Presiden Joko Widodo menegaskan target yang perlu dicapai bersama pada 2045 adalah menjadikan Indonesia maju dengan sumber daya manusia yang unggul, pintar, dan berbudi pekerti luhur.

 Salah satu kuncinya adalah memenuhi hak kesehatan, terutama ibu hamil dan bayi. Pemenuhan hak kesehatan ibu dan bayi adalah dengan mendapatkan kemudahan dalam akses kesehatan antara lain pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi, dan informasi yang tepat tentang kesehatan.

Mengacu pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, yang menunjukan adanya perbaikan status gizi pada balita di Indonesia, diantaranya proporsi status gizi sangat pendek dan pendek turun dari 37,2% (Riskesdas 2013) menjadi 30,8%.

Demikian juga proporsi status gizi buruk dan gizi kurang turun dari 19,6% (Riskesdas 2013) menjadi 17,7%. Meski demikian, WHO masih mengkategorikan Indonesia sebagai Negara darurat gizi buruk. Sebab ambang batas toleransi stunting yang ditetapkan WHO adalah 20% dari jumlah keseluruhan balita.

Secara umum, Provinsi Kepulauan Riau menduduki posisi terbaik dalam hal penanganan gizi buruk di Indonesia, dengan angka kurang dari 13%, namun, Kota Batam memiliki prevalensi stunting 23,5%.

Pada semester pertama 2019, penderita stunting Kota Batam juga terlihat mengalami peningkatan, yaitu sebesar 5,61%,  sedangkan prevelensi tahun 2018 hanya 1,35%. Penyebabnya adalah kurangnya asupan nutrisi pada anak. Selain itu, faktor geografis, akses terhadap pelayanan kesehatan serta rendahnya pengetahuan ibu menjadi pemicu kondisi stunting pada anak-anak.

Fakta pengetahuan masyarakat yang rendah terlihat dari banyaknya kasus gizi buruk akibat kesalahan orang tua memberi asupan makanan pada anak. Di tengah kemajuan teknologi, arus informasi diterima masyarakat tanpa filter. Masyarakat juga setiap saat terpapar iklan yang belum teruji kebenarannya.

Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) Arif Hidayat mencontohkan iklan susu kental manis sebagai salah satu iklan yng telah sekian abad menyesatkan persepsi masyarakat. 

“Susu kental manis (SKM) yang sejak zaman kolonial hingga milenial, diiklankan sebagai minuman susu untuk bayi dan pertumbuhan anak, telah membentuk persepsi masyarakat bahwa SKM adalah susu bernutrisi,”kata Arif di Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Kamis (3/10).

“SKM memiliki kandungan gula yang tinggi yaitu 20 gram per sekali saji atau satu gelas dengan nilai protein 1 gram, lebih  rendah dari susu lainnya. Padahal, peruntukan SKM hanyalah sebagai bahan tambahan makanan dan minuman atau topping. Karena itu, perlu pengawasan terhadap promosi dan penggunaan SKM oleh masyarakat,” jelas Arif.

Sebelumnya, pada 2018, YAICI bekerja sama dengan Yayasan Peduli Negeri (YPN) Makassar dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Ibnu Sina Batam melakukan survei tentang persepsi masyarakat tentang susu kental manis (SKM). 

Survei yang dilakukan terhadap 400 ibu di Kelurahan Mandonga, Kec. Mandonga, Kota Kendari dan 300 ibu di Kelurahan Sagulung Kota, Kecamatan Sagulung, Kota Batam, Kepri, yang memiliki anak usia 7 tahun.

Survei menunjukan sebanyak 97% ibu di Kendari dan 78% ibu di Batam memiliki persepsi bahwa SKM adalah susu yang bisa dikonsumsi layaknya minuman susu untuk anak. SKM memiliki kandungan gula yang tinggi yaitu 20gram persekali saji/1 gelas dengan nilai protein 1 gram, lebih  rendah dari susu lainnya.

Dalam rangka memberikan edukasi gizi dan cara bijak menggunakan susu kental manis kepada masyarakat, Yayasan Abhiparaya Insan Cendikia Indonesia (YAICI), bersama Pengurus Pusat Muslimat NU menjalin kerja sama melaksanakan edukasi bijak mengkonsumsi susu kental manis di sejumlah kota di Indonesia diantaranya Lampung, Surabaya, Semarang, Makassar, dan Batam.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Aniesaputri Junita, SKM, MPH menyebutkan, secara nasional penangana gizi buruk di wilayah Kepri sudah cukup baik. Hal itu terlihat dari data Riskesdas yang menempatkan Kepri berada pada urutan keempat  dengan prevalensi stunting terendah.

Namun Aniesaputri mengakui di wilayah kepulauan masih banyak ditemui masalah gizi anak. “Di pulau-pulau, ibu-ibu masih menggunakan SKM sebagai minuman dan diberikan untuk anak. Ibu sudah teredukasi bahwa ASI adalah yang terbaik, namun terkadang ibu-ibu tidak sabar, karena anak menangis, akhirnya dikasihlah SKM, “ jelas Aniesa Putri.

Kepala Balai Besar BPOM Kepri Yosef Dwi Irwan, SSi, Apt menegaskan,”Perlu diingat bahwa SKM bukan untuk pemenuhan gizi, melainkan hanya untuk pelengkap sajian. Ini yang salah kaprah, dan salah satunya adalah pengaruh iklan.”

Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), dr. Erna Yulia Soefihara  mengimbau agar ibu sebagai pendidik utama di keluarga harus sehat dan juga cerdas.

 “Kesehatan keluarga harus dimulai terlebih dahulu dari ibu yang sehat. Ibu juga harus teredukasi tentang gizi agar tidak salah memberi asupan gizi, seperti susu kental manis yang seharusnya adalah topping makanan, jangan sampai diberikan sebagai minuman untuk anak-anak,” kata Erna Yulia. (OL-09)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More