Jumat 04 Oktober 2019, 08:00 WIB

Waspadai Penumpang Gelap dalam Aksi Demonstrasi

Ghani Nurcahyadi | Politik dan Hukum
Waspadai Penumpang Gelap dalam Aksi Demonstrasi

Dok. Indonews
Seminar Kebangsaan bertajuk Muara Unjuk Rasa: NKRI Mau dibawa Kemana

 

AKSI demonstrasi yang dilakukan mahasiswa untuk menuntut pembatalan sejumlah rancangan undang-undang (RUU) kontroversial patut diapresiasi. Namun, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena ada indikasi pihak-pihak tertentu yang menunggangi aksi demonstrasi tersebut.

Pengamat Ekonomi Politik yang pernah menjadi anggota Komite Ekonomi Nasional, Christianto Wibisono mengatakan para penunggang aksi demonstrasi tersebut ingin menciptakan kegaduhan di Indonesia untuk mengincar kursi kekuasaan.

Ia bahkan menyebutkan, situasinya hampir mirip seperti momen penolakan laporan pertanggungjawaban Preaiden RI Ke-3 B.J Habibie di awal era reformasi.

Pegiat media sosial Rudi S. Kamri menambahkan, para penunggang demonstrasi mahasiswa itu ounya agenda khusus yang bisa saja berujung pada pelengseran Presiden Joko Widodo yang akan segera menjalani periode kedua pemerintahannya bersama Ma'tuf Amin.

"Beruntungnya, para pengawal Jokowi cukup kuat mengawal pemerintahan ini, sehingga sampai saat ini pemerintah Jokowi masih aman terkendali," ujar Rudi dalam seminar kebangsaan bertajuk Muara Unjuk Rasa: NKRI Mau Dibawa Ke Mana? yang digelar Indonewsbdi Jakarta, Kamis (3/10) seperti dalam keterangan tertulisnya.

 

Baca Juga:  Jangan Paksa Presiden Keluarkan Perppu KPK

 

Pengamat militer yang juga dosen Universitas Pertahanan Indonesia, Connie Rahakundini Bakrie menyoroti perang opini yang terjadi di media sosial pascademo mahasiswa. Menurutnya, hal itu menggambarkan perang masa depan yang akan dihadapi Indonesia nantinya.

Pemerintah, terutama TNI, harus membuat strategi dengan mengalokasikan anggaran besar dalam mengantisiapsi perang masa depan atau peran modern seperti yang terjadi beberapa pekan terakhir"

"Ancaman terbesar dari bangsa ini adalah mis-informastion dan propaganda sosial media. Sosial media itu paling berbahaya," terang Connie.

Di sisi lain, pengamat intelijen sekaligus pendiri Hadiekuntono's Institute, Suhendra Hadikuntono mengatakan perlu adanya penguatan peran intelijen untuk menangkal penunggang gelap dalam aksi demonstrasi yang terjadi.

Naluri Intelijen itu harus diasah. Saya berharap Presiden sudah paham dan juga bisa merasakan bahwa tanpa kemampuan unit intelijen yang kuat bisa mengancam stabilitas keamanan negara," ujar Suhendra.

Sementara itu, Pemimpin redaksi Indonews berharap diskusi yang hangat tersebut mampu menguatkan fondasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (RO/OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More