Jumat 04 Oktober 2019, 12:22 WIB

Musim Tanam Mundur, Mendag Minta Pasokan Pangan Jangan Terlambat

Irvan Sihombing | Ekonomi
Musim Tanam Mundur, Mendag Minta Pasokan Pangan Jangan Terlambat

MI/Arya Manggala
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meminta pasokan pangan tidak boleh telat meski musim tanam mundur.

 

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah memprakirakan curah hujan baru akan turun pada November 2019. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita berharap data ilmiah tersebut dijadikan patokan oleh para pemangku kepentingan baik di pusat dan daerah.

Dengan kemarau panjang dan esktrim seperti ini, lanjut dia, pemerintah harus benar-benar harus detail dan jeli melihat ketersediaan bahan pokok. Kemudian juga pantauan atas harga harus dilakukan secara sungguh-sungguh.

"Curah hujan kita baru diperkirakan BMKG dan ini ilmiah November. Artinya musim tanam kita mundur. BMKG berulang kali sudah mengingatkan bahwa ini adalah kemarau atau El Nino yang terpanjang, ekstrim. Paling tidak diperkirakan sama dengan Tahun 2015," kata Enggar di Batu, Malang, Jawa Timur, Jumat (4/10).

Ia menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Barang Kebutuhan Pokok Menjelang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Hadir pula Dirjen PDN Suhanto, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Wakil Kepala Satgas Pangan Kombes Helfi Assegaf, dan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko.

Enggar menambahkan, sesuai perintah Presiden Joko Widodo, maka semua pihak harus mengacu pada data tunggal dari Biro Pusat Statistik (BPS). Sebelumnya, ada empat kementerian/lembaga yang berbeda dalam urusan beras, yakni Kementerian Perdagangan, Perum Bulog, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

"Nah, jangan kita berpolemik. Undang-undang dan kemudian perintah Bapak Presiden data tunggal yang kita pegang, yaitu data BPS," cetusnya.

Dalam sambutannya, menteri asal Partai NasDem itu juga mengingatkan kepada kepala daerah dan kepala dinas untuk terus menyikapi perkembangannya masa tanam yang mundur agar jangan sampai ada keterlambatan pasokan.

"Di beberapa daerah mungkin masih ada surplus. Saya sudah titip kepada kepala dinas agar yang surplus diberi tahu kemudian perkiraan defisitnya juga mereka beri tahu. Dan tidak boleh ada larangan perdagangan antar pulau, antar kabupaten. Ini NKRI bukan negara federal," tegas dia.

baca juga: Kelas Rawan Ambruk, Murid Dipindah

Ia juga menitipkan beras medium di pasar tradisional agar tetap tersedia. Kalau tidak, angka kemiskinan akan meningkat, dan (daya beli) purchising power masyarakat akan menurun. Menurut dia, Bulog memiliki pasokan yang cukup terkait beras medium. Oleh karena itu, sebaiknya Bulog segera melakukan operasi pasar manakala harga beras medium telah melonjak dari harga yang ditentukan.

"Jangan pernah mengambil risiko dengan urusan perut rakyat," pungkasnya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More