Jumat 04 Oktober 2019, 12:09 WIB

Pelajar SMA Jadi Gubernur NTT Sehari, Gantikan Viktor Laiskodat

Palce Amalo | Nusantara
Pelajar SMA Jadi Gubernur NTT Sehari, Gantikan Viktor Laiskodat

MI/Palce Amalo
Esterlina Erlin Fernandes, 16, siswa SMA Negeri 3 Kupang, berperan menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur dalam sehari, Jumat (4/10).

 

ESTERLINA Erlin Fernandes, 16, siswa SMA Negeri 3 Kupang, berperan menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (4/10). Kegiatan itu dalam rangka memperingati Hari Anak Perempuan Internasional (International Day of the Girl) pada 11 Oktober 2019.

Dia tidak terlihat gugup saat duduk di kursi kerja Gubernur NTT Viktor Laiskodat, yang pada saat yang sama berada di luar daerah. Esterlina yang biasa disapa Elin, menekan bel dan dalam waktu tidak terlalu lama, seorang staf masuk ruangan sambil membawa map yang berisi surat.

Selanjutnya pengganti Laiskodat yang merupakan siswi Kelas 11 IPA 2 itu, berpindah tempat duduk ke kursi tamu karena akan menerima Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi.

"Adik sehat?," kata Josef Nae Soi begitu masuk ruangan.

"Kakak sehat?," balas Eli kepada Josef Nae Soi.

Salam seperti itu memang biasa dilakukan Gubernur Viktor Laiskodat dan Wakil Gubenrur Josef Nae Soi setiap kali bertemu. Saat menyampaikan salam pun, gubernur tidak bangun dari tempat duduknya, serta pertemuan keduanya tidak pernah dilakukan di meja gubernur, tetapi di bagian ruang kerja gubernur yang biasa dimanfaatkan untuk menerima tamu.

Keduanya kemudian membahas sejumlah persoalan di daerah mulai dari stunting, kemiskinan, kesehatan, perdagangan manusia, pendidikan, pernikahan dini, krisis air bersih, isu perempuan dan anak, serta partisipasi anak perempuan dalam pengambilan kebijakan pembangunan. Bicaranya lancar dan tidak terlihat gugup, kendati baru pertama berhadapan dengan wakil gubernur.

Josef Nae Soi kemudian memanggil Kepala Biro Humas dan Protokol Marius Jelamu dan Kepala Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Silvia Pekujawang untuk ikut bergabung. Kepada wartawan, Elin mengaku senang karena terpilih menjadi 'gubernur sehari'.

"Saya bangga dan bahagia karena mewakili anak-anak menyuarakan suara mereka," ujarnya.

Dia terpilih lewat seleksi yang dilakukan Plan Indonesia, kemudian bersama 12 anak perempuan lainnya mengikut pelatihan sebelum terpilih lagi menjadi gubernur sehari. Mereka berasal dari Kota Kupang, Nagekeo, Lembata, dan Timor Tengah Selatan. Menurut Josef Nae Soi kegiatan itu sangat bermanfaat bagi anak-anak menyiapkan mereka menjadi pemimpin di masa depan.

"Definisi belajar itu tidak hanya guru dan murid tetapi bagaimana pemimpin melaksanakan sesuatu kemudian ditiru oleh anak didiknya," ujarnya.

Child and Youth Plan Partipation Coordinator Plan Indonesia Guster Sihombing mengatakan kegiatan tersebut digelar di dua kota yakni Kupang dan Jakarta.

Di Kupang, kegiatan mulai 1-4 Oktober, selain gubernur sehari, peserta lainnya juga menjadi pemimpin redaksi sehari di stasiun televisi dan koran lokal. Untuk kegiatan di Jakarta yang berlangsung 6-11 Oktober, yakni menjadi Menteri Informasi dan Komunikasi Sehari. Selain itu, sejumlah siswa juga akan berperan menjadi Pemimpin Redaksi
Media Indonesia, The Jakarta Post dan Duta Besar Swedia.

baca juga: Air Bersih untuk Bantuan Kemarau Menipis

"Kami mengambil tema bagaimana keberpihakan media terhadap isu anak dan perempuan," ujarnya.

Kegiatan itu juga membawa pesan kepada pengambil kebijakan untuk memasukan isu anak dan perempuan dalam seluruh agenda pemerintah.

"Seluruh elemen di provinsi harus sadar bahwa ada anak perempuan yang harus dilindungi haknya, diberikan kesempatan yang sama dengan anak laki-laki," kata Sihombing. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More