Jumat 04 Oktober 2019, 07:10 WIB

Solidaritas Kebangsaan Menghadapi Masa Sulit

Fathur Rokhman Rektor Universitas Negeri Semarang | Opini
Solidaritas Kebangsaan Menghadapi Masa Sulit

Dok.MI/Seno
Opini

BANGSA Indonesia sedang menghadapi masa sulit. Ada gesekan kepentingan antarkelompok masyarakat, yaitu kelompok masyarakat sipil, lembaga eksekutif, dan lembaga legislatif. Agar gesekan tidak berkembang menjadi konflik sosial, bangsa ini perlu membangun kembali solidaritas. Sejarah menunjukkan solidaritas adalah kunci mengubah masa sulit menuju era baru yang lebih cemerlang.

Masa sulit yang kini dihadapi bangsa Indonesia sebenarnya masih wajar dalam batas-batas negara demokrasi. Namun, tren belakangan menunjukkan eskalasi yang terus meningkat. Khusus tragedi di Wamena, kondisi menunjukkan cenderung melampaui batas karena telah mengakibatkan puluhan korban jiwa (mediaindonesia.com, 24/9). Kerusakan fisik, trauma psikis, dan ketegangan sosial ialah kerugian yang terlampau besar untuk ditanggung bangsa Indonesia.

Dalam teori perubahan sosial, konflik bisa dipandang sebagai mekanisme menuju kondisi baru yang lebih baik. Konflik adalah antitesis yang akan melahirkan sintesis tatanan sosial baru (Parsons, 1983). Namun, jika telah mengakibatkan korban jiwa, konflik itu sudah melampaui batas sebab kematian adalah kerugian alamiah dan sosial yang tidak bisa ditebus dengan apa pun.

Situasi itulah yang membuat solidaritas sosial perlu dikedepankan. Untuk memperkuat solidaritas, ada simpul-simpul kehidupan perlu diperkuat agar konflik reda dan kemajemukan menjadi tali pengikat solidaritas.

Imajinasi kebangsaan

Bennedict Anderson (1983) berhipotesis bahwa simpul ikatan kebangsaan pada bangsa-bangsa modern yang berdiri pada abad ke-19 dan 20 adalah imajinasi. Ikatan ini berbeda dengan negara bangsa yang berdiri di atas sentimen ras, klan, dan agama.

Sebuah bangsa modern hanya bisa terbangun dan bertahan jika konstituennya mengandaikan bahwa dirinya adalah bagian dari yang lain. Secara saintifik, perandaian adalah hal yang bersifat abstrak dan mentalistik, tetapi memiliki determinasi yang sangat besar dalam menentukan tindakan manusia.

Dalam sejarah, imaji kebangsaan telah ditumbuhkan dan dipelihara melalui berbagai simbol. Lambang negara, benda, lagu kebangsaan, dan bahasa menjadi instrumen untuk memupuk imaji kebangsaan. Para peletak fondasi negara menyadari bahwa simbol-simbol itu penting.

Ikatan psikologis terhadap lambang yang sama akan mengikat perasaan manusia agar merasa dalam satu entitas kebangsaan yang sama pula. Dalam posisi itulah lambang-lambang kebangsaan bernilai sakral. Objek-objek itu tidak dipandang secara material karena nilai utamanya terletak pada nilai simbolik.

Meski begitu, simbol bukan satu-satu perekat imaji kebangsaan. Imaji juga ditumbuhkan oleh pengalaman subjektif manusia. Karena itulah, simbol-simbol akan bermakna signifikan jika kompatibel dengan pengalaman subjektif bangsa. Semakin cocok pengalaman individual subjek dengan makna simbolik dalam lambang, akan semakin kuat imajinasi kebangsaan dalam diri manusia.

Situasi itulah yang membuat simbol-simbol kebangsaan harus dihidupkan dalam aktivitas kebangsaan yang konkret dan riil. Dalam kehidupan bernegara, realisasi dari simbol dapat berupa produk hukum, pembagian hak dan kewajiban secara proporsional, juga distribusi sumber daya dari pemerintah pusat ke provinsi, kabupaten, hingga desa dan RT. Lebih konkret lagi, semangat kebangsaan juga dapat dimunculkan melalui layanan publik yang profesional di seluruh bidang kehidupan.

Bangsa Indonesia memiliki fondasi kebangsaan yang sebenarnya sangat kukuh, yaitu kesamaan nasib pada masa lalu. Namun, masa lalu adalah objek yang abstrak. Ia baru konkret jika dinarasikan. Oleh karena itu, sangat penting bagi bangsa ini untuk memiliki tokoh yang dapat menarasikan keindonesiaan dengan artikulasi yang kuat sekaligus berterima. Narasi keindonesiaan pernah mencapai titik ideal ketika Soekarno menyatukan bangsa dengan narasi nasionalisme dan Gus Dur merevitalisasinya melalui narasi pluralisme dan multikulturalisme.

Pada periode pertama pemerintahannya, Presiden Jokowi juga telah berhasil membuat narasi baru melalui narasi keadilan ekonomi melalui pemerataan infrastruktur, BBM satu harga, dan distribusi dana desa. Ia juga merealisasikan visi itu melalui program kartu Indonesia pintar dan kartu Indonesia sehat.

Bahkan, beliau sendiri sebagai subjek sebenarnya ialah sebuah narasi. Keberhasilannya merintis karier politik dari tingkat bawah hingga menjadi pemimpin republik terbesar keempat di dunia menarasikan kesamaan peluang. Dengan berbagai modal itu, Presiden Jokowi melambungkan optimisme publik. Dengan modal itu pula ia berhasil menumbuhkan imaji kolektif bahwa bangsa Indonesia segera menjadi bangsa yang besar, jaya, sejahtera, dan berkeadilan.

Meski demikian, narasi ternyata bersifat temporer. Sebuah narasi bisa menguat, melemah, atau bahkan menghilang bergantung pada kontestasinya dengan narasi lain. Narasi keindonesiaan yang dibangun Presiden Jokowi berhadapan dengan narasi lain yang kontra. Oleh karena itu, saat ini diperlukan narasi kebangsaan baru yang lebih kuat dan relevan dengan kondisi bangsa mutakhir ini. Narasi baru itu harus mampu menggugah imajinasi kebangsaan orang per orang dari dalam, bukan dari luar.

Visi baru Indonesia maju

Sejarah menunjukkan bangsa Indonesia selalu punya cara melampui masa sulit. Bangsa ini tidak pernah kehabisan tokoh besar, pemikir autentik, dan rakyat yang memiliki kemauan keras. Bangsa ini juga tidak pernah kehabisan tokoh muda yang semangat kebangsaannya membara. Dengan potensi insani demikian, masa sulit yang hari ini dihadapi bangsa Indonesia bisa dihadapi dengan baik.

Hanya saja, dari sejarah pula kita belajar bahwa keberhasilan bangsa Indonesia mengatasi masa sulit memerlukan syarat mutlak, yaitu kesamaan visi. Dalam konteks ini visi adalah tali yang membuat energi bangsa terorkestra dalam satu arah. Ketika energi itu terhimpun, kekuatannya berlipat-lipat sehingga mampu menghadapi kesulitan-kesulitan besar sekalipun.

Dalam prinsip Kepemimpinan Bertumbuh yang saya rancang, visi berfungsi seperti hati dan pikiran bagi organisasi. Visi yang kuat bukan hanya membangkitkan energi tak terduga, tetapi juga memungkinkan kolaborasi tak terbatas. Ketika keduanya terjadi, organisasi akan menemukan performa terbaiknya dalam mengatasi berbagai kesulitan.

Lalu apa visi kebangsaan yang harus dikukuhkan dalam konteks hari ini? Pancasila tentu saja ialah visi utama karena ia adalah janji sekaligus landasan ideologis bernegara. Empat tujuan nasional RI yang tercantum dalam UUD 1945 ialah landasan konstitusionalnya. Di luar visi itu, diperlukan visi yang bersifat jangka pendek, operasional, dan memiliki determinasi kuat dalam membangkitkan energi publik.

Slogan peringatan HUT ke-74 kemerdekaan RI, SDM Unggul, Indonesia Maju, bisa menjadi contoh visi operasional yang kontekstual. Secara linguistik, formula slogan itu memiliki sejumlah keunggulan komunikatif. Selain ringkas, berima, slogan itu juga memiliki pola logika kausalitas yang jelas. Slogan itu juga unggulan karena sangat sesuai dengan tantangan terkini bangsa Indonesia.

Keunggulan SDM adalah kondisi yang diidealkan oleh siapa pun, pihak mana pun. Keunggulan SDM berkaitan dengan naluri dasar manusia untuk terus maju, memiliki nilai kompetitif, dan mewujudkan kehidupan lebih baik. Setiap orang menginginkan diri dan anak turunnya menjadi pribadi yang lebih baik agar hidup lebih baik. Ketika keunggulan individual terakumulasi, ia akan berubah menjadi keunggulan nasional yang menggerakkan Indonesia bergerak maju.

Presiden Jokowi telah menetapkan pembangunan SDM sebagai prioritas utama pembangunan periode kedua pemerintahannya. Jika dilihat dalam RAPBN 2020, keputusan itu telah didukung oleh kebijakan finansial yang progresif pula. Jika diinstrumentasikan dalam narasi yang kukuh, keberpihakan yang konkret ini akan memperkuat simpul-simpul solidaritas keindonesiaan.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More