Jumat 04 Oktober 2019, 06:10 WIB

Warga RI Terbanyak Berobat ke Malaysia

. (Rif/H-1) | Humaniora
Warga RI Terbanyak Berobat ke Malaysia

MI/PERMANA
KUNJUNGAN MALAYSIA HEALTH TRAVEL COUNCIL (MHTC): (Dari kiri) Director MHTC-Marketing Indonesia Farah Delah Suhaimi

 

WARGA Indonesia secara konsisten menjadi penyumbang terbesar pada sektor wisata kesehatan di Malaysia. Pelayanan yang baik pihak rumah sakit kepada pasien merupakan penyebab warga dari berbagai negara, khususnya Indonesia, untuk berobat di Malaysia.

Seperti diungkapkan Director and Market Development Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC) Farah Delah Suhaimi di Jakarta, kemarin. "Pasien paling banyak ialah Indonesia, kedua Tiongkok, lalu India, kemudian Brunei, tetapi perbedaannya sangat signifikan hampir 60% berasal dari Indonesia. Dari overall tahun lalu 1,5 juta pasien," kata Farah.

Ia menambahkan paling banyak warga Indonesia pergi berobat ke Malaysia untuk berobat masalah jantung dan kanker. "Ada juga yang datang hanya untuk berobat demam ke Penang," tuturnya. Farah tidak memungkiri servis yang baik jadi alasan pasien dari luar negeri berkunjung ke Malaysia. Bahkan sejak pasien turun pesawat sudah ada staf rumah sakit yang menunggunya untuk mengantarkan ke luar bandara. "Kami juga atur transportasi agar pasien dapat diantarkan ke rumah sakit yang dituju. Kami juga menyediakan penerjemah bahasa jika dibutuhkan," pungkasnya.

Dari hasil riset Patients Beyond Borders, Malaysia dan Singapura menjadi tujuan utama berobat bagi medical tourists dari Indonesia. Indonesia menjadi kontributor terbesar untuk berobat ke negara luar negeri senilai US$11,5 miliar dengan persentase 80% diberikan untuk Malaysia.

Dalam riset itu dijelaskan berbagai hal yang menyebabkan warga Indonesia gemar berobat ke luar negeri, yakni mulai mutu pelayanan yang lebih baik, kecanggihan teknologi, ketepatan diagnosis, hingga biaya yang lebih murah.

Sebelumnya, Ketua Bidang Advokasi Lembaga Legislatif PB IDI dr Mariya Mubarika menyebut ada empat masalah utama mengapa Indonesia belum menjadi medical tourism, yakni kualifikasi world class untuk dokter dan rumah sakit, pajak yang besar untuk bahan baku obat dan alkes, regulasi tidak kondusif, serta hitech dan riset kedokteran tertinggal. Hal itu perlu dilakukan pemerintah untuk dapat kembali menarik warga Indonesia lebih mengutamakan berobat di dalam negeri. (Rif/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More