Kamis 03 Oktober 2019, 20:11 WIB

NasDem: Politik Gagasan Bukan Hanya Penghias Demokrasi

Putra Ananda | Politik dan Hukum
NasDem: Politik Gagasan Bukan Hanya Penghias Demokrasi

MI/ Susanto
Willy Aditya

 

POLITIK gagasan bukan sekedar instalansi kemewahan dalam demokrasi. Berdirinya Republik Indonesia diawali melalui politik gagasan yang dibawa oleh para founding fathers bangsa baik itu Soekarno maupun Tan Malaka dan Sutan Syahrir.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh politisi NasDem Willy Aditya dalam acara seminar diskusi terbuka bertajuk "Politik Gagasan di Era Post Ideologi". Seminar ini merupakan rangkaian persiapan untuk memeriahkan kongres ke-II Partai NasDem yang akan berlansung November tahun ini.

"Politik gagasan itu tak sekadar instalasi kemewahan, bukan hanya gimik," ujar Willy

Willy menilai, esensi politik tidak hanya terus menerus berbicara tentang kemenangan. Sebaliknya, politik justru harus merealisasikan tujuan pembangunan dan kemajuan bangsa. Willy menyebut NasDem hadir untuk meberikan keadilan dan kebahagiaan pada masyarakat.

"Sampai ke Gedung Senayan yang harusnya membicarakan kebijakan namun orang hanya bicara kemenangan. Hanya berpikir how to defend my position," ujarnya.

Sementara, dosen ilmu politik di Universitas Paramadina, Djayadi Hanan menambahkan, fokus ke politik gagasan ini bisa ditempuh oleh NasDem. Namun beberapa tantangan harus dilewati. Misalnya bagaimana menghadirkan partai di tengah masyarakat.

"Bukan soal ada atau tidak ada gagasan, tapi membangun jembatan kepercayaan antara partai dan masyarakat, saya setuju itu harus dimulai dari partainya," kata Djayadi.

Dia melihat politik gagasan harus ditanamkan lebih komprehensif. Misalnya, bagaimana NasDem memulai analisis praktikal tentang gagasan selama tiga tahun ke depan. Di tahun keempat dan kelima, partai bisa melihat gagasan apa yang diterima masyarakat.

Hal tersebut, kata dia, memunculkan pertanyaan lebih awal tentang model gagasan yang bakal diterima masyarakat. Artinya, NasDem perlu menginventarisasi gagasan-gagasan apa saja yang dibutuhkan konstituen.

Kedua, bagaimana mengemas gagasan itu dalam rumusan yang lebih konkret. Misalnya melalui kebijakan publik. Djayadi mencontohkan dari segi pendidikan, mengenai presentase buta huruf yang kecil,tetapi tingkat pendidikan masih rendah.

"Artinya reformasi model pendidikan apa yang mau digagas partai NasDem. Jadi kebijakan publik macam apa yang mau diadvokasi NasDem," kata dia. (OL-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More