Kamis 03 Oktober 2019, 17:20 WIB

Iluni FKUI: Pascakerusuhan Wamena, Situasi di Papua Sudah Kondus

Indriyani Astuti | Humaniora
 Iluni FKUI: Pascakerusuhan Wamena, Situasi di Papua Sudah Kondus

ANTARA/Iwan Adisaputra
Sejumlah pedagang berjualan di Pasar Sinakma, Wamena, Papua, Rabu (2/10).

 

PASCAKERUSUHAN di Wamena, Papua, Ikatan Alumni (Iluni) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang bertugas sebagai tenaga kesehatan di Papua dan Papua Barat mengaku situasi di sejumlah wilayah sudah kondusif. 

Hal itu diutarakan dalam acara temu media  bertema “Kondisi Dokter di Papua Pasca Kerusuhan di Wamena” di Ruang Senat, FKUI, Salemba, Jakarta, Kamis (3/10).

Dr. Samuel Baso, SpPD, RS Provita Jayapura yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Kota Jayapura, Papua menuturkan kerusuhan memang terjadi di Wamena di Papua dan Manokwari, Papua Barat, tetapi kondisinya tidak seperti yang diberitakan di media. Ia mengungkapkan rekan-rekan sejawat dokter yang juga alumi FKUI mengaku situasi tempat mereka bertugas kini sudah kondusif.

Sebagai tenaga kesehatan, mereka tetap berkomitmen memberikan pelayanan kepada masyarakat di tempat bertugas. Meskipun ada beberapa dokter yang memang ingin keluar dari Wamena pascakerusuhan,  pemerintah daerah dan aparat menjamin keselamatan tenaga kesehatan.

"Sebagai Ketua IDI Daerah, para dokter yang bertugas sebaiknya mengenakan identitas sebagai dokter agar dikenali," ujarnya dalam telekonferensi di FKUI, Salemba, Jakarta, Kamis (3/10). 

Turut hadir Dekan FKUI Prof. Ari Fahrial Syam, Ketua Iluni FKUI Prof. dr. Budi Sampurna, SH, DFM, SpF(K), SpKP dan perwakilan dari ILUNI UI.

Seperti yang diberitakan, kerusuhan di Wamena membuat seorang tenaga kesehatan yaitu dokter Soeko Marsetiyo meninggal dunia. Ia adalah dokter pegawai tidak tetap (PTT) daerah yang bertugas di Puskesmas Nabunage Kabupaten Tolikara sejak 2013.

Diakui dr. Samuel jaminan keselamatan bagi dokter dan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan pada masyarakat oleh pemerintah daerah sangat penting.

Lebih jau, dr. Andreas Pekey, Sp.PD, RSUD Nabire, Alumni FKUI dan kini menjadi Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire, Papua yang turut hadir dalam telekonferensi menyampaikan, Papua memiliki masalah khusus tidak bisa disamaratakan dengan wilayah lain di Indonesia. 

Permasalahan Papua tidak hanya jaraknya yang jauh dari pemerintahan pusat. Ada karakteristik sosial, ekonomi, geografis yang membuat Papua menjadi daerah otonomi khusus.

Sebagai putera asli Papua, dr. Pekey menuturkan masyarakat di Papua memberikan penghargaan tinggi terhadap tenaga kesehatan seperti para guru, dokter dan lainnya.

"Sebab mereka yang akan merawat ketika sakit," ucapnya.

Ia mengakui pada era derasnya arus informasi seperti saat ini, banyak kabar tidak benar (hoaks) yang membuat isu disintegrasi di Papua. Menurutnya hal itu harus diklarifikasi.

"Banyak berita mencengkam soal Papua tapi tidak seperti itu," ucapnya.

Terkait kerusuhan di Wamena pada 19 September 2019 dan isu eksodus, dr. Pekey mengatakan Wamena berlokasi di Pegunungan Tengah, sehingga wajar ketika banyak orang ingin keluar dari sana pascakerusuhan. Sebab mereka memikirkan ketersediaan makanan dan logistik lainnya, sehingga isu eksodus tidak terkait langsung dengan disintegrasi.

Baca juga: Situasi Kondusif, Ekonomi Wamena Mulai Bangkit

Sementara itu, dr. Rishka Purniawati, alumni FKUI yang menjadi tenaga kontrak BLUD di RSUD Manokwari, Papua Barat menyampaikan ricuh sempat terjadi tetapi hanya lima hari, setelah itu situasi aman kembali. Menurut pengakuannya, pemerintahan daerah menambah personel keamanan dari luar Papua hingga 1 Desember 2019.

"Saat ricuh saya bertugas di RSUD yang berada di seberang kantor DPRD Manokwari, pelayanan di fasilitas kesehatan tidak terganggu," ucapnya.

Dekan FKUI Prof. Ari menuturkan meskipun kondisi di Wamena dikabarkan rusuh, tapi di wilayah lain tidak seperti itu. Para dokter alumni FKUI yang ada di Papua, berkomitmen tetap memberikan pelayanan pada masyarakat.

"FKUI dengan nama Indonesia, tetap menjadi juru bangsa dan alumni siap bertugas dimanapun. Tetap berada di tanah Papua untuk menolong masyarakat Papua," tutur Prof. Ari.

Prof. Budi menyampaikan Iluni FKUI telah bicara pada Kementerian Kesehatan agar keselamatan para tenaga kesehatan tetap dijamin. Ia menuturkan Papua masih membutuhkan tenaga kesehatan terutama dokter karena terdistribusi dengan baik.

Iluni FKUI, imbuhnya, memberikan apresiasi pada rekan sejawat dokter yang masih berkenan memberikan pelayanan saudara-saudara yang tinggal di Papua dan Papua Barat.

"Kita satu bangsa dan memberikan pelayanan kepada mereka. Kita berharap kondisinya lebih baik dan lebih aman," tukasnya. (A-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More