Kamis 03 Oktober 2019, 16:40 WIB

Berisi Detergen hingga Paku, 29 Bom Ikan Miliki Daya Ledak Tinggi

Tri Subarkah | Megapolitan
Berisi Detergen hingga Paku, 29 Bom Ikan Miliki Daya Ledak Tinggi

ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Argo Yuwono

 

KEPOLISIAN menegaskan sebanyak 29 barang bukti berupa bom rakitan yang diamankan terkait rencana aksi pembuat kerusuhan (chaos) pada 28 September 2019 bukan berjenis molotov.

"Bukan bom molotov ya. Itu bom ikan yang di dalamnya ada paku," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, Kamis (3/10).

Dari hasil penyelidikan, lanjut Argo, Abdul Basith yang merupkan dosen IPB University memberikan dana untuk mendatangkan dua ahli pembuat bom ikan tersebut dari Papua dan Ambon.

"Dibiayai tiketnya. Ada delapan juta yang diberikan," imbuh Argo.

Sementara itu, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra menjelaskan bom rakitan yang dibuat dari botol bekas minuman suplemen tersebut memiliki daya ledak dan hancur yang luar biasa.

"Mohon dipahami, ini bukan bom molotov seperti biasa. Tetapi ini bom yang memang berdaya ledak, tidak sesederhana bom molotov. Ini adalah bom yang dirakit memiliki daya peledak," terang Asep.

Baca juga: Dosen IPB Diduga Siapkan Bom Molotov

Ia juga menyebut unsur-unsur bahan peledak dalam barang bukit tersebut, yakni sumbu sebagai pemicu, bubuk atau serbuk korek api, deterjen lada dan paku.

"Jadi bisa diandaikan bahwa ini meledak, maka daya hancurnya lebih tinggi. Tidak sesederhana bom molotov. Dampak pecahan kaca menjadi bagian yang membahayakan, demikian juga paku-paku di sekitar botol tersebut," papar Asep.

Terkait rencana penangguhan penahanan yang akan diajukan Abdul Basith, Argo menyebut itu merupakan hak tersangka.

"Apakah dikabulkan atau tidak itu akan jadi hak daripada penyidik. Apakah sudah selesai pemeriksaannya, apakah masih dibutuhkan keterangannya dan sebagainya. Semua jadi wewenang penyidik," tutup Argo.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More